Wednesday, June 26, 2013

Pulau Lembe - Bitung, Sulawesi Utara

Pulau Lembeh Milik Siapa ?


IDENTITASnews (Minahasa) - ALKISAH pada zaman dahulu kala di abad ke- 14 di pulau Sangihe hidup sorang pria yang bernama "Ungke Hengkengunaung". Konon Hengkengunaung, merupakan laki-laki yang berpostur tubuh tinggi besar dan memiliki ilmu kekebalan tubuh.
Di masa itu, Hengkengunaung mempunyai hubungan erat dengan 9 (sembilan) walak yang ada di tanah Minahasa. Di era itu, banyak orang-orang Mindanau atau yang lebih dikenal dengan bajak laut (perompak) ingin masuk menguasai tanah Minahasa. Di abad yang sama inilah, para perompak-perompak itu berlayar menuju daratan Toar Lumimuut dengan menggunakan perahu melewati jalur laut pulau Sangihe.

SAAT itu beberapa anak buah "ungke" Hengkengunaung, terkejut melihat ada sekelompok besar perahu yang melayani dan melewati laut Sangihe, yang menjadi wilayah kekuasaan Hengkengunaung. Ternyata setelah diselidiki oleh anak buah Hengkengunaung terlihat kekuatan perompak di perkirakan 30 armada perahu dilengkapi kurang lebih 300 personil perompak.

Peristiwa itu langsung dilaporkan kepada Hengkengunaung. Tanpa tendeng aling-aling ungke, Hengkengunaung langsung menggerahkan pasukannya menuju Manado. Saat itu perkiraan mereka meleset, ternyata pasukan Mindanau berlabuh di pantai Tondano (Kapataran) dimana pantai tersebut saat ini dinamakan pantai kora-kora yang diambil dari ke 30 nama perahu tersebut, sebab perahu yang ditumpangi para perompak itu namanya Kora-kora.
Kekuatan pasukan Mindanau saat itu sudah menguasai wilayah Tondano. Pasukan Hengkengunaung bergerak menyelusuri lembah dan bukit-bukit menuju wilayah Tomohon dan bertemu dengan pasukan Mindanau diantara Tomohon dan Tondano. Maka saat itu pula terjadi perang antara pasukan Hengkengunaung dan pasukan Mindanau.

Konon peperangan tersebut memakan waktu tujuh hari tujuh malam. Sehingga pasukan Hengkengunaung dengan dibantu oleh kesatria-kesatria dari Tondano dan Tomohon, berhasil memenangkan peperangan tersebut. Ketiga ratus pasukan Mindanau tewas ditempat. Tempat peperangan ini yang sekarang dinamakan Kasuang, (diambil dari bahasa Sangihe-red), "artinya, mayat-mayat bergelim-pangan". Setelah memperoleh kemenangan para walak Minahasa mengundang Hengkengunaung bersama pasukannya dalam acara kemenangan atas perompak yang diadakan di Tondano.
Acara itu diisi dengan tarian-tarian Cakalele, Maengket. Selanjutnya ke sembilan walak Tombulu, Tonsawang, Tolour, Tountemboan, Tonsea, Ponosakan, Pasan Ratahan, Bantik Minahasa dan Tombariri mengadakan rapat dalam rangka memutuskan untuk memberikan penghargaan kepada Hengkengunaung. Pertama-tama dalam keputusan rapat tersebut ditawarkanlah pada Hengkengunaung untuk dikawinkan dengan seorang gadis Minahasa. Selaku laki-laki normal, Hengkengunaung sangat ingin mempersunting gadis Minahasa, tapi begitu dia melihat pasukannya yang kelelahan, timbul rasa kemanusiaannya, karena saat itu Hengkengunaung berkeinginan memerlukan tempat beristirahat. Maka Hengkengunaung dengan kerendahan hati, dalam rapat para walak saat itu, memohon kalau bisa tawaran yang luar biasa tadi dapat diganti dengan sebuah tempat (tanah) untuk dijadikan tempat beristirahat bagi pasuksannya.
Rapat pun dilanjutkan dengan mempertimbangkan permintaan Hengkengunaung ini, saat itu disetujui oleh para walak-walak sebagai pimpinan rapat, dengan memberi sebagian tanah Minahasa yang belum dibagi itu kepada Hengkengunaung. Tanah tersebut adalah lembeh, "yang artinya tanah Sisa" untuk menjadi milik sebagai tanda terima kasih dari tou-tou Minahasa". 
Itulah kisah perjalanan sejarah pulau Lembeh yang kini masuk dalam wilayah pemerintahan Kota Bitung provinsi Sulawesi, yang adalah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai. 

(oleh Efraim Lengkong, tulisan ini diambil dari beberapa sumber dan dari hasil seminar culture, di manila Philipinnes, tahun 1999)

Thursday, June 20, 2013

Benny Josua Mamoto

Benny Josua Mamoto ;

       SI TUAMA LE’OS DARI NEGERI KAWANUA



Sosok yang satu ini, sudah tak diragukan lagi kapasitas, dan komitmennya memberi diri untuk mengabdi dalam bidang seni budaya di daerah Sulawesi Utara. Sebagai bukti utama yang tak bisa lagi dipungkiri, Benny Josua Mamoto (BJM) telah mendirikan sebuah wadah yang bernama Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) dengan program-program dan kegiatannya yang spektakuler bukan hanya mewarnai langit di ujung utara pulau Celebes, tapi sudah bernyanyi di jagat raya dunia internasional.

Mencatatkan atau memasukkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guinness World Records (GWR) segala bentuk seni budaya yang ada di Provinsi Sulawesi Utara, sudah menjadi kesepakatan diri seorang BJM atas kecintaannya terhadap tanah leluhur.
 Tou-Kawanua ini melakukannya bukan karena termotivasi untuk merebut sesuatu kekuasaaan yang namanya ”kadera”, atau cari muka?
Sungguh.., tidak demikian. Sekali lagi tidak seperti itu. Tidak seperti suara-suara yang pernah disemburkan ”kalangan tertentu” pada dirinya. Apalagi di tengah-tengah suhu politik PILGUB provinsi Sulawesi Utara 2010 semakin panas membara, karena persaingan yang (tampaknya) sudah mengarah pada situasi dan suasana tidak sehat. Mau bukti ? Lihat saja baliho-baliho yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan, ada yang memang sengaja di tusuk matanya, di mutilasi oleh tangan-tangan yang menaruh benci terhadap tokoh yang bersangkutan ?
“Saya hanya menjalankan amanat dari orang tua terutama dari ayah, untuk pulang kampung dan bangun daerah ini melalui seni dan budaya”. Begitu kata Komisaris Besar Polisi yang bergelar Doktor di bidang ilmu hukum dan kriminalitas, yang sampai detik inipun tampaknya tak bisa tidur lelap, pabila apa-apa yang telah melintas di dalam benaknya belum tertata rapih melalui sebuah rencana kerja yang matang, hingga menjadi sebuah agenda yang harus diwujudkan.
Dihadapan penulis, bukan hanya satu atau dua kali saja, Pak Benny membantah dengan tegas kalau aktifitas dan berbagai agenda kegiatan yang diprakarsainya selama ini, bertujuan untuk menaruh benih-benih agar supaya mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk maju mencalonkan diri sebagai orang nomor 1 atau nomor 2 di tanah yang disebut-sebut sebagai pintu gerbang Asia Pasifik.
”Niat saya luhur, tidak lain mengangkat citra seni budaya Sulawesi Utara baik di mata Nasional maupun dunia Internasional. Dan biarlah apa-apa yang telah, dan akan saya lakukan boleh menjadi sebuah catatan sejarah bagi generasi berikutnya, bahwa nilai-nilai seni dan budaya kita perlu digali, diangkat, dijaga atau dipelihara, dikembangkan dan dipublikasikan, agar supaya mata dunia akan tertuju di daerah kita sendiri”.” Kata Tuama Le’os berdarah Minahasa, sambil mengajak agar supaya mencitai produk seni budaya daerah kita sendiri.
Apa-apa yang sementara di kerjakan suami dari Iyarita Wiryawati Mawardi ini, sebenarnya sudah merupakan wujud nyata kerja kerasnya dalam usaha meningkatkan pembangunan di berbagai sektor. Bahwa dari segi ekonomi, sangat memungkinkan hasil karya seni budaya yang ada di Sulawesi Utara ini menjadi sebuah industri yang bisa dikelola seprofesional mungkin hingga bisa membantu meningkatkan pendapatan daerah. Disamping itu dapat pula memberdayakan berbagai kreatifitas dari warga masyarakat agar tercipta lapangan kerja baru.
Bagi dunia pendidikan, sudah sangat jelas ada pengaruhnya terhadap anak-anak sekolah yang diikutsertakan dalam festival musik kolintang dan maengket, apalagi sudah ada kelompok-kelompok seni yang sampai saat ini menjadi kelompok binaan. Bukankah hal ini punya nilai-nilai positif dalam rangka menanamkan kesadaran bagi generasi muda yang ada di Sulawesi Utara, agar bisa belajar dan mencintai hasil karya seni budaya yang telah diwariskan hingga saat ini? Bahkan dari hasil-hasil karya yang sudah ada selama ini, bisa menjadi sebuah inspirasi dalam melahirkan karya-karya baru.
Bagi penulis, kalau saja yang akan menjadi Gubernur, di daerah Nyiur Melambai ini adalah seorang tokoh yang benar-benar tau persis dan mencintai seni budayanya sendiri (seperti BJM), maka wajah Sulawesi Utara benar-benar akan menampakkan wajahnya sendiri. Tidak seperti di hotel-hotel berbintang yang ada sekarang ini, telah berdiri megah di Tanah Adat Minahasa Raya, tapi sayang sekali pintu gerbangnya, pilar-pilarnya, kamar-kamarnya dan segala sudut-sudutnya menyajikan ornamen-ornamen dan segala macam tetek-bengek asesoris patung-patung, totem-totem serta lukisan-lukisannya justru bernuansa Jawa dan Bali.
Mengakhiri tulisan ini, penulis sebagai pekerja seni di Tanah Adat Minahasa Raya sangat berbangga dan ikut mendukung, memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya pada Benny Josua Mamoto (BJM) atas segala kegiatan seni budaya yang diprakarsainya selama ini.
Beberapa kegiatan yang diantaranya Pelaksanaan Festival Seni Budaya Sulawesi utara di Watu Pinawetengan pada setiap tanggal 7 juli yang sudah menjadi agenda tetap, sangat diharapkan mendapatkan dukungan dan apresiasi positif dari berbagai pihak, dan biarlah kegiatan-kegiatan semacam ini akan menjadi sebuah momentum bagi kita sebagai orang-orang yang ada di provinsi Sulawesi Utara yang mungkin tinggal akan menjadi sebuah catatan sejarah lagi, karena kemungkinan besar akan terwujud sebuah pemekaran, dimana para politikus, dan para ”pejuang” akan berusaha sedapat mungkin menjadikan provinsi Nusa Utara, dan Minahasa Raya?
Dan sebagai TOU Minahasa yang sebenarnya diberkati karena memiliki kekayaan yang luar biasa, termasuk potensi seni budaya yang sangat tinggi nilainya, dimana kita sudah saatnya berkaca diri dan bersikap arif menatap ke depan sambil menjaga dan melestarikan karya-karya seni budaya yang sudah ada sejak dahulu kala. Bukan merusak dan memusnahkan sama seperti yang telah dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab terhadap Karya Relief Seniman Alexander Bastian Wetik dkk yang ada di Auditorium Bukit Inspirasi, dan perusakan Waruga-Waruga yang ada di Negeri Kakaskasen dan Lansot Tomohon dengan dalih pemugaran.
Sulawesi Utara pada umumnya, dan Minahasa Raya khususnya mesti berbangga atas hadirnya seorang BJM yang tiada henti-hentinya, bukan hanya sekedar memikirkan nasib seni budaya di daerah ini, tapi seutuhnya atas keikhlasan dan kepeduliannya yang luhur memberi dan mengabdikan diri bagi tanah ini, dan yang pasti kita juga akan menyaksikan lagi kegiatan-kegiatan spektakuler lainnya yang akan tercatat di dalam buku MURI atau Guiness World Record.

Penulis;
Pekerja Seni dan Dosen di Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado di Tondano
Tinggal di Kelurahan Kakaskasen III Tomohon Utara.

Wednesday, June 5, 2013

Pemusik Musik Kolintang, di Jakarta



Group Kolintang Profesional, di Jakarta;

Cikal bakal keberadaan grup-grup musik kolintang yang ada di Jakarta, adalah hijrahnya para pemusik kolintang dari Minahasa atau didatangi oleh para  keluarga/teman ataupun pengusaha asal Kawanua di Jakarta untuk melakukan pertunjukan2 dikalangan masyarakat kawanua sebagai pelengkap warna kedaerahan dan kerinduan tanah Minahasa di Jakarta pada acara-acara khusus maupun hiburan tersendiri. Namun pada kenyataannya, peminat dan perkembangan musik kolintang ini banyak diminati oleh masyarakat pada umumnya. Seperti contohn; grup kolintang Kadoodan dan The Mawenang's sebagai pioneer Kolintang Profesional  menjadi motivasi tersendiri untuk lahirnya grup-grup baru lain selanjutnya. 

