Thursday, October 3, 2013

Kota Bitung


Bitung - Kota Cakalang


Monumen Cakalang Bitung
Kota Bitung 
berjarak 45 kilometer dari Manado –terletak di Timur Laut Tanah Minahasa, dengan wilayah yang terdiri dari daratan –berada di kaki gunung Duasudara dan sebuah pulau yang bernama Lembeh. Memang, Bitung kota pelabuhan yang bersuhu panas. Namun demikian, beberapa kali kota ini menyabetAdipura atas kebersihan dan tata kota yang baik. Banyak penduduk Kota Bitung yang berasal dari suku Sangir, sehingga kebudayaan yang ada di Bitung tidak terlepas dari kebudayaan yang ada di wilayah Nusa Utara tersebut. Kota Bitung berada pada posisi geografis di antara: 1o23'23"-1o35'39" Lintang Utara dan 125o1'43"-125o18'13" Bujur Timur dengan luas wilayah daratan 304 km2. Kota Bitung disebut juga sebagai Kota Cakalang –ikan cakalang; tenggiri; tongkol dan ikan kembung merupakan keluarga dari ikan tuna atau Kota Tiga Dimensi –merupakan pusat industri, pusat pelabuhan dan juga kota wisata.
Batas wilayah Kota Bitung:
Sebelah Barat: dengan Kabupaten Minahasa Utara
Sebelah Timur: dengan Laut Maluku
Sebelah Utara: dengan Kabupaten Minahasa Utara
Sebelah Selatan: dengan Laut Maluku
Wilayah Kota Bitung terbagi dalam 8 kecamatan, yaitu: Kecamatan Aertembaga; Kecamatan Girian; Kecamatan Lembeh Selatan; Kecamatan Lembeh Utara; Kecamatan Madidir; Kecamatan Maesa; Kecamatan Matuari; dan Kecamatan Ranowulu.
Dari aspek topografis, sebagian besar daratan Kota Bitung berombak berbukit 45,06%, bergunung 32,73%, daratan landai 4,18% dan berombak 18,03%. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat, merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0-150 –sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan, industri, perdagangan dan jasa.
.Di bagian Utara keadaan topografi semakin bergelombang dan berbukit-bukit yang merupakan kawasan pertanian, perkebunan, hutan lindung, taman margasatwa dan cagar alam. Di bagian Selatan terdapat Pulau Lembeh yang keadaan tanahnya kasar ditutupi oleh tanaman kelapa, hortikultura dan palawija. Disamping itu, memiliki pesisir pantai yang indah sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.
Sebagian besar penduduk Kota Bitung berasal dari suku Minahasa dan suku Sangihe –terdapat juga komunitas etnis Tionghoa yang besar di Bitung. Para pendatang yang berasal dari suku Jawa dan suku Gorontalo juga banyak ditemui di Bitung, dimana sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pedagang.
Sebagian besar penduduk Kota Bitung memeluk agama Kristen Protestan, penduduk Kota Bitung yang berasal dari etnis Jawa dan Gorontalo memeluk agama Islam. Agama Katolik juga banyak dianut oleh penduduk Kota Bitung, sementara agama Konghucu dan Buddha banyak dianut oleh penduduk yang berasal dari etnis Tionghoa.
Miniatur Menara Eiffel di jantung Kota Bitung
Bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat Kota Bitung adalah bahasa Manado sebagai bahasa ibu dari sebagian besar penduduk Kota Bitung. Sementara itu, bahasa Sangihe digunakan oleh masyarakat suku Sangir yang ada di Kota Bitung.
Kebudayaan yang ada di Kota Bitung banyak dipengaruhi oleh budaya Sangihe dan Talaud –karena banyaknya penduduk yang berasal dari etnis Sangir. Contoh dari budaya Sangir dan Talaud yang ada di Bitung yaitu: Masamper –merupakan gabungan antara nyanyian dan sedikit tarian yang berisi tentang: nasihat, petuah, dan juga kata-kata pujian kepada Tuhan. Budaya Sangir lainnya yang bisa ditemui di Bitung yaitu: Tulude/Menulude. Tulude berasal dari kata Suhude yang berarti: Tolak. Maksud acara adat Menulude ialah memuji Duata/Ruata (Tuhan), serta mengucap syukur atas perlindungan-Nya.
Peta Kota Bitung, Sulawesi Utara
Perekonomian Kota Bitung di dominasi oleh sektor pertanian dan perkebunan. Namun dalam perkembangannya sektor industri ternyata berkembang cukup pesat dan mencapai nilai tertinggi –industri di Kota Bitung di dominasi oleh: industri perikanan, galangan kapal dan industri minyak kelapa. Bertumbuhnya sektor industri sangat membantu perekonomian dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk –terutama dengan terserapnya tenaga kerja, begitu pula dari sisi permodalan dimana peningkatan jumlah perusahaan diikuti pula dengan peningkatan nilai investasi.
Pada Tahun 2004 sektor angkutan/transportasi dan komunikasi memberikan kontribusi paling besar dalam perekonomian di Kota Bitung. Sebagai kota pelabuhan, sarana transportasi di Kota Bitung cukup memadai. Transportasi laut menghubungkan daerah daratan dengan Pulau Lembeh. Pelabuhan Bitung terdiri dari pelabuhan penumpang dan pelabuhan peti kemas. Pelabuhan Bitung merupakan satu-satunya pelabuhan di Sulawesi Utara yang disinggahi dan dilabuhi oleh kapal-kapal penumpang antar kota-kota besar di Indonesia. Sarana tranportasi darat yang ada di Kota Bitung adalah mikrolet –sebagai angkutan perkotaan dan bus –sebagai angkutan antarkota, seperti: bus trayek Bitung-Manado, Bitung-Tondano, Bitung-Gorontalo, Bitung-Tolitoli dan Bitung-Palu.Disamping itu juga, ada industri makanan; baja; serta industri menengah dan kecil.

