Wednesday, September 25, 2013

Sejarah Musik Kolintang



SEJARAH  RIWAYAT KOLINTANG


KOLINTANG DAN PERKEMBANGANNYA.
Kolintang merupakan alat musik kayu khas dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar yaitu kayu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar).


Kata Kolintang berasal dari bunyi : Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah). Dahulu Dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain kolintang: "Mari kita ber Tong Ting Tang" dengan ungkapan "Maimo Kumolintang" dan dari kebiasaan itulah muncul nama "KOLINTANG” untuk alat yang digunakan bermain.


KOLINTANG BAND
Bentuk ”Kolintang Band” pertama muncul diwilayah tonsea Minahasa sekitar tahun 1940-an, menurut Bapak Alfred Sundah (1990) para pemusik kolintang Band Tonsea masih malu-malu karena menggunakan alat musik melodi dari kayu buatan mereka sendiri. Tapi NELWAN KATUUK tidak peduli bahkan menikmati orkes musik yang baru ini justru karena dia Tuna Netra.

Yang menamakan Xylophone kayu dengan sebutan KOLINTANG bukanlah NELWAN KATUUK tetapi masyarakat Tonsea, hingga muncul dua istilah yakni kolintang kayu dan kolintang tembaga (Gong).
Dengan komposisi peralatan musik seperti inilah jenis musik kolintang band menjadi terkenal di masyarakat Minahasa, Xylaphone kayu buatan sendiri, lagu cipataan sendiri dan aransemen lagu dibuat sendiri, kreasi musik tidak tergantung pada siapapun.
Lahirnya musik kolintang band tidak telepas dari karya musik Nelwan Katuuk yang membuat alat musing Xylophone kayu bertangga nada diatonis yang akhirnya menjadi terkenal diseluruh Minahasa.
Nelwan Katuuk lahir pada tanggal 30 maret 1920, pada usia 12 tahun telah menjadi pemukul kolintang perunggu (Gong) untuk memanggil para pekerja Mapalus. Dia menggunakan nada (14*)
/ 11 55 3 5 / 11 55 3 5 /
Pada usia 20 tahun Nelwan sudah dapat memainkan biola dan alat musik Hawaien, tapi kedua alat musik itu sudah sangat sulit ditemukan di Minahasa. Lalu seseorang bernama William Punu membuat alat musik Xylophone kayu (Tetengen) bertangga nada diatonis untuk dimainkan sebagai melodi menggantikan Hawaien (15*).
Tahun 1943 setelah Jepang mendarat di Minahasa pada perang dunia ke-II, seorang Jepang memberikan alat musik Hawaien, sehingga Nelwan Katuuk menggunakan tiga alat musik sebagai melodi dalam pertunjukan musiknya. Xylaphone dari kayu Wanderan yang kemudian disebut kolintang kayu, biola dan hawaien, kelompok musiknya dinamakan ”NASIB” denga anggota: (16*)
Nelwan Katuuk : Melodi merangkap Penyanyi
Daniel Katuuk : Gitar akustik
Budiman : String bass
Lontoh Katuuk : Jukulele
Tahun 1945 menciptakan lagu instrumentalia diberi judul ”Mars New Ginea” mendapat ilham dari kekalahan Jepang di Papua (Irian) oleh sekutu (Amerika-Autralia), pada tahun 1957 lagu ini sering didengarkan di radio Australia dengan nama ”Cipson”.
Kelompok musik kolintang band lainnya yang terkenal dimasyarakat Minahasa pada peride itu bernama ”Tumompo Tulen” :
Leser Putong : Melodi
Bibi Putong : String Bass
Wakkari Tuera : Gitar akustik
Usop : Jukulele
Doortje Rotty : Penyanyi
Kolintang band ini dan lainnya tidak menciptakan lagu dan hanya mengisi acara hiburan musik, hingga karya musiknya tidak menembus jaman menuju keabadian seperti karya musik dan lagu Nelwan Katuuk.
Sekitar tahun 1950-an kolintang band mendapat sebutan nama lain yakni orkes kolintang, tapi dalam penampilannya lebih populer disebut ”Kolintang Engkel” Karena hanya menggunakan satu alat kolintang kayu berfungsi sebagai melodi (17*)