Penulis berusaha menelusuri dan menguruti secara seksama jejak-jejak para pemusik kolintang selama ini, seperti Albert Runtunuwu [Kado'odan], Frans Ratag [The Mawenang's], Berty Lumopa [Scropio], Berthy Rarun dan Boy Makalew [Tamporok], Eddy Runtuwene [Makalelon], Herry Kussoy [Likri], Jerry Masengi [The Ton's/Kawatuan], Willy Soputan [Likri], Jimmy Dumais, Donny Tuju dan Johan Lengkong [Sumonder] adalah para pemain yang hijrah langsung dari Manado/Minahasa ke Jakarta sebagai pemain musik kolintang yang hadir ditengah-tengah gurp kolintang yang pernah ada di Jakarta dengan urutan, sebagai berikut;

01. Kadoodan           
02. The Mawenang's
03. Scorpio
04. Tamporok
05. Makalelon
06. TareUman
07. Sumonder
08. (Kawatuan)  AKA JUNIOR Group
09. Likri Group
10. Toratan
11. Edelweiss
Kolintang JUNIOR Group


Ada sebelas kolompok/grup awal [1969-1979] musik kolintang menghiasi berbagai acara/kegiatan hiburan di Jakarta dalam lingkup masyarakat Kawanua di Jakarta. Berawal dari kelompok musik kolintang Kado'odan yang berhasil memasuki dunia rekaman dan sangat populer dengan lagu-lagu daerah Minahasa mengiringi artis-artis, seperti; Vivie Sumanti, Rosa Lesmana dan Franz Daromes. Kelompok lain yang tak kalah hebatnya adalah kelompok musik kolintang The Mawenang's sempat berkeliling benua Eropa, seperti; Inggris, Belanda, Jerman serta Belgia memperkenalkan jenis musik diatonis dari kayu terpilih ini. Kedua kelompok ini menjadi inspirasi bangkitnya para pemusik kolintang lainnya untuk ikut serta menyemarakan hiburan di setiap acara-acara Kawanua yang ada di Jakarta, seperti; Scorpio, Tamporok Tareuman, Makalelon, Sumonder, Likri, Junior, Toratan dan lain lainnya.


Ada sedikit catatan tersendiri tentang kiprah performance dari Kolintang Junior Group pertama kali ini adalah pertunjukkan lighting stage mereka layaknya group2 band show, mereka memadamkan lampu gedung dan menggunakan strobo blitz, lampu sorot dan smoke dry dalam panggung show mereka dan sering kali diundang special kolintang show di night-club2 Jakarta, seperti; Flamingo, LCC dan Taman Impian Jaya Ancol - Jakarta. 

Urutan berikutnya kelompok musik kolintang terbentuk akibat berpindahnya para pemusik untuk membentuk sendiri grup musik yang ada, sehingga hadirlah kelompok baru tapi ditambah muka2 baru menghiasi khasanah musik kolintang di Jakarta, seperti;


    Panthera Group

12. Satoro
13. Toulour
14. Minaesa
15. Sinar Harapan
16. Rupata
17. Panthera
18. Makantar
19. Harmony
20. Makapetor
21. Pinbers
22. Bapontar
23. Kawanua
24. Nuansa /Plus

Memasuki era tahun 80-an pertumbuhan dan penggemar musik kolintang semakin lama semakin bertambah marak, penulis beserta sebagian rekan pemusik kolintang membuat gagasan untuk membentuk wadah organisasi kepelatihan Musik Kolintang di Jakarta. Pada awalnya penulis bersama rekan2 yang sependapat mencoba menjelaskan kepada setiap pemain/pelatih  kolintang secara random akan ide, misi, tujuan agar terwujudnya wadah ini mengalami kesulitan dan hambatan, namun kita sepakat apapun yang terjadi ini harus dibentuk dan diwujudkan secepatnya. 

Penulis, Albert Runtunuwu, Frans Ratag, Donny Tuju, Jantje Pangkerego, Berthie Rarun, Benny Soputan melakukan pertemuan pertama kali di Kampus AMI-ASMI dengan dihadiri oleh Bapak Benny Tengker yang kemudian bersedia untuk sebagai Penasehat. Tepatnya tahun 1986, tercetuslah pembentukan wadah Oraganisasi, dengan nama IKATAN PELATIH MUSIK KOLITANG JAKARTA (IPMKJ). Sebagai Ketua saat itu terpilih saudara Benny Soputan, Wakil Ketua Berthie Rarun, Sekretaris Frans Ratag dan Wakil Sekretaris Charles Tumetel. Namun dalam perjalanan waktu saudara Leber [Albert Runtunuwu] tidak bisa bergabung karena alasan kesehatan dan kesibukannya sehari hari.


                                                    Para Pelatih Musik Kolintang Jakarta 

Seteleh


Thursday, May 23, 2013

Asal Usul Kota Manado

ASAL USUL Kota MANADO

(Dari Siau - Sangihe Talaud)

Memahami daerah Sulawesi Utara tak akan lepas dari keberadaan tiga wilayah dan budaya yang membentuk karakter masyarakatnya. Nasrun Sandiah, Antropolog dari Universitas Sam Ratulangi, memilah ketiga wilayah budaya tersebut ke dalam tiga suku bangsa yang mendiami Kepulauan Sangihe dan Talaud, Bolaang Mongondow, dan Minahasa.

Dari ketiga wilayah budaya tersebut, masyarakat di Kepulauan Sangihe dan Talaud dan Bolaang Mongondow mempunyai akar sejarah yang panjang dalam bentukan kerajaan. Catatan sejarah menunjukkan, sebelum tahun 1500 Kerajaan Tabukan, Bohontehu, Kendahe, Tahuna, Manganitu, Siau, dan Tagulandang, tumbuh di sepanjang Kepulauan Sangihe dan Talaud.

Sementara di wilayah Bolaang Mongondow, terdapat Kerajaan Bolaan Uki, Kaidipang, Bintauna, Suwawa, dan Bone. ”Kerajaan-kerajaan di Bolaang Mongondow umumnya penganut Islam dan kerajaan di Sangihe dan Talaud penganut Kristen atau Katolik,” kata Nasrun.

Karakter khas yang melekat di wilayah-wilayah kerajaan juga tampak di kedua wilayah budaya ini. Sifat paternalis maupun kepatuhan yang kuat terhadap pemimpin, misalnya, menjadi karakter masyarakat. ”Kalau pemimpin itu bilang apa, itu akan sampai ke bawah,” ungkap Nasrun. Kondisi demikian tak terhindarkan munculnya pengkultusan terhadap pemimpin sebagaimana di Bolaang Mongondow. ”Bupati masih dikultuskan sampai saat ini,” imbuh Nasrun.

Berbeda di wilayah kerajaan, berbeda pula karakter di wilayah yang tidak dijumpai kerajaan. Minahasa dalam sejarahnya tidak pernah mengenal sistem kerajaan.
Masyarakat di kawasan ini terhimpun dalam walak yang merupakan sebuah komunitas sosial masyarakat tradisional terdiri atas kumpulan beberapa permukiman. Dengan tidak adanya raja atau pemimpin yang harus dihormati dan dianuti masyarakat.

(Schouten dalam Leadership and Social Mobility in a South Asia Society: Minahasa 1677-1983, hubungan sosial masyarakat Minahasa umumnya didasarkan pada sikap kompetitif dan egaliter).


Cerita Mokodoludut dari orang Sangir yang ditulis oleh orang Amerika yang dipresentasikan di Universitas California oleh Kenneth, diterbitkan dalam tiga bahasa.

SEJARAH KERAJAAN BOWONTEHU.
Pada tahun 800-san Masehi di Cotabato pulau Mindanauw sekarang Filipina dahulu ada sebuah kerajaan suku bangsa negrito yang dipimpin oleh seorang Kulano(raja). Kerajaan ini diserang oleh suku bangsa Mongolia, akan tetapi seorang anak raja yang bernama Humansandulage beristeri Tendensehiwu berhasil meloloskan diri beserta para pengikutnya antara lain Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan yang memeliki papehe(ikat pinggang dengan ukuran satu jengkal), lenso (saputangan), dan paporong (ikat kepala). Dengan melemparkan ikat pinggang berukuran satu jengkal kelaut yang kemudian menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa mereka ke Selatan lalu tiba di daerah Molibagu. Ditempat ini mereka berkabung sambil menangis selama empat puluh hari empat puluh malam. kemudian mereka berikhar menjadi suku bangsa yang baru yaitu Suku Bangsa Sangihe. Setelah masa perkabungan berakhir mereka hidup menetap dihutan yang terletak di sebuah puncak bukit lalu mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Wowontehu/Bowontehu.

Bowontehu berasal dari bahasa Sangihe yaitu Bowong artinya atas dan Kehu artinya hutan. Jadi Bowontehu adalah kerajaan yang terletak diatas hutan. Humansadulage sebagai Kulano (Datu/Raja) dan Tendensehiwu sebagai Boki (Permaisuri). Humassadulage dan Tendensehiwu memperanakan Budulangi. Budulangi bersiteri Putri Ting yang berasal dari khayangan. Budulangi dan Putri Ting memiliki seorang anak perempuan yang bernama Toumatiti. Toumatiti hamil dari seorang Pangeran yang datang dalam mimpinya, Maka lahirlah seorang putra diberi nama Mokodoludud. Mokodoludud yang artinya Pangeran dari khayangan. Mokodoludud menikah dengan Bania yang keluar dari buluh tipis kuning ditemukan dihutan oleh pasangan suami istri yaitu Sanaria dan Amaria lalu dipelihara.

Pada Suatu ketika Tahun 1000-an Masehi terjadi pergolakan perang disana-sini sehingga Mokodoludud beserta para pengikut yang setia meninggalkan Molibagu lalu tiba di Pasang Bentenan di baling-baling yaitu tempat yang bernama Posolo berada disebelah timur Malesung atau Minahasa sekarang disebut pulau Lembe. Ditempat ini mereka tinggal tidak lama sebab diserang oleh Suku Mori, Laloda dan Mangindanouw. Mokodoludud dan rombongan mengungsi ke sebuah gunung dengan jalan mengintari (belitan) lalu tempat itu disebut Lokong. Baunia melahirkan seorang putra bagi Mokodoludud lalu diberi nama Lokonbanua. Kemudian Mokodoludud ingin mencari tempat seperti pasang bentenan lalu berangkat dan tiba di pulau Manarauw (Manado Tua). Kata Manarou berasal dari bahasa Sangir yaitu Mararau; Marau yang artinya Jauh.

Mokodoludud membangun kembali kerajaan Bowontehu dengan berpusat dipulau Manarouw dengan gelar Kulano. Di Manarouw ini Mokodoludud dan Baunia dikaruniai lagi anak yang bernama, Jayubangkai, Uringsangiang dan Sinangiang. Penduduk kerajaan ini berkembang bertambah banyak sehingga sebagian mendiami daerah bagian utara dataran pulau Sulawesi yaitu Gahenang/Mahenang nama kuno untuk Wenang berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu artinya api yang menyala/bercahaya/bersinar(suluh, obor, api unggun). Perpindahan dilakukan dengan menggunakan perahu (Bininta), melalui tempat yang bernama Tumumpa berasal dari bahasa Sangir yang artinya turun sambil melompat,kemudian menetap di Singkil berasal dari bahasa sangir Singkile artinya pindah/menyingkir. Mereka menyebar sampai ke Pondol bahasa Sangir disebut Pondole artinya di ujung. Wilayah kerajaan Manarouw. 

(sesuai memori Robertus Patbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manado Tua, P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.)

 .***Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Penduduk Kerajaan Bowontehu/Manarouw adalah orang sangir (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit).


Pada suatu ketika kembali Mokodoludud memerintahkan rakyatnya membuat perahu(Bininta), setelah selesai pembuatannya maka diuji kemampuan untuk mengapung, mendayung serta berlayar dari perahu. Kapal tersebut memuat putra-putri raja yaitu Lokonbanua, Uringsangiang, Sinangiang beserta Batahalawo, Manganguwi, Bikibiki, Banea dan Tungkela. Raja Mokodoludud berpesan kepada anak-anaknya agar selama dalam pelayaran tidak boleh mengeluarkan sepatah katapun, akan tetapi Sinangiang lupa ketika melihat sebuah pulau lalu bertanya pulau apakah itu ?. Maka tiba-tiba badai mengamuk sehingga terdampar di pulau Tagulandang, Siau dan Sangir. Ditempat ini Uringsangiang dan Sinangiang menangis terus menerus sehingga tempat ini disebut Sangihe yang bersasal dari kata Sangi, Sangitang, Masangi, Mahunsangi artinya menangis. Mereka hidup dan menetap ditempat ini, Lokonbanua menikah dengan Sinangiang.

Pada tahun 1380 seorang pedagang arab bernama Sharif Makdon setelah mengunjungi ternate lalu tiba di Manarouw(Manado Tua) menyebarkan Agama Islam kemudian berangkat ke Mindanouw. Kemudian jalur ini diikuti oleh pelaut asal Portugis Pedro Alfonso pada tahun 1511, Pedro Alfonso menemukan Ternate, setelah itu armada dagang asal Portugis secara resmi mengirimkan Antonio de Abreu ke Maluku tahun 1512. Pada tahun itu juga Portugis mengirimkan tiga kapal layar ke Manarouw,(Pulau Manado Tua).