Asal Nama Bitung
Bitung diambil dari nama sebuah pohon –pohon Witung yang banyak tumbuh di daerah utara Jazirah Pulau Sulawesi. Penduduk yang pertama yang memberikan nama Bitung adalah Dotu Hermanus Sompotan (Nicodemus Sompotan) yang dalam bahasa daerah disebut dengan gelar Tundu'an atau pemimpin. Dotu Hermanus Sompotan tidak sendirian tetapi pada saat itu dia datang bersama dengan: Dotu Rotti; Dotu Wullur; Dotu Ganda; Dotu Katuuk; serta Dotu Lengkong –semuanya berasal dari Suku Minahasa, etnis Tonsea. Pengertian kata Dotu adalah orang yang dituakan atau juga bisa disebut sebagai gelar kepemimpinan pada saat itu, sama seperti penggunaan kata Datuk bagi orang-orang yang ada di Sumatera –Dotu sebenarnya hanya untuk bertugas untuk meregristrasi penduduk, dan mencatat hasil kebun milik pemerintah Belanda. Mereka dikenal dengan sebutan 6 Dotu Tumani Bitung, membuka serta menggarap daerah tersebut agar menjadi daerah yang layak untuk ditempati –timani/tumani adalah penjaga kebun/tanah yang dimiliki oleh pemerintah Belanda pada saat itu. Ke-6 Dotu Tumani Bitung tersebut berasal dari suku Minahasa, etnis Tonsea. Nicodemus Sompotan dan istrinya Sabina Lontoh yang datang ke tempat itu –disebut sebagai Dotu Tunggal Tumani Bitung, ini terjadi di tahun 1800an.
Daerah pantai yang baru ini ternyata banyak menarik minat orang untuk datang dan tinggal menetap sehingga lama kelamaan penduduk Bitung mulai bertambah. Sebelum menjadi kota, Bitung hanyalah sebuah desa yang dipimpin oleh Arklaus Sompotan (Elias Lontoh Sompotan, anak pertama Nicodemus Sompotan) sebagai Hukum Tua –Lurah pertama desa Bitung pada tahun 1921dan memimpin selama kurang lebih 25 tahun –pada saat itu, Desa Bitung termasuk dalam Kecamatan Kauditan.
Dari Sekitar tahun 1940-an, para pengusaha perikanan yang mengusahakan Laut Sulawesi tertarik dengan keberadaan Bitung dibandingkan Kema –wilayah Kabupaten Minahasa Utara sekarang yang dulunya merupakan pelabuhan perdagangan, karena menurut pandangan mereka Bitung lebih strategis dan bisa dijadikan pelabuhan pengganti Kema.
Seiring dengan perkembangan Bitung sebagai suatu kawasan yang strategis serta jumlah penduduk yang semakin bertambah dengan pesatnya maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1975 tanggal 10 April 1975, Bitung diresmikan sebagai Kota Administratif pertama di Indonesia.