(14*) Rachel Katuuk, Suwaan Tonsea 29 Mei 2007. (Wawancara)
(15*) Jantje Dungus, Suwaan Tonsea 28 Mei 2007. (Wawancara)
(16*) Rachel Katuuk, Suwaan Tonsea 29 Mei 2007. (Wawancara)
(17*) Jantje Dungus, Suwaan Tonsea 29 Mei 2007. (Wawancara)

Orkes kolintang kemudian mulai berkembang sampai keluar Minahasa. Antara sampai di tanah Jawa tepatnya di Bandung, bernama kolintang ”Maesa Bandung” tahun 1959.
Orkes Kolintang pimpinan; Hannes Undap ini terdiri dari;
Melodi : Nico Koroh, Gitar Akustik : Reni Mailangkai, Jorry Mowilos, Jukulele : Ferdie Lontoh
bersama Ben Makalew, String Bass : Jessy Wenas
Penyanyi : Elly Doodoh dan Winter Sisters
Karena alat musik kolintang yang dipesan dari Manado tidak punya kaki, maka dalam pertunjukan pentas kolintang diletakkan pada dua buah kursi.

Orkes Kolintang
Walaupun sudah berganti nama orkes kolintang periode 1950 – 1964, tetapi penampilannya masih mirip kolintang band, dan sudah mulai menggunakan nada ½ (setengah) : di – ri – fi – sel – le .

Para pemain melodi kolintang kayu pada periode ini antara lain; (18*) 


  1. Janjte Dungus (Suwaan – Tonsea) Kolintang ” Karpilo”
  2. Josep Iwi Sundah (Lembean)
  3. Gustaaf Warouw (Tondano) Kolintang ”Rayuan Masa”
  4. Bert Rako (Kakaskasen – Tomohon)
  5. Worang Ransun (Maumbi – Tonsea )
Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat "string" seperti gitar, ukulele dan stringbas.


Tahun 1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan.
Saat ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.



PERALATAN & CARA MEMAINKAN.
Setiap alat memiliki nama yang lazim dikenal. Nama atau istilah peralatan Musik kolintang selain menggunakan bahasa tersebut diatas juga memiliki nama dengan menggunakan bahasa Minahasa, dan untuk disebut lengkap alat alat tersebut berjumlah 9 buah. Tetapi untuk kalangan professional, cukup 6 buah alat sudah dapat memainkan secara lengkap. Kelengkapan alat tersebut sebagai berikut:

M - Melody 1    [Ina Esa]
     - Melody 2   [Ina Rua]
     - Melody 3   [Ina Taweng]

 A - Alto 1  [Uner]
       Alto 2  [Uner Rua]

 U - Alto 3/Ukulele  [Ka Telu]
 T - Tenor 1  [Ka Rua]
       Tenor 2  [Karua Rua]
 C - Cello  [Cella]
 B - Bass  [Loway]


MELODY  [Ina Esa/Rua/Taweng]
Fungsi pembawa lagu, dapat disamakan dengan melody gitar, biola, xylophone, atau vibraphone. Hanya saja dikarenakan suaranya kurang panjang, maka pada nada yang dinginkan; harus ditahan dengan cara menggetarkan pemukulnya( rall). Biasanya menggunakan dua pemukul, maka salah satu melody pokok yang lain kombinasinya sama dengan orang menyanyi duet atau trio (jika memakai tiga pemukul). Bila ada dua melody, maka dapat digunakan bersama agar suaranya lebih kuat. Dengan begitu dapat mengimbangi pengiring (terutama untuk Set Lengkap) atau bisa juga dimainkan dengan cara memukul nada yang sama tetapi dengan oktaf yang berbeda. Atau salah satu melody memainkan pokok lagu, yang satunya lagi improvisasi.




ALTO I - 2  [Uner Esa/Rua]
Adalah alat Pengiring [gitar], pemukul [stik] terdiri dari 3 [tiga] buah, untuk mengetuk nada-nada dasar/rangkuman sesuai kebutuhan dan tuntutan lagu yang dibawahkan, seperti nada C; yang akan di pukul adalah nada [1] -  [3 - 5].
Nada 3 - 5 adalah rangkuman dari Nada C=1, Jadi C = 1 - 3 - 5.




ALTO 3/Ukulele  [Ka Telu]
Pada kolintang, alat ini sebagai ‘cimbal’, karena bernada tinggi. Maka pemukul Alto3 akan lebih baik jika tidak berkaret asal dimainkan dengan halus agar tidak menutupi nada suara yang dihasil oleh Melody (lihat petunjuk pemakaian bass dan melody contra).