Lokon Banua II (lokon artinya nama yang diangkat kembali) adalah keturunan kesembilan dari Raja Mokodoludud Kulano(raja) Bowontehu. Berlayar dari Manarouw bersama dengan pengikutnya pergi ke pulau Siauw lalu mendirikan kerajaan Leken Banua II atau Karangetang pada tahun 1510. Lokongbanua II Keturunan ke 9 dari Raja Gumansalangi putra raja Tumondai dengan Boki Bitang Keramat kakak kandung pendiri Kiraha (Kedatuan ternate) dari Cotabato di Mindanauw Philipina Selatan Pendiri Kedatuan Tampung Lawo abad 12 serta cucu dari Datu Hinbawo I dari kerajaan Sulu beristrikan Sangiang nilighidé dan mempunyai anak perempuan, Umbongduata namanya. Umbongduata ini jadi salah satu isteri dari Datuk Pahawonsulugé, lalu mempunayai anak Lokongbanua II

Bangsa barat yang pertama-tama menemukan Manarouw ialah pelayar Portugis Simao d’Abreu pada tahun 1523.
Nama Manarow dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manarouw menjadi pintu gerbang transit kawasan timur Indonesia bagi kapal-kapal dagang bangsa asing, sehingga menjadi daya tarik bagi pedagang Cina.

Pada tahun 1563 Peter Diego de Magelhaes dari Portugis berangkat dari Ternate menuju Manarouw mengajarkan pokok-pokok iman Kristen. Lalu Raja Manarouw bersama rakyatnya 1500 orang dibaptis kesemuanya adalah orang Sangir. Baptisan dilakukan di muara sungai Tondano dan dihadiri oleh Raja Siauw bernama Possuma. Raja Possuma lalu memberi diri untuk dibaptis dengan nama Don Jeronimo (nama portugis) Kemudian Peter Diego de Magelhaes ke Kaidipan (pesisir utara Gorontalo) membaptis 2000 orang selama 8 hari.

Tahun 1570 Bulango dari kerajaan Bowontehu (pulau Manarouw) berlayar menuju Tagulandang. Bulango mempunyai seorang anak perempuan bernama Lohoraung mendirikan kerajaan Taghulandang atau Mandorokang di pulau itu bersama para pengikutnya. Bulango adalah saudara dari Lokongbanua II dimana keduanya adalah keturunan ke sembilan dari raja Mokodoludut dengan istrinya Baunia dari kerajaan Bowontehu.

Pada tahun 1585 Peter lain mengunjungi Manarouw ternyata iman Kristen telah lenyap kembali menjadi kafir. 1606 Spanyol merebut kembali Maluku Utara maka penyebaran agama Kristen kembali dilakukan di Ternate.

Pada tahun 1614 Spanyol memusatkan kekuatannya di Manarouw untuk menghadapi serbuan Belanda, dibangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang berhadapan dengan pulau Manado Tua

1619 Penduduk Manarouw sebagian besar telah beralih agama menjadi islam. Oleh karena itu Misi Injil mengalihkan penyebaran ke pegunungan yaitu orang-orang dari suku pedalaman yang disebut alifuru lalu tiba Tomohon dan Tondano. Namun misi ini gagal, karena kedatangan misionaris dihubungkan dengan hasil panen. Saat itu panen tidak berhasil sehingga dikatakan dewa telah murka, para misionaris di usir. Seperti dalam surat Pater Blas Palomino tanggal 8 Juni 1619. Sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622, dia menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para Missionaris asal Spanyol. Juga Walian Kali yang menghasut kepala Negeri Kali bernama Wongkar untuk menolak dan melarang para Missionaris Spanyol untuk masuk ke pedalaman Minahasa.

Pada tahun 1623 Kerajaan Bawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua) dipindakan ke Gahenang/Mahenang nama kuno Wenang berasal dari bahasa Sangir artinya api yang menyala atau bersinar (Suluh,obor), oleh karena dialek bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mereka mengucapkan Wenang demikian juga dengan Manarouw disebut Manado. Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow pada kurun waktu tahun 1644-1674. Penduduk kerajaan ini adalah orang sangihe (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit). Raja Loloda Daloda Mokoagow ini adalah anak dari Raja Tadohe. Sedangkan Tadohe sendiri adalah cucu dari Raja Siauw yang bernama Possuma dan cicit dari raja Tabukan(Rimpulaeng) Don Francesco Macaapo Juda I. Kerajaan Manarouw adalah sebagai kerajaan terjauh dari wilayah toritorial kerajaan Sangihe. Setelah Raja Laloda Daloda Mokoagow kemudian menjadi raja adalah Donangbala yang memiliki pedang sakti.

Suku Bantik bukan penduduk pertama yang mendiami Manarow menurut cerita Pada Tahun 1654 Salah satu kerajaan di Sangir yakni kerajaan Malingaheng Kendahe yang dipimpin oleh Raja Sahmensi Arang (Syam Syach Alam)mempunyai seorang anak bernama Putri Bulaeng Tanding. Kerajaan ini dengan wilayah bagian barat pulau sangihe hingga pulau Kaluwurang. Kerajaan ini tenggelam oleh karena peritiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit)mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing. Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe di dalam terkubur kursi emas dan makota raja konon katanya di jaga oleh ikan hiu. Dari peristiwa tersebut sebagian selamat termasuk seorang yang bernama Bantik. Kemudian mereka mengangkat Bantik sebagai pemimpin lalu berihkrar menjadi satu suku yang baru yaitu Suku Bantik, dengan catatan mereka tidak boleh hidup bersama dalam satu wilayah, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Maka diatur kelompok-kelopok berlayar dengan perahu menuju ke Mindanao,ke Beo, ke kema, ke Belang,ke Manaraw, Leok-Buol sedangkan Bantik sendiri pergi ke Mongondow. Jadi suku Bantik merupakan anak suku dari suku Sangir.

Dalam surat Pater Juan Yranzo yag ditulis di Manila tahun 1645 menyebutkan tentang pengusiran Spanyol dari tanah Minahasa pada tanggal 10 Agustus 1644. Pengusiran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Pater Lorenzo Garalda. Para Walian Minahasa menghasut masyarakat untuk membunuh semua Missionaris Spanyol. Rencana para walian bocor hingga para Missionaris Spanyol sempat mengungsi ke tepi pantai dan berperahu ke Siauw.

Tahun 1655 Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚’ dari kayu-kayu balok sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi. Dengan menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari Spanyol. Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Awal Tahun 1661 Kos dari Ternate berlayar menuju Manarouw disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol di Manarow. Tahun 1673 Belanda memapankan pengaruhnya di Manarouw dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari beton. Lalu Benteng ini diberi nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate. Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950).

Tahun 1675 Pendeta J. Montanus mendapati bahwa jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah. Tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing di Manado. Sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia. Kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik. (Prof.Dr.I.H.Enklaar.Sejarah gereja ringkas,81,1966)

Pada tahun 1677 Compeni mengadakan perjanjian dengan Raja Siau dengan persaratan kesepakatan bahwa Raja serta rakyat harus beralih agama dari Kristen Katolik menjadi Protestan. Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud.

Perserikatan Pekabaran Injil Belanda Van der Kamp mendirikan NZG Tahun 1797. Tahun 1817 Pendeta Josep Kam berkunjung ke Minahasa. Tahun 1819 Lenting berkunjung ke Minahasa.Pendeta Josep Kam dan Ds. Lenting mendapati orang Kristen tidak ada pelayanan lagi,lalu mereka melaporkan keadaan itu pada NZG di Belanda. Pada tahun 1822 atas laporan diatas maka NZG mengirim 2 orang berkebangsaan Swiss, L.Lamers di Kema ( meninggal 1824 di Kema ) W. Muller di Manado (meninggal 1827 di Manado) Mereka meninggal karena penyakit Typus.Dalam pelayanan, mereka mengalamai banyak hambatan dan tantangan terutama dari kalangan turunan Eropa.Tahun 1827 pelayanan manado diganti oleh Ds. G. J. Helendoorn. 4 tahun kemudian tahun 1831 dikirim lagi 2 Orang pelayan yaitu : Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwars. Tahun 1855, NZG mengutus S.D. van der Velde van Capellen dari Minahasa ke Sangihe dan membaptis 5033 orang.Ketika itu S.D. van der Velde van Capellen sedang bertugas di Tareran,Minahasa.

Menurut Catatan Robertus Padburgge,1867, kerajaan Manarouw hancur akibat perang berkepanjangan dengan kerajaan Bolaang. Perang ini menyebabkan penduduk berserak sebagian ke pulau Sangir, Likupang dan Bitung. Menurut penuturan tua-tua bahwa sebagian orang sangir meninggalkan Manarouw akibat kekurangan makanan karena diserang oleh gerombolan kera serta adanya wabah penyakit. Penduduk yang kuat pergi ke Sangir, Likupang dan Bitung sedangkan yang sakit-sakitan mereka tetap tinggal menetap di Manarouw. Kerajaan ini didalam buku Kakawin Negara Kerta Gama oleh Empu Prapanca tahun 1365 disebut sebagai Uda Makataraya. Wilayah kerajaan ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud setelah Belanda dengan VOC menguasai perdagangan wilayah ini dengan kontrak perjanjian yang ditanda tangani oleh raja-raja Siau (arsip Perpustakaan Sulut)dan pada tahun 1908-1912 Manado dan sekitarnya diserahkan oleh raja Siau XVIII bernama A.J. Mohede kepada Assisten Residen, serta pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tetapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

Friday, April 19, 2013



  (MYTHE /maäsar en sisil sè renga-rengan/cerita turun-temurun tentang ilah-ilahi)

L A H I R N Y A  DANAU TOUNDANO / Kinatouan Lour Toundano


MANIMBAU & MAKATIMBAU.
Endo mekasa kasuatan minamuali tana’ “MALESUNG” em bawèan rua Toka mesaruan, si esa sumaru Sedangan wo si esa sumaru Talikuran. Sèa nu rua Toka nèi ena’ rua matuari mewali-wali sè kaämpit nèa. Wo’o piramou ngeto’un sè tumampas, taän rei’pè makaäto en suru’. Mei mekasa kinalèlè’an kepa’ar nèa. Sè taranak maena’ waki toka sangaweka Sedangan kinamang si tolèoki’, wo sè maena’ aki sangaweka Talikuran maka’ato si wiko’ki.


Konon selang terbentuknya tanah “MALESUNG” terdapat dua buah Gunung yang saling berhadapan, dari arah Timur ke arah Barat. Kedua gunung tersebut dihuni oleh dua bersaudara dengan isteri masing-masing. Telah beberapa tahun pernikahan mereka, tetapi belum juga memiliki turunan. Tak putus-putusnya mereka masing-masing memanjatkan doa agar dikaruniai anak. Satu ketika terkabul juga keinginan mereka. Keluarga yang menghuni gunung sebelah Timur dikaruniai seorang anak pria, dan yang bermukim di gunung sebelah Barat dikaruniai seorang anak perempuan.


Ki’it kenaramen (akar mariwu wo walungaatus to’un) sè kamè’ana pawèè ngaran ki‘it toro ni’tu! sonto 1: sawoitu mamuali e lumenter kasuatan kinatouan e noki’ nisia nèi wèè ngaran “kila’pong”. Kaayo taèkan/tarèkan minamuali em paam “Kilapong”.

sonto 2: sa sè tu’ana sè masiasa “mengèèt timpa” kaapa “malung en dano”, si kamè’ana pawèè ngaran mineteto’orong wo sapa peniwona toro ni’tu;
makèèt/maalung, malung = Manimbau/Makatimbau.


Sesuai kebiasaan (masih hingga abad ke- 18) anak-ana yang lahir diberi nama sesuai keadaan saat itu!

Contoh 1: bila terjadi guntur-halilintar saat lahirnya seorang anak maka anak tersebut diberi nama sesuai apa yang terjadi, yaitu “kila’pong”. Yang sampai kini telah menjadi fam /nama keluarga “Kilapong”.

Contoh 2: bila org tuanya sedang menyadap “saguèr” atau menadah/menampung “air” maka anak tersebut akan diberi nama yang ada sangkut-pautnya dengan pekerjaan saat itu;
Menyadap/Menampung = Manimbau/Makatimbau.


Si tolèoki’ mekengaran MANIMBAU;

Si wiko’ki mekengaran MAKATIMBAU.
Tuanamou paana’an si esa wo si esa kasina’uan mekengaran Toka Manimbau wo Toka Makatimbau.



Anak lelaki diberi nama Manimbau;

Anak perempuan Makatimbau.
Maka kediaman masing-masing dikenal dengan nama Gunung Manimbau & Gunung Makatimbau.

Si tolèoki’ (Manimbau) nèi turu’ ama’na witu em pawukuan.
Rengan si Makatimbau paturu’ ni ama’na pasèkèan, ni’tumou witu em baya-waya si palo’on tanu si tuama; melabung, em bu’uk iwa’kes maatas, makèn peporong.
Ka em baya niye’i kapewangu-wangun ena tanu sè tuama.


Anak lelaki (Manimbau) di latih ayahnya dalam hal tempur.
Sedangkan Makatimbau oleh ayahnya pun dilatih dalam hal perang, sehingga dalam semua hal ia diperlakukan sebagai seorang anak lelaki; berpakaian lelaki rambut di ikat ke atas, kepala diberi berdestar. Karena ini semua sehingga tingkah-lakunya serupa pria sudah.