Destinasi Wisata
1.      Pelabuhan Bitung
Pelabuhan Bitung merupakan pelabuhan alam terbesar di Sulawesi Utara yang menjadi tempat berlabuhnya berbagai jenis kapal –baik kapal penumpang; kapal kargo; maupun kapal nelayan, dan juga terdapat Dermaga khusus milik Angkatan Laut RI.
Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung terletak di perairan laut Selat lembeh berhadapan dengan Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik di sebelah utara pulau Sulawesi. Pengembangan Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung dicanangkan pada tanggal 18 juli 2001 oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid. Peletakan batu pertama pelaksanaan pembangunan oleh Walikota Bitung pada tanggal 16 September 2002 dengan membangunan fasilitas dermaga, gedung kantor pelabuhan, tempat pelelangan ikan, jalan, serta kios pesisir dengan lahan seluas 4,6 Ha. Ujicoba operasional pelabuhan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. DR. Rochmin Dahuri pada tanggal 10 September 2004 dan pada tanggal 10 Desember 2005 ditetapkan sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara Bitung melalui Surat Keputusan Menpan Nomor: B/2712/M.Pan/12/2005. Peningkatan status Pelabuhan Perikanan Nusantara Bitung menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung terjadi pada tanggal 6 Oktober 2008 melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.19/MEN/2008.
2.      Selat Lembeh
Selat Lembeh Bitung
Selat sepanjang 16 kilometer dengan lebar 1-2 kilometer ini memiliki 88 spot penyelaman yang tak kalah indah dibanding dengan Taman Nasional Laut Bunaken. Beraneka biota laut akan menyajikan pemandangan yang menarik –termasuk ribuan jenis ikan seperti Mimic Octopus yang hanya ada di Lembeh. Satwa laut unik seperti mimic octopus ini, bisa meniru belut ular. Juga dapat ditemui lion fish dan masih banyak lagi, menyelampun dilatari dengan pasir hitam yang berbinar dan terumbu karang yang menyatu seirama dengan kedalaman laut. Selain itu, Selat Lembeh dikenal sebagai 'muck-diving' terbaik di dunia. Perairan ini penuh dengan critter laut yang luar biasa, banyak di antaranya sangat ahli menyamar.

Taksi Perahu beratap rendah
3. Dermaga Ruko Pateten
Merupakan dermaga super sibuk untuktaksi perahu (kapal motor yang bisa disewa di Dermaga Ruko Pateten, berkapasitas sekitar 10-15 orang) menuju desa-desa yang ada di Pulau Lembeh dan juga tempat menambatkan perahu nelayan. Dermaga inilah akses menuju spot-spot penyelaman. Dermaga Ruko Pateten –yang terletak di bagian belakang kompleks Ruko Pateten adalah dermaga yang digunakan oleh para penumpang yang ingin mengunjungi tempat-tempat di sekitar Selat Lembeh, kota Bitung, Sulawesi Utara –baik untuk tujuan wisata maupun untuk tujuan lainnya.
4.      Taman Marga Satwa Tandurusa
Tam
Tarsius Tarsier Tandurusa Bitung
 an Marga Satwa Tandurusa berlokasi di Aertembaga Bitung, di taman ini dapat dijumpai primata terkecil di dunia, yakni: Tarsius –tarsius tarsiermerupakan monyet kecil dengan mata besar dan tidak pernah menutup yang hanya terdapat di Pulau Sulawesi.
 Taman Marga Satwa Tandurusa jaraknya sekitar 100 meter dari jalan utama, di tepian Selat Lembeh. Berbeda dengan jenis monyet yang lain, Tarsius adalah penganut monogami yang setia –dan konon jika yang satu meninggal, maka pasangannya tetap akan hidup sendiri sampai ia menyusul ke alam baka. Mata Tarsius yang besar dan tidak pernah menutup, namun bintik hitamnya akan membesar ketika malam tiba, membuatnya mampu melihat dengan jelas dalam kegelapan untuk mencari mangsanya, yang berupa serangga. Tarsius memang merupakan binatang malam, yang hanya aktif pada saat hari gelap.
Taman Marga Satwa Tandurusa, Bitung Sulut.
5.      Suaka Alam Gunung Batu Angus dan Gunung Tangkoko
Kawasan Suaka Alam Batu Angus berada di Kelurahan Makawidey Kecamatan Aertembaga, sementara Gunung Tangkoko berada di wilayah Kelurahan Batu Putih, Kecamatan Ranowulu. Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus adalah cagar alam di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Cagar alam seluas sekitar 8.745 hektare ini merupakan tempat perlindungan monyet hitam sulawesi dan Tarsius. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Batuputih dan Taman Wisata Alam Batuangus. Secara geografis, cagar alam ini berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Duasudara. Kawasan cagar alam ini dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara.
Tarsius, Bitung.
Kehidupan satwa liar di kawasan Tangkoko sudah diketahui secara luas dan dikunjungi oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1861. Di Tangkoko, Wallace mengumpulkan spesimen Babirusa dan Maleo yang waktu itu sangat mudah dijumpai. Ketika itu, pasir hitam di pantai Tangkoko merupakan tempat bersarang dan penetasan telur Maleo. Akibat eksploitasi oleh penduduk setempat, koloni Maleo di pantai Tangkoko tidak lagi ditemukan pada tahun 1915, dan hanya tersisa sejumlah kecil koloni di pedalaman. Kawasan Tangkoko pertama kali ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sebagai hutan lindung pada tahun 1919 berdasarkan GB 21/2/1919 stbl. 90, dan diperluas pada tahun 1978 dengan ditetapkannya Cagar Alam Duasudara (4.299 hektare) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 700/Kpts/Um/11/78. Pada 24 Desember 1981, Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1049/Kpts/Um/12/81 menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus. Surat keputusan yang sama menetapkan kawasan seluas 615 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Kelurahan Batuputih sebagai Taman Wisata Batuputih, dan kawasan seluas 635 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian sebagai Taman Wisata Alam Batuangus.
Monyet Hitam, Bitung Sulut.
Cagar Alam Tangkoko merupakan benteng terakhir bagi Populasi monyet endemik Sulawesi yang nama latinnya Macaca Nigra atau dikenal dengan Yaki Panta Merah (monyet jambul hitam).
 Yaki (macaca nigra) dikenal merupakan binatang penyebar biji yang baik –sebagai ‘petani’ dalam hutan, Yaki menjadi salah satu kunci ekologi dari suatu ekosistem. Yaki juga merupakan ‘flagship’ penting sebagai perwakilan dari keanekaragaman hayati daerah Sulawesi.