TENOR  1 - 2 [Karua - Karua Rua] [Banyo]

Sama dengan Alto 1-2, untuk memperkuat pengiring bernada rendah tapi lebih bervariatif cara memainkannya.




BASS  [Loway] & CELLO  [Cella)
Alat ini berukuran paling besar dari pada yang lain, contoh lain;
Bersama melody dapat disamakan dengan piano, yaitu; tangan kanan pada piano diganti dengan melody, tangan kiki pada piano diganti dengan cello. Tangan kiri pada cello memegang pemukul no.1 berfungsi sebagai bas, sedangkan tangan kanan berfungsi pengiring (pemukul no.2 dan no.3). Maka dari itu alat ini sering disebut dengan Contra Bas. Jika dimainkan pada fungsi cello pada orkes keroncong, akan lebih mudah bila memakai dua pemukul saja. Sebab fungsi pemukul no.2 dan no.3 sudah ada pada tenor maupun alto.


SUSUNAN STANDAR ALAT


Lengkap (9 pemain) :

Melody 1 - Depan tengah-kiri [Ina Esa]   Melody 2 - Depan tengah-kanan [Ina Rua]
Alto 1 [Uner Esa]   Ukulele  [Ka Telu]  Alto 2  [Uner Rua]
Bass - Belakang kiri
Bass [loway] belakang-kiri dan Cello [cella] belakang-kanan


Formasi alat, tergantung dari jumlah pemain, dan juga tergantung lebar panggung (2 atau 3 baris) dengan memperhatikan lokasi dan fungsi alat (Tenor, Alto).




NADA-NADA DASAR
Nada nada contoh dalam alat musik kolintang, sebagai berikut:


C = 1 - 3 - 5
D = 2 - 4 - 6
E = 3 - 5 - 7
F = 4 - 6 - 1
G = 5 - 7 - 2
A = 6 - 1 - 3
  B = 7 -  2  - 4


Sedangkan chord lain, yang merupakan pengembangan dari chord tersebut diatas, seperti C7 = 1 3 5 6, artinya nada do diturunkan 1 nada maka menjadi le . Sehingga saat membunyikan 3 bilah dan terdengar unsur bunyi nada ke 7 dalam chord C, maka chord tersebut menjadi chord C7. Demikian pula dengan chord yang lain.



CARA Memegang pemukul/ stick kolintang
Memegang Pemukul Kolintang, memang tidak memiliki ketentuan yang baku, tergantung dari kebiasaan dan kenyamanan tangan terhadap stik. Tetapi umumnya memegang stick kolintang dilakukan dengan cara :
No. 1 Selalu di tangan kiri
No. 2 Di tangan kanan (antara ibu jari dengan telunjuk)
No. 3 Di tangan kanan (antara jari tengah dengan jari manis) – agar pemukul no.2 dapat digerakkan dengan bebas mendekat dan menjauh dari no.3, sesuai dengan accord yang diinginkan. Dan cara memukul dan disesuaikan dengan ketukan dan irama yang diinginkan, dan setiap alat memiliki, ciri tertentu sesuai fungsi didalam mengiringi suatu lagu. Pada alat Bass dan alat Melody umumnya hanya menggunakan 2 stick, sehingga lebih mudah dan nyaman pada tangan.
( Nomor nomor tersebut diatas telah tertera disetiap pangkal pemukul stick masing masing alat kolintang)


Teknik Dasar memainkan stick pada bilah kolintang sesuai alat dan jenis irama.

Dari sekian banyak irama dan juga lagu yang ada beberapa lagu sebagai panduan untuk memainkan alat musik kolintang disertakan dalam materi ini. Seperti: Esa Mokan, Sarinande, Lapapaja, Halo-Halo Bandung, Burung Kaka Tua, Lurih Wisako, Spanish Eyes, dll.

Lagu lagu tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda baik chord dan irama. Lagu lagu tersebut telah dilengkapi dengan partitur serta chord/ accord untuk memudahkan memahami alat musik kolintang.