Matoromi tarètumou sèa nu rua rerangkètan matodong en talun; si Manimbau kenaramena maè matoromèè en Sendangan sumara e lawanan wo mekelaker sa si marèngi maali-ali eng Kima.

Tuana kangkai si Makatimbau kenaramena sumèro tetaneman tanu wungang paalin marèng. Taän rei’ kaliuren em balun, mekengaran: Lagou kaapa Wairi (Kalawatan) sè kasa laker aki talun tana’ Malesung.

Sè kasinouanou wia em balak nèa, ka’a lingkama wo kaghio’an wo eng kasiga’an nèa.
Wanua kinatouannèa, sangaweka Sedangan, nginaranan Manimbau tuana kangkai en Toka witumèè; witu sangaweka Talikuran, nginaranan Makatimbau, wo en Toka witula nèiwèè ngaran Makatimbau kangkasi.


Menjelang dewasa kedua-duanya sering mengembara; Manimbau biasanya suka menuju ke Timur arah laut serta kerapkali pulang membawa kerang besar .

Sedangkan Makatimbau kesenangannya mencari-cari tumbuhan berupa kembang untuk di bawa pulang. Tapi tidak terlupakan bekal untuk di rumah selalu di bawanya pulang, yaitu: Anoa atau Babirusa yang banyak berkeliaran dalam hutan lebat di tanah Malesung.

Makin hari mereka makin terkenal di daerah masing-masing, akan kerajinan serta kecantikan dan kebijaksanaan mereka.
Tempat kediaman mereka, yang disebelah Timur, disebut Manimbau maupun gunung yang terdapat disitu; yang disebelah Barat, disebut Makatimbau, maka Gunung yang terdapat di situ diberi pula nama Makatimbau.


Endo mekasa sè witu en talun, sè maatoan witu makatoro pinaalet rua Toka patouan nèa.

Lumila si Manimbau “sèi koo, maliong wia talun-laki punyaku karengan?”
Si Makatimbau rei’pè’ mekasa patotor tuana mawongkèn e nupi’, wo wingkotena “ou..pasil kasa tongko suma kou! Talun-laki iti’i punyaku, koo wuaya matoromiwie’i?”



Konon suatu saat mereka lagi berada di hutan, saling berjumpa pada bagian antara kedua gunung kediaman mereka.

Ucap Manimbau “siapa gerangan engkau, mengembara dihutanku?”
Makatimbau yang tak pernah di sapa secara demikian timbul rasa dongkolnya, maka di jawabnya “alangkah sombongnya kau ini! Ini hutanku, kau berani memasukinya?”


Manimbau: “ha..ha..ha.. si oki’masepunè’, si ama’ku si makapunya talun-laki nye’i. Kèi mena wie’i aki Toka sangaweka Sedangan weti’imèè”.
Makatimbau: “Kurangku niïtu, si ama’ku makapunya en Toka sangaweka Talikuran, wo niaku si urangena makapunya em baya talun-laki wie’i”.



Manimbau: “ha..ha..ha.. anak ingusan, ayah saya adalah pemilik hutan ini. Kami penghuni dari gunung yang di Timur sana”.
Makatimbau: “Peduli amat, ayah saya ada pemilik dari gunung yang di Barat dan saya anaknya adalah pemilik semua hutan di sini”.


Wo sèa maè mesaruan, sè mawukuan ta’an rei’ si esa minuntung. Lawas sinawel en santi, kasa rungkèa’ pasèkèan toro ni’tu.

Rei’ kasino’uan nèa sarapou, niïtumou si mengèrèt si Manimbau, lila’na:

“Kèi tarè to’rongela kawisa mèè, sa koo pa’arè mesesaru?”
Minupi’ lumetok si Makatimbau en santi mengerap matoromèè tikoo Manimbau, ta’anpè’ karepetan ena rumèntèk mamemuri wo sia iwa’akat en santi, wo male’lep e nalet kaai- tumetou kasuatan kumukuk palingan si lumila “matoanokan/maatoan e nokan”.

Maka majulah keduanya untuk mengadu kekuatan; perkelahian tangan terjadi tanpa memberi hasil bagi salah seorang. Tangan berganti pedang, seru pertempuran saat itu. Tanpa disadari hari telah senja, maka berserulah Manimbau, katanya:

“lebih baik kita lanjuntukan lain kali, seandainya kau masih berani?”
Dengan beringas pedang Makatimbau di ayunkan mengarah leher Manimbau, hanya karena ketangkasannya sambil meloncat kebelakang saja, ia terhindar dari serangan pedang itu, dan menghilang di antara semak2 sambil mengukuk terdengar kata2 “sampai jumpa lagi”.


Endo mesawelan, duminggu mesawelan, minatarètumou mola; ki’it kenaramen
si Makatimbau maliong witu talun-laki, wo’o rei’ tinutu’ si ka’èian witu wowa en talun si rei’pè’ mekasa kaayola. ‘mBaya-waya mewalina’an, eng kalèdong rei’ masuat tanu pangèyena, tetaneman mewalina’an wo eng kaada’an paasa’an. Rengan makèlang maloo wie’imi wo nenè’imèè, tumarèkani timengo nisia ‘mbewèan en tabu’ ampit en dano kasa lèno.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, umur telah dewasa; seperti biasanya Makatimbau berkeliaran di hutan, dan tanpa disengaja tibalah dia pada bagian hutan yang belum pernah didatanginya. Semua agak berbeda, keadaan sekitarnya lain dari yang biasa ia datangi, tumbuh2anpun berbeda serta suasana yang harmonis. Sambil jalan dan melihat-lihat sini-sana, sekonyong-konyong tepat dihadapannya terdapat sebuah danau kecil dengan air yang jernih sekali.



Wo sia rumuber li’lik en tabu kasuatan maongkot eng kokong lumoo lelèno kèrè ena. Tanu kenaramen em bu’ukena nèi wa’kes maatas, kawisa metetekel itè em bu’uk nèi ghogho ela, ta’an paulitela, rei’ paaton nu esa.
Rengan maloo’ em pewarèngan eng kèrè witu en dano, em peporongen nèi reta’na wo em bu’uk iwaya lighogho, wo kumetarèla ni atona eng kuraber wo sena’ em bu’uk ena.



Maka duduklah dia disamping danau tersebut. sambil menundukan kepala melihat bayangan mukanya. Seperti biasa rambutnya terikat ke atas, hanya saat akan tidur rambutnya di uraikan tanpa, sebenarnya, melihat sendiri.
Sambil melihat-lihat pantulan wajahnya di air, destar pengikat rambut dilepasnya dan rambut dibiarkan terurai, dan untuk pertamakali dilihatnya akan kelebatan dan cahaya rambutnya.


Ka’a waya ghenang nèiwèè witu sapa em paloo’en, rei’ keto’uana em bewèan tou aki muri nisia. Si lumèngè wo sèa maloo’an si esa wo si esa;

Makatimbau sumina’u si tou nu esa.

Rengan si tou nisia rei' walina si Manimbau sia, kasa makaèrangen lumoo’la

si kèkè wulauan simaru nisia, si rei’pe’ meto’u sa sia si Makatimbau; niitumou si mawui: “Kèkè sèi koo, waki wisa koo wo maai?”
Wo e rumemis nèi purikiten si Makatimbau e leliwagh: “Nikoo en sapa ngaranu?”
“Niaku si Manimbau” mingkot si tuama witu muri ena.



Karena terkonsèntrasi pada apa yang dilihatnya, tak sadar ia bahwa telah ada seseorang dibelakangya. Ia membalikkan mukanya dan mereka saling memandang; Makatimbau mengenali siapa org itu. Sedangkan org itu yang tiada lain adalah Manimbau, terpesona melihat seorang gadis manis rupawan yang dihadapinya, ia masih belum mengenali Makatimbau; maka bertanyalah dia: “Nona siapakah engkau, darimana datanngya?”

Denga tersenyum-simpul Makatimbau balik bertanya: “Engkau siapa namamu?”
“Aku Manimbau” jawab pria yang di belakangnya.



Ka’a si tarètumou simaru nisia kasa ghio-lè’os, si Makatimbau rei’mou mekepa’ar mepepaäyang memèè-mèè; wo sia mawingkot “Manimbau niakumou si –tuama– kesaru patokolanu kamemurian”.

Nèi’ng kalo’sit si Manimbau ka si minatokolan rè’èn wo wewènè, ...ta’an medam e nupus wo mepa’a-pa’ar minaato ela si reraa kewangun, si mawui sapa ngarana.

Wo mawingkot sia “Ngaran’ngku Makatimbau”.

“Oo..da’kèi!” mèè wewingkot si Manimbau “Nikoo si urang Tu’a Taranak Toka Makatimbau?” Ta’an e natèna moghèmou, wo si rei’mou meto’u sapa païla’.
Tuana kangkai wo si Makatimbau medam e nupus sinaru tarètumou nisia.


Dikarenakan jejaka di depannya seorang ganteng, Makatimbau tak sampai hati untuk mempermainkan terus menerus; maka dijawabnya “Manimbau akulah –lelaki– yang berkelahi denganmu waktu lalu”.

Manimbau terkejut karena yang diperanginya adalah seorang gadis, …akan tetapi perasaan kasih timbul serta senang melihat kecantikannya gadis tersebut, maka ia menanyakan namanya.

Di jawab olehnya “Nama saya Makatimbau”.

“Waduhai!” ucap Manimbau “Engkau adalah anak dari Kepala Keluarga Gunung Makatimbau?” Tapi hatinya telah tergerak, dan guguplah dia tak tau bagaimana akan melanjuntukan percakapan ini.
Pun demikian dengan Makatimbau yang tertarik akan pria tersebut.


Tabu’ pasungkulan nèa ketarè-tarè minamuali tampa “eruren/mesa’sakan” nèa nu rua.

‘nDei’pè’ keto’uanèa e rei’ ipaila-ila’(rasia) pinalet sè rua taranak iye’i.

Ketarè: si ama’ ni Makatimbau si minatiwa’ rei’ wèè urangena “wewènè” metampas. Kumarua: sè tu’a nèa sè matuari-susut.

Tuana kangkasi si ama’ ni Manimbau, karètèn nèi patik Kumarua mananatas, pè’kasi mekeghenang sombayang sè’sanga awu tarè makaato ela si oki’ “ma’anitè makaurè-urè esa si urang!”.
Pasungkulan nèa mamuali mekelaker, takar pinutus nèami maè maila’ em pato’rongenèa wia sè tu’a si esa wo si esa.


Kolam tempat pertemuan mereka pertama-tama menjadi tempat “rendez-vous” mereka.

Yang belum diketahui mereka adalah rahasia antara dua keluarga ini.

Pertama: ayah Makatimbau telah mengangkat sumpah untuk tidak mengijinkan anak “gadis” nya bakal berumah tangga.

Kedua: org tua mereka adalah kakak beradik.

Demikian pula ayah Manimbau, selainnya hal kedua di atas, juga mengingat do’a suami istri yang baru mendapat anak setelah dalam permintaan do’a “walaupun untuk selamanya hanya seorang anak!”.
Pertemuan mereka makin sering, sehingga sesaat mereka mengambil keputusan untuk menyampaikan hubungan mereka pada orang tua masing-masing.


Minakalo’sit sè tu’a nèa.

Sawoitu/tani’tu tumerang si esa wo si esa nèsèa, kumura wo sè tu’a nèa makaato en urang.

Mengaat eng genang... ta’arou marepu’ e natè si Manimbau wo si Makatimbau lumingala em patuturan.

Rei’ kaèdoanèa mesesaru sapa nei linganèa ni’tu.
Ta’an e nupus nèa sinaru sè tu’a, sè mewa’wa’ em papedamenèa.
Mene-penes sè tataap maatoan waki “tabu’ kagheghenang” kasuatan mesesusui kepewangu-wangunèa.
Ta’an rerei’la lalan walina, ma’an sèa mewa’wa’mola menèro.


Terperanjat orang tua mereka. Maka diterangkan masing-masing akan hal, bagaimana hingga orang tua mereka mendapatkan anak.

Sedih ... hampir berputus asa Manimbau maupun Makatimbau setelah mendengar apa yang diceritakan.

Tak sanggup mereka untuk melawan hal-hal yang mereka dengar itu.

Tapi karena kasih sayang mereka atas org tua, dicoba untuk melawan perasaan putus asa.

Secara diam-diam mereka tetap bertemu di tempat danau kecil pusaka sambil membicarakan jalan hidup mereka.
Tapi tak ada jalan keluar, bagaimanapun mereka berusaha mencarinya.


Tuanamou patou-touan wia eng kaoatan.
Ma’an e nentè’ wo ketè e natè ...ta’an ... en esi rei’ si keter ...sapa en dei’ kepa’aren mamuali; sè minaësaänou witu’natè wo’n tolana...............


TUMALINGALA E LENTER, WO’NG KERAP, MESAWE-SAWELAN ... TUMODONGELA EN TOKA MANIMBAU WO EN TOKA MAKATIMBAU MASIASA LUMETOK, SUSUR E NENDO WO ‘MBENGI, WO’O MAKAPIRA ENDO WO WENGI REI MENA’, REIDEMOKAN E LANGIT KA’A SINONGKOWAN E NAWUN WITULA.