6.      Monumen Trikora Mandala Sakti
Monumen TMS dengan latar depan sayap Pesawat DC-3 Bitung
Monumen Trikora Mandala Sakti terletak di Batu Lubang –tepian Pulau Lembehmerupakan monumen sejarah Perang Dunia II. Terlihat dengan sangat jelas dari daratan Bitung seakan menyampaikan ucapan selamat datang di Pulau Lembeh –ini karena Selat Lembeh yang panjangnya 16 km dan memisahkan kota Bitung dengan Pulau Lembeh ini hanya selebar 1-2 km, dan jarak dari Pelabuhan Bitung ke Pulau Lembeh ini merupakan salah satu lokasi dengan jarak yang terpendek.
7.      Lokasi Perang Dunia II
Berupa lokasi karamnya kapal sewaktu Perang Dunia II –sangat tepat untuk penyelaman, berada di dua lokasi yakni: di bawah laut Kelurahan Mawali Lembeh Utara dan di bawah Laut depan Bimoli Kecamatan Madidir. Mawali merupakan salah satu desa yang memiliki reputasi internasional ketika menerima penghargaan dari WHO –atas rintisan secara swadaya program yang menjadi cikal-bakal Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) di Indonesia. Kelurahan ini juga merupakan salah satu tujuan wisata selam dengan beberapa cottage dan titik penyelaman seperti Mawali Wreck.
8.      Gunung Duasudara
Gunung kembar yang berada di Kecamatan Ranowulu (12 Km Dari Pusat Kota Bitung) ini sangat tepat bagi penyuka wisata alam tracking dan hiking. Gunung Duasudara (1.351 meter dpl)
9.      Airprang
Airprang berada di Kelurahan Makawidey, Aertembaga –merupakan sumber air bersih bagi penduduk di sekitar Pulau Lembeh dengan formasi 300 lebih anak tangga.
10.  Pantai-pantai yang indah dengan Pasir Putih
Terdapat beberapa pantai indah dengan pasir putihnya, di antaranya: Pantai Millenium, Pantai Batu Putih, Pantai Langi, Pantai Tanjung Merah, Pantai Pasir Panjang, Teluk Kasuari, Teluk Kungkungan dan Teluk Walenekoko.

Penulis:  Ai Riana, A.Ks.

Kota Tondano

Kota Tondano merupakan ibukota Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Kota Tondano meliputi empat dari 19 kecamatan yang ada di Kab...