Demikian pula dengan teknik memukulkan stick pada bilah kolintang. Karena sesuai irama yang beraneka ragam, maka untuk menghasilkan irama tertentu maka teknik memukulkan stik pada tiap alat pun berbeda beda. Pada materi ini, diberikan teknik teknik dasar cara memukulkan stick pada kolintang. Untuk dapat memahami teknik, dibutuhkan pengetahuan akan harga dan jumlah ketukan dalam setiap bar nada. Dan berbekal pengetahuan dasar dasar bermain kolintang ini saja, ditambah dengan bakat individu, maka grup/ kelompok musik kolintang telah dapat memainkan berbagai jenis lagu dengan tingkat kesulitan yang variatif secara spontan.


***) tulisan ini hasil rangkuman dari beberapa pemikiran dan temuan tentang sejarah musik 

        kolintang  asal Minahasa.


Tari Perang KABASARAN





"KABASARAN"
NAMA TARI PERANG MINAHASA

Sebetulnya sampai hari ini umumnya orang masih kurang mengetahui dengan cukup nama “Kabasaran” pada Tari Perang Minahasa. Secara semantik maupun etimologinya, memang tidak pas. Akar katanya, yakni “basar”, hanya dapat dipadankan dengan kata “basar” yang merupakan lafal dialek Melayu-Manado dari kata “besar” (lawan kata “kecil”) dalam bahasa Melayu. Berarti, bukan asli, dan baru berkembang belakangan.
Sesungguhnya, apa dan mengapa “kabasaran”?
Kabasaran adalah asli nama dari kata Minahasa, bukan berakar pada bahasa Melayu. Kabasaran berasal dari bahasa Bantik, salahsatu subetnis Minahasa.
Mengapa Bantik? Bukankah budaya sub-etnik yang pernah dominan dalam budaya Minahasa adalah – bergantian – Tonsawang dan Pasan-Ponosakan, Tombulu, Tonsea, kemudian Tontemboan dan Toulour. Ini soal sejarah kebudayaan [di Minahasa] yg sangat penting. 

Proses pendominasian oleh budaya Barat (Portugis, Spanyol dan kemudian Belanda) berlangsung sangat efektif; bukan saja karena besarnya kadar efektivitas dari pihak dominator (kekuasaan kolonial) tetapi pula karena terdapat nilai-nilai budaya asli Minahasa yang mendorong penduduk di jazirah utara Sulawesi ini terbilang sangat membuka diri pada budaya Barat itu. Sementara itu, masyarakat Bantik, bukan saja di satu sisi belum langsung menjadi target utama Belanda (karena para antropolog dan etnolog dari Belanda belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai budaya Bantik), tetapi pula bersamaan dengan itu adalah masyarakat Bantik pulalah yang secara massif mengembangkan sikap counter-culture [hampir sepadan dengan Saminisme]. 

Catatan: Di sini saya katakan paling “massif”, sebab di semua subetnis Minahasa ada sikap seperti itu, tetapi hanya pada segelintir elite budayanya.



Nah, dalam posisi dan kondisi kultural Bantik dalam perbandingannya dengan subetnis Minahasa lainnya itulah, ketika di akhir 1950-an beriring semangat gerakan Permesta, kemudian antitesanya (masa berkuasanya PKI) yang tetap mengangkat seni budaya rakyat sesuai ideologi budayanya yakni Realisme-Sosialis, dan terus sampai memuncak pada masa pemerintahan Gubernur HV Worang yang berjuang secara extra untuk me-revival budaya Minahasa, ketika tari perang dikembangkan kembali di kampung-kampung seluruh Minahasa, dan kelompok-kelompok tari perang Bantik terbilang paling menonjol hingga tahun 1970-an, sementara nama yang dipakai selama itu yakni nama “Cakalele” yang diketahui juga digunakan masyaraka dari Maluku, maka nama dari Tari Perang Bantik “Kabasaran” itulah yang mulai meluas digunakan. 
[Di kalangan penari perang Minahasa selain Bantik, kata “cakalele” bukan saja nama tariannya, tapi bahkan menjadi bagian inheren dari teks skenario sendratari tsb, diucapkan sebagai komando oleh pemimpinnya: “Cakalele!”]

Walaupun kebanyakan orang di kalangan semua subetnis Minahasa selain Bantik, tak terkecuali para penari Kabasarannya sendiri, umumnya tak tahu arti nama itu. Umumnya menganggap pemakaian nama/kata Kabasaran itu karena identik dengan kebesaran dan keagungan dari kondisi kemenangan perang – semacam perasaan triumphalic.
Jadi, apa arti Kabasaran dalam bahasa aslinya?