‘nDei’ urè tumerangou, paloo’nela e lour em bangko nèi welar waki pinatampala rerior en Toka wo en talun-laki.

Witu li’lik e lour nè Toundano, sangaweka Sedangan, patèboan eng kaldèra (en tebir semur en Toka Paapian).

Sudah begitu hidup di dunia.
Walaupun kuat serta keras hati ...tapi ... tubuh adalah lemah yang tak dikehendaki terjadi; mereka telah bersatu dalam jiwa maupun tubuh................

TERDENGAR GEMURUH, GUNTUR-HALILINTAR, BERGANTI-GANTIAN....TERNYATA GUNUNG MANIMBAU & GUNUNG MAKATIMBAU SEDANG MELETUS, SEHARI SEMALAM SUNTUK TAK HENTI2NYA, CUACA MENJADI GELAP KARENA LAHAR/ASAP MENUTUPI DAERAH TERSEBUT.

Selang beberapa waktu udara menjadi terang, terlihatlah sebuah danau yang besar terbentang di daerah yang tadinya terdapat gunung-gunung maupun hutan lebat.

Pada bebarapa bagian tepi danau Toundano, sebelah Timur, masih terlihat pinggiran kaldèra (peninggalan pecahnya Gunung Api).

–Tuanamou en “ASAREN = MITOS” tena’an Lour Toundano –
(demikianlah “MITOS” mengenai Danau Toundano)

Tarèkan sè tou sigha’ –topografi– meto’u; toka Lèmbèan:
Kaluta,Simbel,Kawèng,Kawatak; sangaweka Sedangan lour Toundano) wo toka
Tolankou,Lèngkoan,Bowis,Bawona,Tokambai wo Winerinenbenko; sangaweka Talikuran lour Toundano nu “en Tebir-Semur Toka-Paapian(kaldèra) ‘mbangko” minamuali ka’a niïtu petè’an waya eng kuntung.Sekarang ini oleh penelitian ahli-ahli topografi berkesimpulan, bahwa Pegunungan Lèmbèan: Kaluta, Simbel, Kaweng, Kawatak; sebelah Timur danau Toundano) dan Gunung-gunung Tolankou,Lè(i)ngkoan, Bowis, Bawona, Tokambai & Winerinenbenko; sebelah Barat danau Toundano “adalah sebuah caldera = vulkaankom/kembokan dari gunung-api = pinggiran kawah besar” yang terjadi karena letusan gunung-gunung.

#kalekepan=tamat#

 BoèngJGDo’07
ARTI FAM ORANG MINAHASA

Sosiolog asal Manado, FS Watuseke menulis tentang Fam [family name].

Dalam bahasa Minahasa terutama dimana dalam bahasa sehari-hari Melayu Manado
"nama keluarga" disebut Fam. Dimana kata ini sebenarnya berasal dari bahasa
Belanda van yang kemudian setelah melalui beberapa proses disebut sebagai
Fam.

Penggunaan fam tersebut dilakukan sekitar awal abad 19 di negeri
Belanda. Waktu itu rakyatnya diwajibkan mempunyai Fam. Sebelumnya memang
sudah punya Fam akan tetapi belum menyeluruh.

Demikian pula yang berlangsung di Minahasa kira-kira pada abad 19.
Sebelumnya memang ada orang yang memakainya , tetapi belum menyeluruh.
Seperti halnya Bastian Saway, Fam tersebut ada sejak akhir abad ke 17. Pedro
Ranty abad 18 dan kemudian awal abad ke 19 terdapat nama Fam seperti Matinus
Dotulong (akhir abad 18, Hendrik Dotulong, Frederik Lumingkewas, Abraham
Lotulong, dlll).

Pada tahun 1831 tibalah di Minahasa dua orang penginjil Protestan JF
Riedel dan JF Schwarz di Langowan. Mereka sebagai penginjil dan mengabarkan
injil sekaligus membaptis anggota baru yang masuk kristen. Pada waktu itu
setiap orang dipermandikan mendapat sebuah nama Alkitab atau nama Eropa,
seperti Daniel, Jan, Piet, Frans dan lainnya. Pada saat pembaptisan orang
tersebut diberi sebuah nama Fam, nama keluarga.

Biasanya nama tersebut nama ayah (nama satu-satunya yang dipakai) yang
disusul dengan nama baptis atau Fam. Disamping nama ayah, nama tersebut juga
diambil dari nama nenek pria. Biasanya nama ayah atau nenek pria itu adalah
nama asli Minahasa, seperti Watuseke, Sarapung, Korengkeng, Turang, Sondakh
dan lainnya. Nama baptis tersebut dijadikan nama panggilan yang diambil dari
nama-nama di Alkitab atau dari negeri Eropa barat terutama dari Belanda.
Karena itulah setiap orang Minahasa bernama panggilan atau nama sehari-hari
dari Alkitab dan Belanda.

Berdasarkan data tersebut, nama orang Minahasa atau Fam sekarang
diambil dari nama panggilan setiap orang pria. Sedangkan nama wanita tidak
diturunkan sehingga dilupakan oleh sebagian orang.

Dengan hanya mengenal nama panggilan satu-satunya, tentu ada nama
pengenal jika nama itu dipakai beberapa orang. Hal itu dibedakan dengan
adanya sikap, cacat, atau tanda sesuatu pada orang yang kita maksud. Seperti
Wanta Kento jika ia pincang, Wilem Todeo Kokong (Wilem berkepala lonjong),
Min Pirop (min bermata buta) dan lainnya.

Ada nama-nama yang menyatakan sifat dari orang yang dimasud, seperti ia
seorang pemberani dinamai Mamauaya dari kata wuaya atau berani. Mama'it atau
Ma'it orang yang selalu memasak agak kebanyakan garam. Oki atau kecil adalah
orang selalu mengecilkan sesuatu dan sebagainya.

Masih banyak nama-nama yang mengikuti sifat, kepribadian, tempat
tinggal, pekerjaan, perjuangan dan lainnya. Kesemua ini pada akhirnya
dipergunakan oleh orang Minahasa walaupun dia berada di luar daerah. Fam
tersebut khususnya mengikuti garis keturunan orang tua laki-laki.

Sebagai contoh, karena pekerjaannya selalu menebang pohon, disebut
Pele. Sesuai tempat tinggal, dimana daerahnya selalu terjadi kebakaran
karena adanya kilat dipanggil Pongilatan. Kalau dia tinggal pada suatu bukit
atau gunung ia disebut Wuntu. Kalau dia mau naik bukit atau gunung disebut
Mawuntu. Suatu tempat yang bersifat serong atau miring dikatakan Kawilaran.
Kalau menerka disebut Tumeleap. Tempat dimana sering dicungkil tanahnya
dengan sebuah tongkat disebut Tu'ila dan pemiliknya dinamai demikian.

Sedangkan pekerjaannya sering memotong dengan sebuah parang disebut
Sumanti. Di dalam bahasa Tombulu kata ini mengandung arti lain, yaitu batu
pujaan. Dalam bahasa Tondano disebut Panimbe. Ranting-ranting kering yang
disebut Rankang dipergunakan untuk merintangi tempat jalan.

*) Berikut catatan Boeng Dotulong :
Pemberian fam atau nama keluarga dimulai 4 Oktober 1864 (keputusan dari pemerintah Belanda yang termuat dalam lembaran pemerintah (staatsblad no. 142 dimana tercantum akan keharusan mendaftarkan nama pada kantor catatan sipil (BS). Dengan berlakunya peraturan ini maka seringkali terjadi nama yang sebelumnya telah dimiliki ditambahi nama ayah dan atau Opa sehingga muncul beberapa nama. Nama terakhir yang dibuat sebagai nama keluarga. Ini terjadi karena hendak membedakan nama-nama yang sama yang sudah ada sebelum peraturan ini berlaku.
Akibatnya terjadi nama yang sebelumnya merupakan nama panggilan menjadi fam. Hal ini membuat kakak beradik menjadi memiliki dua fam yang berbeda.
Contoh: Erungan/Gerungan dan adiknya Awilarang/Kawilarang menjadi dua keluarga yang berbeda. Demikian juga yang terjadi dengan Walewangko dan adiknya Palar (Kepala Walak Sonder Tua)
Belum lagi terjadi salah penulisan, misalnya : Ratumbuijasang, Ratumbuysang kemudian ada Ratumbuisang dan masih banyak yang lain.
Salah satu contoh teman saya Deny Sacul. Sampai saat ini dia menggunakan fam Sacul padahal seharusnya Sakul.
Daftar dibawah ini tentu saja tidak sempurna, masih banyak yang belum ada. Mari kita sama-sama saling melengkapi.

