Thursday, June 20, 2013

Benny Josua Mamoto

Benny Josua Mamoto ;

       SI TUAMA LE’OS DARI NEGERI KAWANUA



Sosok yang satu ini, sudah tak diragukan lagi kapasitas, dan komitmennya memberi diri untuk mengabdi dalam bidang seni budaya di daerah Sulawesi Utara. Sebagai bukti utama yang tak bisa lagi dipungkiri, Benny Josua Mamoto (BJM) telah mendirikan sebuah wadah yang bernama Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) dengan program-program dan kegiatannya yang spektakuler bukan hanya mewarnai langit di ujung utara pulau Celebes, tapi sudah bernyanyi di jagat raya dunia internasional.

Mencatatkan atau memasukkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guinness World Records (GWR) segala bentuk seni budaya yang ada di Provinsi Sulawesi Utara, sudah menjadi kesepakatan diri seorang BJM atas kecintaannya terhadap tanah leluhur.
 Tou-Kawanua ini melakukannya bukan karena termotivasi untuk merebut sesuatu kekuasaaan yang namanya ”kadera”, atau cari muka?
Sungguh.., tidak demikian. Sekali lagi tidak seperti itu. Tidak seperti suara-suara yang pernah disemburkan ”kalangan tertentu” pada dirinya. Apalagi di tengah-tengah suhu politik PILGUB provinsi Sulawesi Utara 2010 semakin panas membara, karena persaingan yang (tampaknya) sudah mengarah pada situasi dan suasana tidak sehat. Mau bukti ? Lihat saja baliho-baliho yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan, ada yang memang sengaja di tusuk matanya, di mutilasi oleh tangan-tangan yang menaruh benci terhadap tokoh yang bersangkutan ?
“Saya hanya menjalankan amanat dari orang tua terutama dari ayah, untuk pulang kampung dan bangun daerah ini melalui seni dan budaya”. Begitu kata Komisaris Besar Polisi yang bergelar Doktor di bidang ilmu hukum dan kriminalitas, yang sampai detik inipun tampaknya tak bisa tidur lelap, pabila apa-apa yang telah melintas di dalam benaknya belum tertata rapih melalui sebuah rencana kerja yang matang, hingga menjadi sebuah agenda yang harus diwujudkan.
Dihadapan penulis, bukan hanya satu atau dua kali saja, Pak Benny membantah dengan tegas kalau aktifitas dan berbagai agenda kegiatan yang diprakarsainya selama ini, bertujuan untuk menaruh benih-benih agar supaya mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk maju mencalonkan diri sebagai orang nomor 1 atau nomor 2 di tanah yang disebut-sebut sebagai pintu gerbang Asia Pasifik.
”Niat saya luhur, tidak lain mengangkat citra seni budaya Sulawesi Utara baik di mata Nasional maupun dunia Internasional. Dan biarlah apa-apa yang telah, dan akan saya lakukan boleh menjadi sebuah catatan sejarah bagi generasi berikutnya, bahwa nilai-nilai seni dan budaya kita perlu digali, diangkat, dijaga atau dipelihara, dikembangkan dan dipublikasikan, agar supaya mata dunia akan tertuju di daerah kita sendiri”.” Kata Tuama Le’os berdarah Minahasa, sambil mengajak agar supaya mencitai produk seni budaya daerah kita sendiri.
Apa-apa yang sementara di kerjakan suami dari Iyarita Wiryawati Mawardi ini, sebenarnya sudah merupakan wujud nyata kerja kerasnya dalam usaha meningkatkan pembangunan di berbagai sektor. Bahwa dari segi ekonomi, sangat memungkinkan hasil karya seni budaya yang ada di Sulawesi Utara ini menjadi sebuah industri yang bisa dikelola seprofesional mungkin hingga bisa membantu meningkatkan pendapatan daerah. Disamping itu dapat pula memberdayakan berbagai kreatifitas dari warga masyarakat agar tercipta lapangan kerja baru.