Kabasaran dalam bahasa Bantik berakar dari “kawasal ni sarian”; “kawasal”=mengikut/menurut, “sarian”=pemimpin-pasukan. Kawasal ni sarian : mengikuti arah dan komando sang pemimpin. Dalam hal tari: mengikuti gerak dan arahan pemimpin kelompok tari perang.

Lalu bagaimana “Kawasal ni Sarian” menjadi Kabasaran?
Ada 2 sekaligus gejala bahasa – yg sangat lumrah – yang terjadi di sini. Pertama pemendekan, kedua transfonetik atau perubahan bunyi. Pemendekan, misalnya: “can not” dlm bahasa Inggris menjadi cannot lalu berkembang lagi menjadi can’t, “pergi ke sana” atau “pergi sono” dalam dialek Jakarta menjadi “gi no”, atau “se kawanuata” dalam bahasa Minahasa menjadi “kawanua” saja tanpa perubahan arti. Begitulah “Kawasal ni Sarian” menjadi “Kawasalan” yang bukan saja tanpa berubah arti tapi bahkan lebih luas menjadi keseluruhan dari tari perang itu, bukan lagi hanya mengenai sikap para anggota penari [yang harus mengikuti pemimpinnya].
Mengenai proses transfonetik. Ada 2 yang terjadi. Huruf “w” menjadi “b” itu adalah gejala overcorrecting. Misalnya: karena banyak etnis di Nusantara cenderung mengucap “f” dan “v” menjadi “p” – nama Sylvie dipanggil Selpi, Femmy dipanggil Pemi, nafsu ditulis napsu; maka ketika mengoreksi menjadi kebablasan (over): bukan saja napas dikembalikan jadi nafas, pikiran jadi fikiran, tapi juga panas jadi fanas, proklamasi jadi froklamasi. Karena banyak serapan kata Melayu dan Jawa di Minahasa “b” menjadi “w” – batu menjadi watu (Watu Pinawetengan, Watu Tumotowa), babi menjadi wawi – maka terjadi overkoreksi: kawasalan jadi kabasalan, pinawetengan menjadi pinabetengan, padahal basal dan beteng tidak memiliki arti demikian dalam bahasa Bantik maupun subetnis lainnya di Minahasa.
Lalu tentang “L” dalam Kawasalan yang dijadikan “R”. Jangan salah kaprah, banyak ahli bahasa yang cenderung mengira bahwa pergeseran “kawasalan” menjadi “kabasaran” – mengenai konsonan “L” – itu adalah juga overkoreksi. Tidak! Dalam bahasa Bantik bunyi “L” memang cenderung dekat dan digandeng dengan “R”. [Bandingkan: dalam bahasa Tonsea bunyi “L” jadi “D”, loyot (manguni) menjadi doyot, Lumanauw menjadi Dumanauw.] Jadi, kawasalan menjadi kabasaran itu justru semakin mencapai cita asli Bantik. Wilayah pemukiman masyarakat Bantik di Molas, oleh orang Bantik dibilang Molrasa, Bailang dibilang Bailrang, Kalasei dibilang Kalrasei.

Taintu!
Benni E. Matindas, 2013


Wednesday, June 26, 2013

Pulau Lembe - Bitung, Sulawesi Utara

Pulau Lembeh Milik Siapa ?


IDENTITASnews (Minahasa) - ALKISAH pada zaman dahulu kala di abad ke- 14 di pulau Sangihe hidup sorang pria yang bernama "Ungke Hengkengunaung". Konon Hengkengunaung, merupakan laki-laki yang berpostur tubuh tinggi besar dan memiliki ilmu kekebalan tubuh.
Di masa itu, Hengkengunaung mempunyai hubungan erat dengan 9 (sembilan) walak yang ada di tanah Minahasa. Di era itu, banyak orang-orang Mindanau atau yang lebih dikenal dengan bajak laut (perompak) ingin masuk menguasai tanah Minahasa. Di abad yang sama inilah, para perompak-perompak itu berlayar menuju daratan Toar Lumimuut dengan menggunakan perahu melewati jalur laut pulau Sangihe.