Daftar dan Arti Fam, nama Orang Minahasa:
A
Abutan : Pembersih
Adam : Tenang
Agou : Anoa
Akai : Penjaga
Alo, Aloan : Keberanian
Aling : Pembawa, member pertolongan
Alui : Pelipur lara
Amoi : Teman sekerja
Amon : Yang membangkitkan rasa sayang
Andu : Tempat bersenang
Anes : Tawakal
Angkouw : Keemasan
Angkuw : bunyi ingar bingar
Anis : Penghalau
Antou : Nama kembang
Arina : Tiang tengah
Assa : Pembuka jalan
Awondatu : Yang dikehendaki
Awui : Senang
Awuy : hujan pahala, berkat berkelimpahan
B
Batas : Pemutus
Bella : Pasukan
Besouw :Runcing
Boeng : sibuk selalu
Bojoh : Ranum, pendamai
Bokau : Bibit emas
Bokong : Mengikat
Bolang : Penangkap ikan
Bolung : Perisai
Bororing : Pembuat roreng
Boyoh : Pendamai
Buyung : Penurut
D
Damongilala: Benteng
Damopoli : Jujur dan adil
Dapu : Mematahkan
Datu : Pemimpin
Datumbanua : Kepala Walak
Dayoh : Karunia
Dededaka : Panah lidi hitam
Dendeng : Suara yang terang
Dengah : Hakim
Dewat : Menyeberangi
Dien : Dihiasi
Dimpudus : Cerdik kepalanya
Dipan : Ukuran depa
Dompis : Pekerja baik
Dondo : Prinsip
Dondokambei : Prinsip tetap
Donsu : Jimat penolak
Doodoh : Penggerak
Doringin : Penari
Dotulong : Pahlawan besar
Dumais : Menggenapi
Dumanauw : Pemenang
Dumbi : Didepan
Dungus : Berkedudukan
Dusaw : Pembuka
E
Egam : Menjaga
Egetan : Lonceng kecil
Ekel : Lirikan
Elean : Arah barat
Eman : Dipercaya
Emor : Lengkap
Endei : Dekat
Engka : Pegang
Enoch : Pilihan
Ering : Kurang besar
G
Ganda : Bambu besar
Gerung : Bunga ukiran
Gerungan : Bunga-bunga ukiran, tempat mencari pertolongan
Gigir : Mengikis rata
Gimon : Rupa yang indah
Girot : Pemutus
Goni : Cerdik
Goniwala : Cerdik akal
Gonta : Langkah
Gosal : Timbunan
Gumalag : Menanduk
Gumansing: Pembujuk
Gumion : Pegangan
I
Ilat : Menunggu
Imbar : Yang dibuang
Inarai : Baju jimat
Ingkiriwang : Dari angkasa, lereng gunung
Inolatan : Pegang tangan
Intama : Pembawa
Irot : teratur, paham
Ite : hanya
Item : Hitam
K
Kaat : Penglihatan
Kaawoan : Mampu kerja
Kaendo : Teman mapalus
Kaeng : Sempit
Kaes : Menyiram
Kainde : Ditakuti
Kairupan : Kekuatan
Kalalo : Amat berani
Kalangi : Dari langit
Kalempou : Mengunjungi
Kalempouw : Kawan baik
Kalengkongan: Tepat berjatuhan
Kalesaran : Pusat segala usaha
Kalici : Mempesona
Kaligis : Sama keluarga
Kalitow : Tertinggi
Kaloh : Sahabat setia
Kalonta : Perisai kayu
Kalumata : Pedang perang
Kamagi : Bunga hias
Kambey : Bunga hias
Kambong : Obor
Kamu : Pegang teguh
Kandio : Amat kecil berarti
Kandou : Bintang pagi
Kapantouw : Pembuat
Kaparang : Pandai mengukir
Kapele : Amat tegas
Kapoh : Pemuja
Kapoyos : Dukun pijat
Karamoy : Penunjuk
Karau : Antara
Karinda : Kawan serumah
Karundeng : Pengusut
Karuyan : Di kejauhan
Karwur : Subur
Kasenda : Kawan sehidangan
Kaseger: subur sekali
Katopo : Keturunan opo
Katuuk : Pemegang rahasia
Kaunang : Cerdik
Kawatu : Pendirian teguh
Kawengian : Bintang sore
Kawilarang : Diatas terbuka, angin puyuh
Kawulusan : Benteng
Kawung : Tersusun keatas
Kawuwung : Berkelebihan
Keincem : Penyimpan rahasia
Kekung : Pedang perisai
Keles : Bayi
Kelung : Perisah
Kembal : Agak lemah
Kembau : Kurang kuat
Kembuan : Sumber
Kenap : Genapkan
Kepel : Penakluk
Kerap : Seiring
Kere : Testa
Kesek : Penuh sesak
Kewas : Tumbuhan
Khodong : Kecil, menentukan
Kilapong : Batu kilat
Kindangen : Yang diberkati
Kirangen : Dimalui
Kiroiyan : Pengembara
Kodongan : Mengecil
Kojongian : Penggeleng kepala
Koleangan : Pemain
Kolibu : Banyak bekerja
Koloday : Saudara lelaki
Koly : Suka kerja
Komaling : Pembawa
Komaling : Penghormat
Kondoi : Lurus kedudukannya
Kontul : Kerja sendiri
Kopalit : Pendamai
Koraah : Suka panas matahari
Korah : Suka panas matahari
Korengkeng : Penakluk
Korompis : Hasil kerja yang baik
Koropitan : Penghukum
Korouw : Perkasa
Korua : Membagi dua
Kotambunan : Penimbun
Kountud : Kerja sendiri
Kowaas : Penggemar barang kuno
Kowonbon : Tahan uji
Kowu : Penempah
Kowulur : Ke gunung
Koyansouw : Pengipas
Kuhu : Menampakkan
Kulit : Kecukupan
Kullit : Cukup
Kumaat : Melihat
Kumaunang : Penyelidik cerdik
Kumayas : Membongkar
Kumendong : Pengumpul tenaga
Kumolontang : Melompat keliling
Kumontoy : Lurus hati
Kupon : Diharapkan
Kusen : Penutup
Kusoi : Cerdik
L
Lala : Berjalan
Lalamentik : Semut api
Lalowang : Perlumba
Lalu : Pendesak
Laluyan : Melintasi
Lambogia : Paras jernih
Lampah : Tak seimbang
Lampus : Tembus
Lanes : Kurang semangat
Langelo : Menapis
Langi : Tinggi
Langitan : Tinggian
Langkai : Dihormati
Languyu : Tanpa tujuan
Lantang : Berharga
Lantu : Penentu
Laoh : Manis
Lapian : Teladan
Lasut : Pemikir cerdas
Legi : Menipis
Legoh : Penelan manis pahit
Lembong : Pembalas budi
Lempas : Kedudukan
Lempou : Kunjungan
Lengkey : Dimuliakan
Lengkoan : Penghalang
Lengkong : Pendidik
Lensun : Diharapkan
Leong : Main
Lepar : Tujuan
Lesar : Halaman
Lewu : Tersendiri
Liando : Penimbang
Limbat : Berganti
Limbong : Ingat budi
Limpele : Penurut
Lincewas : Tumbuhan obat
Lintang : Bunyi-bunyian
Lintong : Pusat persoalan
Liogu : Jernih
Litow : Tinggi
Liu : Bijaksana
Liwe : Air mata
Loho : Perindu
Loing : Pengawas
Lolombulan : Bulan purnama
Lolong : Bulan
Lomboan : Lemparan keatas
Lompoliu : Pengajar
Lonan : Ramah
Londa : Perahu
Londok : Tinggi
Longdong : Penjaga
Lontaan : Pembuka jalan
Lontoh : Tinggi keatas
Losung : Pendesak
Lowai : Bayi lelaki
Lowing : Mengawasi
Ludong : Kepala negeri
Lumanau : Biasa berenang
Lumangkun : Penyimpan rahasia
Lumatau : Berpengetahuan
Lumempouw : Meliwati
Lumenta : Terbit
Lumentut : Bukti
Lumi : Meminggir
Lumingas : Membersihkan
Lumingkewas : Tepat dlm segala hal
Lumintang : Menunggalkan
Luminuut : Berpeluh
Lumoindong : Melindungi
Lumondong : Berlindung
Lumowa : Meliwati
Lumunon : Muka bercahaya
Luntungan : Memiliki jambul
Lutulung : Penolong
M
Maengkom : Penakluk
Maengkong : Mendidik
Mailangkai : Yang ditinggikan
Mailoor : Disenangi
Maindoka : Kecukupan
Mainsouw : Bersaudara 9
Mait : Obat pahit
Makadada : Memuaskan
Makal : Penutup lubang
Makaley : Melindungi/menutup
Makaliwe : Air mata
Makangares : Mengharap
Makaoron : Mengulung musuh
Makarawis : Puncak gunung
Makarawung : Tinggi usaha
Makatuuk : Hidup sentosa
Makawalang : Orang kaya
Makawulur : Dihormati
Makiolol : Selalu ikut
Makisanti : Dengan pedang
Malingkas : Tetap berada
Mamahit : Dukun obat pahit
Mamangkey : Pengangkat
Mamantouw : Penubuat
Mamanua : Pembuka negeri
Mamarimbing : Pemberi kesuburan
Mamba : Ditetapkan
Mambo : Penetapan
Mambu : Pemberi supa
Mamengko : Pemberi teka-teki
Mamentu : Pemberi rasa
Mamesah : Pembuka rahasia
Mamoto : Penjelasan
Mamuaya : Pemberi
Mamuntu : Mencapai puncak
Mamusung : Penangkal
Manalu : Ditingkatkan
Manampiring : Membuat jalan
Manangkod : Menahan musuh
Manapa : Pertanyaan
Manarisip : Membetulkan
Manaroinsong: Sumber air
Manayang : Pergi jauh
Mandagi : Menghiasi bunga
Mandang : Melambung tinggi
Mandey : Pandai
Manebu : Dewa peninjau
Manese : Bertindak dahulu
Mangare : Minta dibujuk
Mangempis : Merendahkan diri
Mangindaan : Tahan uji
Mangkey : Angkat
Mangowal : Pemancung
Mangundap : Berbahaya
Manimporok : Ke puncak
Manopo : Bersama datuk (opo)
Manorek : Mengganggu
Mantik : Meneliti/menulis
Mantiri : Pembuat benda halus
Mantoauw : Nubuat
Manua : Negeri
Manurip : Menyisip
Manus : Taruhan
Mapaliey : Menakuti musuh
Maramis : Menggenapi
Marentek : Tukang besi
Maringka : Berkekuatan
Masie : Tumbuhan obat
Masinambau : Tujuan pasti
Masing : Bergaram
Masoko : Pokok
Matindas : Ramping
Maukar : Menjaga
Mawei : Pembimbing
Maweru : Pembaharu
Mawikere : Teladan
Mawuntu : Kedudukan tinggi
Mekel : Lindungi
Mema : Berbuat
Mende : Pemalu
Mendur : Berguntur
Mengko : Teka-teki
Mentang : Pemutus
Mentu : Rasa
Mesak : Pendesak
Mewengkang : Pembuka jalan
Mewoh : Lemah lembut
Mince : Main
Mincelungan : Main perisai
Minder : Menderu
Mingkid : Pemberi acuan/konsep
Mogot : Penebus
Mokalu : Bersaudara
Mokolensang : Berdiam diri
Mokorimban : Pemberani
Momongan : Pemilik
Momor : Persatuan yang baik
Momuat : Pengurus jamuan
Mondigir : Meratakan
Mondong : Menyembunyikan
Mondoringin : Meratakan jalan
Mondou : Berangkat pagi
Mongi : Kuat kekar
Mongilala : Pengusir musuh
Mongisidi : Saksi dan bukti
Mongkaren : Membongkar
Mongkau : Mencari emas
Mongkol : Mematung
Mongula : Pemohon berkat
Moniaga : Kebesaran
Moninca : Pembuah ramai
Moningka : Penambah tenaga
Moniung : Menangis kecil
Mononimbar : Suka memberi
Mononutu : Pekerja tekun
Montolalu : Pembagi tugas
Montong : Pembawa
Montung : Pengangkat
Motto : Jelas
Muaya : Berani
Mudeng : Berdengung jauh
Mukuan : Mempunyai buku
Mumek : Penyelidik
Mumu : Simpanan cukup
Mundung : Bernaung
Muntu : Gunung
Muntu untu : Gunung bersusun
Muntuan : Ke gunung
Musak : Didesak
Mussu : Penjaga setia
N
Nangka : Diangkat
Nangon : Diangkat
Nangoy : Dipikul
Naray : Jimat
Nayoan : Diberi berkat
Nelwan : Tempat terbang
Nender : Gerakan
Ngala : Dirintangi
Ngangi : Di hati
Ngantung : Ditimbulkan
Ngayouw : Dimajukan
Ngion : Diperoleh
O
Ogi : Goyang
Ogot : Hakimi
Ogotan : Kena dendam
Oleng : Pikulan
Oley : Teladan
Ombeng : Kelebihan
Ombu : Cetakan rupa
Ompi : Tertutuo
Ondang : Pedang
Onsu : Jimat
Opit : Jepitan
Oroh : Perselisihan
Otay : Bertawakal
P
Paat : Pengangkat
Pai : Besar
Paila : Cukup besar
Pakasi : Pemberian
Palangiten : Sinar matahari
Palar : Tapak tangan
Palenewen : Dibenamkan
Palenteng : Peniup
Palilingan : Nasehat baik
Palit : Bekas luka
Panambunan : Timbunan besar
Panda : Pinter
Pandean : Amat pandai
Pandelaki : Pemegang bibit
Pandey : Pinter, pandai
Pandi : Penghancur
Pandong : Tenaga kuat
Pangalila : Berlebihan
Pangau : Jauh kedalam
Pangemanan : Dipercaya
Pangila : Berlebihan
Pangkerego : Suara nyaring
Pangkey : Diangkat
Pantonuwu : Tegas
Pantouw : Penolong bijaksana
Parengkuan : Kepala jimat
Paruntu : Tempat ketinggian
Paseki : Pengikat
Pasla : Tepat tujuan
Pauner : Tengah
Pele : Jimat
Pelengkahu : Emas tulen
Pendang : Pengajar
Pepah : Lemah lembut
Pesik : Pancaran bara
Pesot : Cekatan
Piay : Biasa
Pinangkaan : Tempat yang tinggi
Pinantik : Ditulis
Pinaria : Hubungan erat
Pinontoan : Menunggu
Pioh : Cucu
Piri : Semua satu
Pitong : Memungut
Pitoy : Diikuti
Podung : Dijunjung
Pola : Pengajak
Poli : Tempat suci
Polii : Pelita
Polimpong : Didewakan
Politon : Gembira selalu
Poluakan : Air berkumpul
Pomantouw : Penubuat
Ponamon : Pengasih
Pondaag : Pendamai
Pongayouw : Penghulu perang
Ponggawa : Pemberani
Pongilatan : Berkilat
Pongoh : Berisi padat
Ponosingon : Terbang
Pontoan : Menunggu
Pontoan : Menunggu
Pontoh : Pendek
Pontororing : Bercahaya
Poraweouw : Penunjukan
Porayouw : Perenang
Porong : Tudung kepala
Posumah : Pembagi
Potu : Tekun
Poyouw : Yang diberikan
Pua : Buah
Pungus : Pengawas
Punuh : Orang terdahulu
Purukan : Punya kedudukan
Pusung : Penangkal serangan
Putong : Penyelidik
R
Raintung : Daun bergerigi
Rambi : Bunyi merdu
Rambing : Bunyi suara merdu
Rambitan : Tambahan bunyi
Rampangilei : Kembar bersih
Rampen : Kelebihan
Rampengan : Berkelebihan
Ransun : Bawang
Ranti : Pedang
Rantung : Terapung
Raranta : Naik tangga
Rares : Sehat
Rarun : Sudah tua
Rasu : Penyimpan
Ratag : Terlepas
Ratu : Batu jumat
Ratulangi : Jimat dari langit
Ratumbuisang: Batu berbintik
Ratuwalangaouw: Batu berantai
Ratuwalangon: Batu panjang
Ratuwandang : Batu merah
Rau : Jauh
Rauta : Dewata
Regar : Bebas
Rei : Bebas celaka
Rembang : Burung rawa
Rembet : Berpegang teguh
Rempas : Memasak
Rengku : Tundukan
Rengkuan : Ditunduki
Rengkung : Dihormati
Repi : Pemikir
Retor : Penghalang
Rimper : Potong rata
Rindengan : Bergerigi
Rindengan : Sama-sama
Rindo-rindo : Suara gemuruh
Robot : Lebih
Rogahang : Berkeringat
Rogi : Banyak bicara
Rolangon : Berantai
Rolos : Kepala
Rombot : Dilebihi
Rompas : Penyimpan rahasia
Rompis : Pekerja baik/rukun
Rondo : Lurus
Rondonuwu : Bicara lurus
Rooro : Penggerak
Rori : Dihormati
Rorimpandey : Sempurna
Roring : Kemuliaan
Rorintulus : Cahaya
Rosok : Tepat
Ruaw : Bulan purnama
Ruidengan : Bersama
Rumagit : Menyambar
Rumambi : Membunyikan
Rumampen : Jadi satu
Rumampuk : Memutuskan
Rumayar : Mengibarkan
Rumbay : Tidak perduli
Rumende : Mendekati
Rumengan : Sejaman
Rumenser : Tetesan air
Rumimpunu : Yang dimuka
Rumincap : Berhati baik
Rumokoy : Membangunkan
Rumpesak : Kedudukan
Runturambi : Kehormatan
S
Salangka : Benda persembahan
Salendu : Banyak ide
Sambouw : Bunga kayu
Sambuaga : Bunga kayu cempaka
Sambul : Berlimpah
Sambur : Melimpah
Samola : Membesar
Sangkaeng : Paras kecil
Sangkal : Satu paras
Sarapung : Perkasa
Saraun : Sepintas remaja
Sarayar : Buka jemuran
Sariowan : Pelancong
Sarundayang : Pengiring
Saul : Lengah
Seke : Perorangan
Seko : Sentakan
Sembel : Penuh
Sembung : Bunga
Semeke : Tertawa
Senduk : Senang
Sengke : Guling
Sengkey : Pengguling
Senouw : Cepat
Sepang : Cabang jalan
Sigar : Kaya
Sigarlaki : Kekayaan
Simbar : Terbuang
Simbawa : Banyak kemauan
Sinaulan : Penasehat
Singal : Perintang musuh
Singkoh : Dibatasi
Sinolungan : Memprakarsai
Sirang : Potongan
Siwu : Penghancur musuh
Siwy : Siulan
Solang : Pedang
Somba : Pelindung
Sompi : Penyimpan rahasia
Sompotan : Meluputkan
Sondakh : Pengawas
Soputan : Letusan
Sorongan : Bergeser
Suak : Kepala
Sualang : Karunia
Suatan : Pengharapan
Sumaiku : Panjang idenya
Sumakud : Menewaskan
Sumakul : Menewaskan
Sumangkud : Terikat
Sumanti : Mempergunakan
Sumarandak : Gemerincing
Sumarauw : Pendidik
Sumele : Pembatas
Sumendap : Menyinari
Sumesei : Pengawas
Sumilat : Mengangkat
Sumlang : Main pedang
Sumolang : Memainkan pedang
Sumual : Memiliki kelebihan
Sumuan : Mengesahkan
Sundah : Tidak menetap
Sungkudon : Buah persembahan
Suot : Puas
Supit : Menjepit musuh
Surentu : Banyak bicara
Suwu : Serbu
T
Taas : Kuat
Tairas : Terangkat dari dalam
Talumepa : Berjalan didaratan
Talumewo : Perusak
Tambahani : Senang bersih
Tambalean : Menuju Barat
Tambarici : Dibelakang
Tambariki : Dibelakang
Tambayong : Gemar kekayaan
Tambengi : Amat cepat
Tambingon : Keliling
Tamboto : Menghias kepala
Tambun : Timbun
Tambunan : Timbunan
Tambuntuan : Puncak tinggi
Tambuwun : Menandingi
Tamon : Disayangi
Tampa : Bunga
Tampanatu : Bunga api
Tampanguma : Bunga mekar
Tampemawa : Turun kelembah
Tampemawa : Turun kelembah
Tampenawas : Memotong daun
Tampi : Setia
Tampinongkol: Suka berkelahi
Tandayu : Pemuji
Tangka : Amat tinggi
Tangkere : Teladan
Tangkow : Nyanyian
Tangkudung : Perisai pelindung
Tangkulung : Perisai pelinding
Tanod : Tambu
Tanor : Tambur
Tanos : Teratur
Tarandung : Jalan
Taroreh : Diangkat
Taulu : Dijunjung
Tawas : Penawar mujarab
Tendean : Tempat berpijak
Tengges : Tempat memasak
Tenggor : Menghilang
Tengker : Bergemuruh
Terok : Pedagang keliling
Tewu adalah bahasa tua;
berati "menebang, mencabut, membongkar:hilang;mati lemas.
Tidayoh : Senang dihormati
Tiendas : Berkurang
Tikoalu : Penakluk
Tikonuwu : Pandai bicara
Tilaar : Kerinduan
Timbuleng : Pemikul
Timpal : Persekutuan
Tinangon : Terangkat
Tindengen : Pemalu
Tintingon : Melambung
Tirayoh : Senang dihormati
Tiwa : Menaiki puncak
Tiwow : Berniat
Toalu : Didepan
Todar : Bertahan
Togas : Pantang surut
Tololiu : Penghambat
Tombeng : Secepat angin
Tombokan : Berkelebihan
Tombokan : Pemukul akhir
Tompodung : Dijunjung
Tompunu : Membuyarkan musuh
Tongkeles : Percepat
Tooi : Pengikut
Torar : Biasa matahari
Torek : Berkekurangan
Towo : Dari atas
Tuegeh : Tumpukan
Tuera : Perintah
Tulandi : Pemecah batu
Tular : Penasehat
Tulenan : Tetap tolong
Tulung : Pandai menolong
Tulus : Penengah
Tulusan : Menengahi
Tumanduk : Pelindung
Tumangkeng : Merombak
Tumatar : Kebiasaan
Tumbei : Berkat
Tumbelaka : Diberkati
Tumbol : Penopang
Tumbuan : Kaya
Tumembouw : Berteman
Tumengkol : Penahan
Tumewu : Melenyapkan
Tumilaar : Yang dirindukan
Tumilesar : Telentang
Tumimomor : Tempat yang baik
Tumiwa : Ingatan
Tumiwang : Mengingat
Tumober : Hadiah
Tumondo : Tujuan pasti
Tumonggor : Disiapkan
Tumundo : Pembawa terang
Tumurang : Pemberi bibit
Tumuyu : Yang dituju
Tunas : Asli
Tundalangi : Tatapan dari langit
Tungka : Terangkat
Turang : Menopang
Turangan : Berkelebihan
Tuwaidan : Lengkap
Tuyu : Penunjuk
Tuyuwale : Menuju rumah
U
Uguy : Pembawa rejeki
Ukus : Kurang gemuk
Ulaan : Ditakuti
Umbas : Kuat bersih
Umboh : Penolak bahaya
Umpel : Menyenangkan
Undap : Cahaya sinar
Unsulangi : Diatas
Untu : Gunung
W
Waani : Pahlawan
Wagei : Tertarik
Wagiu : Cantik/rupawan
Waha : Bara api
Wahon : Moga-moga
Wakari : Teman serumah
Wala : Cahaya
Walalangi : Cahaya dari langit
Walanda : Cahaya berlalu
Walandouw : Cahaya siang
Walangitan : Cahaya kilat
Walean : Komplek rumah
Walebangko : Rumah besar
Walelang : Rumah tinggi
Waleleng : Rumah tersendiri
Walian : Dukun
Walintukan : Taufan
Waluyan : Lewat
Wanei : Prajurit
Wangania : Buat sekarang
Wangko : Besar
Wantah : Patokan
Wantania : Patokan tetap
Wantasen : Yang jadi patokan
Warouw: pemberani, keras,tinggi, bersemangat, menghalau.
Wariki : Pendidik
Watah : Berani
Watti : Nubut
Watugigir : Batu licin
Watuna : Biji bersih
Watung : Timbul terus
Watupongoh : Teguh
Waturandang : Batu merah
Watuseke : Berani
Wauran : Cabut pilihan
Wawoh : Ketinggian
Wawointama : Cita-cita tinggi
Wawolangi : Di ketinggian
Wawolumaya : Diatas puncak
Waworuntu : Diatas gunung
Weku : Penasehat
Welong : Kurang daya
Welong : Pemikul
Wenas : Penyembuh
Wenur : Persembahan
Weol : Penasehat
Wetik : Berperan
Wilar : Pembuka
Winerungan : Menghiasi
Winokan : Men coba
Woimbon : Bercahaya
Wokas : Penyelidik
Wola : Cahaya
Wondal : Jimat
Wongkar : Membangun
Wonok : Peruntuk
Wonte : Kuat teguh
Wooy : Hujan rahmat
Worang : Kuat ikatan
Worotikan : Pancarana api
Wotulo : Pembersih
Wowilang : Pendorong
Wowor : Obat kesohor
Wuisan : Pengusir
Wuisang : Mengusir
Wulur : Puncak
Wungkana : Gelang jimat
Wungow : Bicara seenaknya
Wuntu : Gunung
Wurangian : Pemarah
Wuwung : Kelebihan
Wuwungan : Diatas atap
 