Bagi dunia pendidikan, sudah sangat jelas ada pengaruhnya terhadap anak-anak sekolah yang diikutsertakan dalam festival musik kolintang dan maengket, apalagi sudah ada kelompok-kelompok seni yang sampai saat ini menjadi kelompok binaan. Bukankah hal ini punya nilai-nilai positif dalam rangka menanamkan kesadaran bagi generasi muda yang ada di Sulawesi Utara, agar bisa belajar dan mencintai hasil karya seni budaya yang telah diwariskan hingga saat ini? Bahkan dari hasil-hasil karya yang sudah ada selama ini, bisa menjadi sebuah inspirasi dalam melahirkan karya-karya baru.
Bagi penulis, kalau saja yang akan menjadi Gubernur, di daerah Nyiur Melambai ini adalah seorang tokoh yang benar-benar tau persis dan mencintai seni budayanya sendiri (seperti BJM), maka wajah Sulawesi Utara benar-benar akan menampakkan wajahnya sendiri. Tidak seperti di hotel-hotel berbintang yang ada sekarang ini, telah berdiri megah di Tanah Adat Minahasa Raya, tapi sayang sekali pintu gerbangnya, pilar-pilarnya, kamar-kamarnya dan segala sudut-sudutnya menyajikan ornamen-ornamen dan segala macam tetek-bengek asesoris patung-patung, totem-totem serta lukisan-lukisannya justru bernuansa Jawa dan Bali.
Mengakhiri tulisan ini, penulis sebagai pekerja seni di Tanah Adat Minahasa Raya sangat berbangga dan ikut mendukung, memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya pada Benny Josua Mamoto (BJM) atas segala kegiatan seni budaya yang diprakarsainya selama ini.
Beberapa kegiatan yang diantaranya Pelaksanaan Festival Seni Budaya Sulawesi utara di Watu Pinawetengan pada setiap tanggal 7 juli yang sudah menjadi agenda tetap, sangat diharapkan mendapatkan dukungan dan apresiasi positif dari berbagai pihak, dan biarlah kegiatan-kegiatan semacam ini akan menjadi sebuah momentum bagi kita sebagai orang-orang yang ada di provinsi Sulawesi Utara yang mungkin tinggal akan menjadi sebuah catatan sejarah lagi, karena kemungkinan besar akan terwujud sebuah pemekaran, dimana para politikus, dan para ”pejuang” akan berusaha sedapat mungkin menjadikan provinsi Nusa Utara, dan Minahasa Raya?
Dan sebagai TOU Minahasa yang sebenarnya diberkati karena memiliki kekayaan yang luar biasa, termasuk potensi seni budaya yang sangat tinggi nilainya, dimana kita sudah saatnya berkaca diri dan bersikap arif menatap ke depan sambil menjaga dan melestarikan karya-karya seni budaya yang sudah ada sejak dahulu kala. Bukan merusak dan memusnahkan sama seperti yang telah dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab terhadap Karya Relief Seniman Alexander Bastian Wetik dkk yang ada di Auditorium Bukit Inspirasi, dan perusakan Waruga-Waruga yang ada di Negeri Kakaskasen dan Lansot Tomohon dengan dalih pemugaran.
Sulawesi Utara pada umumnya, dan Minahasa Raya khususnya mesti berbangga atas hadirnya seorang BJM yang tiada henti-hentinya, bukan hanya sekedar memikirkan nasib seni budaya di daerah ini, tapi seutuhnya atas keikhlasan dan kepeduliannya yang luhur memberi dan mengabdikan diri bagi tanah ini, dan yang pasti kita juga akan menyaksikan lagi kegiatan-kegiatan spektakuler lainnya yang akan tercatat di dalam buku MURI atau Guiness World Record.

Penulis;
Pekerja Seni dan Dosen di Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado di Tondano
Tinggal di Kelurahan Kakaskasen III Tomohon Utara.

1 comment:

Kota Tondano

Kota Tondano merupakan ibukota Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Kota Tondano meliputi empat dari 19 kecamatan yang ada di Kab...