Tambahan dari  Boeng Dotulong :

Arti nama-nama Minahasa.
Abuthan                                    =  Pembersih, kata2 makian. p)
Adam                                         =  Tenang. r)
Agow                                         =  Anoa. r)
Alo’   (l)                                     =  Laki2 berani p); keberanian.
Ampè / Ampèt   (p)                  =  Telah genap; bersandar. g); memegang kuat. i); hiasan pada
                                                       senjata. n)
Andu / Andu’                           =  Tempat bersenang, kesenangan. p)
Anes                                          =  Berserah kepada kehendah Tuhan (Tawakal). r)
Angkouw                                  =  Keemasan. r)
Apouw / Ampouw                   =  Sehati. d); tuba (racun ikan) p); tumbuhan yg merayap ke atas. e)
Assa’                                         =  Pembuka jalan. r); nama pohon (Miscanthus japonicus And.) p);
                                                       tumbuhan jenis gelagah e); penyakit. h)
Awondatu                                 =  Yang dikehendaki. r)
Awui                                          =  Senang r), kelimpahan.
Barina                                         =  Kelainan. t)
Boèng                                        =  Sibuk selalu.
Bojoh / Bojo’ (baca: Boyo’)  =  Pendamai; ranum. p)
Bokau                                         =  Bibit emas. r)
Bolang                                       =  Penangkap ikan. r)
Bolung                                       =  Perisai. r)
Bororing                                    =  Pembuat roring. r)
Dajoh                                         =  Karunia. r)
Danainmenta / Danainenta     =  Lengket pada minyak, lengket karena berminyak; gerakan lamban
                                                     karena berminyak: terdiri dari kata “dana= minyak melekat”,
                                                        k. imbuhan “in”  dan “enta=perlahan”. e)
Damapoli                                   =  Jujur dan adil. r)
Danes                                         =  Mengeringkan dedaunan. e)
Dendèng / Dèngdèng              =  bunyi suara buram. e); menabrak, membanting.
Dèngah / Dènga                       =  Tarik lurus. e); hakim. r)
Dèngkong / Lèngkong            =  Sempit ditengah d); bentuk bulat; lengkung  e); pendidik. r)
Dien                                            =  Dihiasi. r)
Dompis / Rompis                      =  Pekerja baik. r)
Dimpudus                                  =  Cerdik. r)
Dondokambèi                           =  Prinsip tetap. r)
Dongari / Doringin / Dongin  =  Berputar betul seperti gasing, penari.
Doodoh                                     =  Penggerak. r)
Dotulong / Lotulong               =  Kepala dari pemimpin2, pahlawan besar; tetap bertahan. d)
Dumais                                       =  Mengenapi. r)
Dumanauw / Lumanauw         =  Pemenang. r)
Dungus                                      =  Berkedudukan. r)
Egam                                          =  Menjaga. r)
Ekel                                             =  Lirikan. r)
Elèan                                          =  Arah Barat. r)
Èman                                          =  Percaya. e.p); menaruh perhatian; menuruti. g)
Èmor                                           =  Lengkap. r)
Ëndo’/Ëndoh                            =  Hari, Matahari. i.e.p)
Èndo                                           =  Ambil, dapat. e)
Enoch / Enoh / Enok                =  Ditentukan, dipilih, pilihan. r)
Ganda                                         =  Bambu besar. r)
Gerungan/Erungan                   = Tempat mencari pertolongan. p); lihat juga: Eurungan.  a, k)
Eurungan/Erungan/                  = Berkembang karena inteligensi a); diselubungi awan tipis; meluncur
                                                     kebawah. h)
Werungan.                                 = bunga-bunga ukiran. w)
Gerung / Werung / Erung          =  Kembang kepandaian; meluncur kearah bawah; bunga ukir,
                                                       lindung. p)
Gimon                                         =  Rupa yang indah. r)
Girot                                           =  Pemutus. r)
Gonie  (baca: Goni)                   =  Cerdik. r)
Gonta                                         =  Langkah. r)
Gosal                                          =  Bercampuran, rupa-rupa, Talimburang. a); timbunan. r)
Hoesen / Koesen (baca: Husen)     = Penutup. r)
Inarai                                          =  Baju jimat. r)
Ines                                            =  Halus, kecil.
Inkiriwang                                 =  Melangkah miring ke atas c); dari angkasa; lereng gunung.  e.p)
Intama                                        =  Pembawa. r)
Intu’                                           =  Bertanya kemudian, selidik, sedikit berasap. n)  
                                                        (nama: Bolaäng) g.h)
Irot / Iroth / Irooth                     =  Paham; teratur. i): perpendekan dari “girot”
Item / Itang                                =  Hitam. d.p)
Itow                                            =  Nama bujukan bagi anak lelaki: “Litow = anak muda”. h)
Jontoi / Ontoi                            =  Jongkok, berjongkok.
Kaät / Ka’at / Kumaät               =  Rampas/merampas k); angkat kepala e); jenis serangga. h); lebar/
                                                        luas g.h); penglihatan. r)
Kaàwoan / Kaàwuan                 =  Mampu kerja; terkena debu. p)
Kaèmor                                      =  Terlengkap, paling lengkap.
Kaèng                                        =  Sempit. r)
Kainde                                       =  Menakutkan. r)
Kairupan                                    =  Kekuatan. r)
Kalalo’ / Kalaloh                      =  Sangat berani. a), Terutama; pemberani b.d); menolak, terkeluar,
                                                       terbuang.  b)
Kalempouw                               =  Kawan baik, mengunjungi. r)
Kalangi’                                     =  Kawan selangit, dari langit. r); pemberani.
Kalengkoan                               = Tempat yang dapat dilalui. a)\
Kalengkongan                          =  Tepat berjatuhan. r)
Kalesaran                                  =  Pusat segala usaha. r)
Kalièi                                          =  Sangat kacau: KD  “Liei” = kacau, tak teratur  v); Mempesona. r)
Kaligis                                        =  Sama keluarga. r)
Kalo’/ Kaloh                             =  Kawan, teman. i.p); Sahabat setia. r)
Kalonta                                      =  Terliwat
Kalumata                                   =  Pedang perang. r)
Kamagi                                       =  Perhiasan manik2 berbentuk pipa dari emas/perak atau sepuhan. c)
Kamasi                                       =  Sangat waspada.
Kambei                                       =  Bunga hias. r)
Kamu                                          =  Pegang teguh. r)
Kandio                                       =  Amat kecil. r)
Kandouw / Kandou                 =  Bintang pagi r) (Venus), Kaendoan / Kaadoan  (bahasa Toundano).
Kapantouw                               =  Pembuat. r)
Kaparang                                   =  Pandai mengukir. r)
Kapoh                                        =  Pemuja. r)
Kapojos (dibaca: Kapoyos)       =  Dukun pijat. r)
Karamoi                                     =  Biasa tampil. a); penunjuk. r)
Karau / Karou                            =  Antara. r)
Karinda                                      = Seruan kaget; banyak bicara. a); Kawan serumah. r)
Karundeng                                 =  Sangat berombak: KD “rundeng” d); merah sekali p); pengusut. r)
                                                        (dlm buku:  “An Amut Un Tarendem Ne Tonsea Ipawolanda”
                                                        th.1904, oleh: Jan ten Hove tercantum “rundeng” =
                                                         roodgekant  wokablad vooreen offerfeest  = daun woka (Livistona
                                                        rotundifolia Mart.) untuk mengadakan pest sakral)
Karwur                                       =  Subur. r)
Kaseger                                      = Subur sekali. a)
Kasenda                                     =  Kawan sehidangan. r)
Kasingka’                                  =  Sangat rajin kerja;  kasingkap; mondar-mandir, mengembara. h)
Katopo                                       =  Keturunan opo’. r)
Kontul / Kountul                       =  Kerja sendiri. r)
Katuùk                                       =  Pemegang rahasia. r); diam-diam, membungkuk.
Kaunang                                    =  Cerdik. r)
Kaurow / Karau                        =  Antara. r)
Kawatu                                      =  Pendirian teguh. r); babatu.
Kawengian                                =  Menjadi gelap d); Bintang sorè. r)
Kawilarang                                =  Rambut musuh tergantung dipinggang. d); luas pemikiran. r)
Kawulusan                                =  Benteng. r)
Kèddè / Kèrrè / Kèllè               =  Muka, dahi p) (Tèsta = Malayu Manado); contoh; serupa, sama. k)
Keintjem (baca: Keincem)      =  Mengunci, menutup, dodèso/lasso, disiapkan untuk perkebunan. h)
Kekung                                      =  Penangkis, perisai pedang. r)
Kembi’                                       = Pecah hingga terbelah;  kebi’
Kembuan                                   =  Sumber. r)
Kerut (nama pria)                     = Bulu ayam jantan yg panjang, sejenis “aga”; diiris halus;
                                                       tustus/kerak. h)
Kesek                                         =  Penuh sesak. r)
Kilapong, Kila’pong                  =  Batu-Kilat.
Kilis                                            =  Tusuk. c)
Kimbal / Kibal                            = Telah menambur; KD “kibal” = tambur, dng sisipan  im
                                                         menjadi “ki’mbal”. p)
Kindangen                                   =  Yang kaya, yang diberkati. r)
Kiroyan                                      =  Pengembara. r)
Kojongian (baca: Koyongian)  =    Licah; senang dandan, tau berlenggang p); geleng kepala. r)
Kolowai                                     =  Saudara lelaki. r)
Komaling                                   =  Penghormat. r)
Konda   (p)                                =  Meloncat h), pagar. g)
Kondoi                                       =  Lurus kedudukannya. r)
Kopalit                                       =  Pendamai. r)
Korah / Kora’                            =  Nakal. a)
Koraah, Koraäh                        =  Suka panas matahari. r)
Korengkeng                              =  Rajin p); bunyi halus k):Kurengkeng = rambut keriting k);
                                                       penakluk. r)
Korompis                                   =  Yang menepati janji p); hatsil kerja yang baik. r)
Koropitan                                   =  Penghukum. r)
Korow / Korouw                        =  Perkasa. r)
Korua                                         =  Membagi dua. r)
Kotambunan                               =  Penimbun. r)
Kowaas, Kowaäs                        =  Penggemar barang kuno. r); Sakit karena kelelahan.
Kowulan                                    =  Putih bersih seperti bulan. d.i)
Koyansouw                                =  Pengipas. r)
Kuhu                                          =  Menampakkan.
Kulai’                                         =  Bongkar, kocar kacirkan p); jenis rempah-rempah. e)
Kulit                                           =  Lemak, menjadi gemuk h); cukup. r)
Kumaat, Kumaät                       =  lihat: Kaät.
Kumajas (dibaca: Kumayas)     =  Membongkar. r)
Kumèndong                               =  Memutar; membuat tali, membikin benang. k); memintal tali. p)
Kumolontang                            =  Melompat keliling. r)
Kumontoi                                  =  Lurus hati. r); membungkuk
Kusen                                        =  Penutup. r)
Kussoi / Kussoj                         =  Cerdik dan sehat. r); Hidup senang, teriakan kesenangan. h)  

Lakowulan (n.p.)                       =  Kepala bertutup emas.
Lalamentik                                 =  Semut –Api  g); Jenis semut yang besar (suka disebut
                                                        “semut-api”). h) semut merah yg besar dan buas. p)
Lalu / La’lu                                =  Acara religi untuk  “buang sial” h.i); pendesak. r)
Lanah                                         = Jenis pohon “Fleurya interrupta Gaud.”; yg dituju tidak didapat. h)
Langkai (bah. Tua)                    =  Sekonyong2 cepat naik  g); dihormati.
Langoi                                        =  Tinggi-besar; lalulalang; jenis kekayuan.
Lantang                                      =  Memuji sendiri d); berharga. r)
Lantu                                          =  Penentu. r)
Laöh                                           =  Manis.
Lapian                                        = Dari siapa  terambil; menarik dari sesuatu. h)
Lasut / La’sut                             =  Lebih dahulu dari yang lain, terbuka jalan; pemikir cerdas. p)
Lawanan / Dawanan                  =  Pantai. e.k); turun kepantai, berminyak. g); lautan, laut. p)
Legi’ / Leghi’                             =  Lebar serta tipis, menipis; pandai berlenggang. p)
Legoh                                         = Penelan  manis-pait. r)
Lèmbè’ / Dèmbè’                       =  Diseberang e); meniti, berjalan di atas jembatan. p)
Lèmbong                                    =  Pembalas budi  ); bunyi, ribut (hongi). r)
Lèngkèi                                      =  Besarkan (membesarkan perkampungan dengan menyorong
                                                        sebagian dari padanya) g); bendera yang berkibar g);
                                                        dimuliakan.r)
Lèngkong                                  =  Salah urat, terenggut dari sendi/hubungan, terlipat; melangkahi h); 
                                                        lihat juga:  Dèngkong.
Lewesan                                    =  Berkelebihan; k.a. “Lewes” = seperti pancuran.
Lili                                             =  Peramah, selalu rindu bertemu p); mencintai g); kecintaan h); 
                                                        manja. e)
Lineilei, Lineliei                         = Telah bersih; berhiaskan manyi2 pd topi “walian”. a)
Linengker                                   = Memiringkan, membalikkan pd sisinya. f)
Lingkan                                      = Dibuka, diangkat. a)
Lingkanbènè                               =  Padi yang terbuka/terangkat;
                                                       lihat “lingkan”; em Bènè, wènè = padi. a)
Lintjewas (baca: Lincewas)       =  Tumbuhan-obat. r)
Linu                                            =  Tau hemat.a)
Liwe                                            =  Melengkung. g); air mata. r)
Loho                                           =  Iri hati; fitnah. k); perindu. r)
Loing / Loling                            =  Sedikit e.p); pengawas. r)
Lolè’ / Lolèh                              =  Penghiburan, kekendoran s.v); melunakkan,meringankan,
                                                         menhiburi h); kelenjar. p)
Lolong                                        =  Bernyanyi nyanyian sembahyang a); badan besar serta kuat, jenis
                                                       pohon palem. d); bulan. r)
Loloüren                                     =  Bintang Pagi  (Venus). g)
Lombogia                                   =  Paras jernih. r)
Londah / Londa                          =  Tidak berkenan. a); sangat, keras;  perahu.
Lontoh / Lonto’                          =  Tinggi ke atas. r)
Loindong                                   =  Naung, melindungi. h)            
Liondong                                   =  Berbeda besar. h)
Longdong / Londong                 =  Melindung d); penjaga. r)
Ludong                                      =  Kepala Negeri. r)
Lumalandang                            = mengurung; menaruh dalam kandang; KD “landang”= kurung.
Lumalundung /                          = Melindungi sambil menongkat a); bersamaan dng bunyi;
                                                      menempati tempat
Lumaluindung                           = kepunyaan lain orang: KD  “luindung”. h)
Lumanan/Lawanan/Dawanan  =  Turun kepantai; berminyak.  g); biasa berenang. r); tetap awet;
                                                       memanjurkan;  
Lumanauw.                                 = mengampuni. a)
Lumelej                                      = Menjadi bersih;  lumelenei = muka jernih;
                                                       lihat juga Linelei / lineilei.
lumelenei                                    = Muka jernih; lihat juga Linelei / lineilei.
Lumeno                                      =  Jernih k.p); menjadi terang. p)
Lumentut                                    =  Terapung, naik. k)
Lumi                                           =  Seorang yang dapat menakutkan d); meminggir. r)
Lumimu’ut                                = Memberi/Mengeluarkan keringat. a)
Lumingkewas                            =  Tepat dalam segala hal. r)
Lumolinding/Lumolindim(p)    =  Menongkat.   )
Luntungan                                  =  Menjadi bengkak  v); menonjol, berjambul. w)
Maampun (-g)                             = Mengampuni
Maengkom                                 =  Dibuat sama, kerja sama p); penakluk r)
Maidangkai                                =  Naik dengan tiba-tiba. p); yang ditinggikan. r)
 Mailangkay                                = (lihat: Maidangkai)
Mainsiow                                   =  Yang menjadi sembilan.a)
Mait                                            =  Obat-pait. r)
Makalew                                    =  Menutup a.p), melindungi; lembing tembaga. a)
Makaliwè                                   =  Berair-mata r); yang sanggup meratakan tetanaman. d)
Makarimbu                                = Berselempang.
Makawalang                              =  Orang kaya. r)
Malinen                                     = Membawa-bawa. k)
Malingka                                   = Berdebar, sedang bergerak.
Malonda                                    = lihat  Londa; ta dikenan a); berperahu.
Mamahit                                    = Beruntung, selamat a); dukum obat-pait. r)
Mamangkej                               = Biasa menyorong . a)
Mamarimbing                            = Biasa mencari; berhiaskan bulu ayam jantan. a)
Mambu, Mambo’                      = Berusaha menjangkau, mencapai a); menentukan, ketetapan;
                                                      pemberi rupa; menjangkau. n)
Mamentu’                                  =  Pemberi rasa, biasa membuat pait. a)
Mamesah                                   =  Putusan dijalankan   ); pembuka rahasia. r)
Mamuaja (baca: Mamuaya)     = Biasa memberanikan diri, pemberi keberanian. a); Pemberi
                                                     keberanian. r)
Mamusung                                =  Penangkal. r)
Manampira                                = Suka bertanya-tanya.
Manampiring                            =  Membuat jebakan. r)
Manarek / Manorek                  =  Mengganggu. r)
Mandagi                                    =  Panas terik Matahari d); bunga penghias. r)
Mandang                                   =  Melambung tinggi. r)
Mandei                                      =  Bijaksana d), mengunakan pikiran; dengan keyakinan. n)
Mandolang                               = Mencari. a)
Mangindaän                             =  Beras untuk pelayanan religi: KD “ra’an” w); tahan uji. r)
Mangundap                              =  Berbahaya. r)
Maniga, Manege                      = Bergemuruh. k); berhiaskan loncèng tembaga “règèt”
                                                     oleh pemimpn relegi. h)
Manimporok                           =  Kepuncak, berusaha untuk mencapai puncak; perwujudan/per-
                                                        sonifikasi dari Gunung yang besar.  ( juga nama Gunung di
                                                        Minahasa-Selatan) a)
Manoppo                                   =  Dapat membantu / menolong d); bersama datuk. r)
Mantiri                                       =  Bercahaya gilang-gemilang a); pembuat benda halus. r)
Mapaliei                                     =  Suruh menakuti musuh. a)
Maramis                                     = Menghabiskan, menggenapi, membetulkan. a); yang genapi. a, r)
Maringka                                   =  Ada tanda- gaduh / hidup c); berkekuatan. r)
Masinambouw                          =  Jadi memotong miring a); tujuan pasti. r)
Masing                                      =  Bergaram.r)
Massie                                       =  Waspada,

Kota Tondano

Kota Tondano merupakan ibukota Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Kota Tondano meliputi empat dari 19 kecamatan yang ada di Kab...