SAAT itu beberapa anak buah "ungke" Hengkengunaung, terkejut melihat ada sekelompok besar perahu yang melayani dan melewati laut Sangihe, yang menjadi wilayah kekuasaan Hengkengunaung. Ternyata setelah diselidiki oleh anak buah Hengkengunaung terlihat kekuatan perompak di perkirakan 30 armada perahu dilengkapi kurang lebih 300 personil perompak.

Peristiwa itu langsung dilaporkan kepada Hengkengunaung. Tanpa tendeng aling-aling ungke, Hengkengunaung langsung menggerahkan pasukannya menuju Manado. Saat itu perkiraan mereka meleset, ternyata pasukan Mindanau berlabuh di pantai Tondano (Kapataran) dimana pantai tersebut saat ini dinamakan pantai kora-kora yang diambil dari ke 30 nama perahu tersebut, sebab perahu yang ditumpangi para perompak itu namanya Kora-kora.
Kekuatan pasukan Mindanau saat itu sudah menguasai wilayah Tondano. Pasukan Hengkengunaung bergerak menyelusuri lembah dan bukit-bukit menuju wilayah Tomohon dan bertemu dengan pasukan Mindanau diantara Tomohon dan Tondano. Maka saat itu pula terjadi perang antara pasukan Hengkengunaung dan pasukan Mindanau.

Konon peperangan tersebut memakan waktu tujuh hari tujuh malam. Sehingga pasukan Hengkengunaung dengan dibantu oleh kesatria-kesatria dari Tondano dan Tomohon, berhasil memenangkan peperangan tersebut. Ketiga ratus pasukan Mindanau tewas ditempat. Tempat peperangan ini yang sekarang dinamakan Kasuang, (diambil dari bahasa Sangihe-red), "artinya, mayat-mayat bergelim-pangan". Setelah memperoleh kemenangan para walak Minahasa mengundang Hengkengunaung bersama pasukannya dalam acara kemenangan atas perompak yang diadakan di Tondano.
Acara itu diisi dengan tarian-tarian Cakalele, Maengket. Selanjutnya ke sembilan walak Tombulu, Tonsawang, Tolour, Tountemboan, Tonsea, Ponosakan, Pasan Ratahan, Bantik Minahasa dan Tombariri mengadakan rapat dalam rangka memutuskan untuk memberikan penghargaan kepada Hengkengunaung. Pertama-tama dalam keputusan rapat tersebut ditawarkanlah pada Hengkengunaung untuk dikawinkan dengan seorang gadis Minahasa. Selaku laki-laki normal, Hengkengunaung sangat ingin mempersunting gadis Minahasa, tapi begitu dia melihat pasukannya yang kelelahan, timbul rasa kemanusiaannya, karena saat itu Hengkengunaung berkeinginan memerlukan tempat beristirahat. Maka Hengkengunaung dengan kerendahan hati, dalam rapat para walak saat itu, memohon kalau bisa tawaran yang luar biasa tadi dapat diganti dengan sebuah tempat (tanah) untuk dijadikan tempat beristirahat bagi pasuksannya.
Rapat pun dilanjutkan dengan mempertimbangkan permintaan Hengkengunaung ini, saat itu disetujui oleh para walak-walak sebagai pimpinan rapat, dengan memberi sebagian tanah Minahasa yang belum dibagi itu kepada Hengkengunaung. Tanah tersebut adalah lembeh, "yang artinya tanah Sisa" untuk menjadi milik sebagai tanda terima kasih dari tou-tou Minahasa". 
Itulah kisah perjalanan sejarah pulau Lembeh yang kini masuk dalam wilayah pemerintahan Kota Bitung provinsi Sulawesi, yang adalah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai. 

(oleh Efraim Lengkong, tulisan ini diambil dari beberapa sumber dan dari hasil seminar culture, di manila Philipinnes, tahun 1999)

Thursday, June 20, 2013

Benny Josua Mamoto

Benny Josua Mamoto ;

       SI TUAMA LE’OS DARI NEGERI KAWANUA



Sosok yang satu ini, sudah tak diragukan lagi kapasitas, dan komitmennya memberi diri untuk mengabdi dalam bidang seni budaya di daerah Sulawesi Utara. Sebagai bukti utama yang tak bisa lagi dipungkiri, Benny Josua Mamoto (BJM) telah mendirikan sebuah wadah yang bernama Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) dengan program-program dan kegiatannya yang spektakuler bukan hanya mewarnai langit di ujung utara pulau Celebes, tapi sudah bernyanyi di jagat raya dunia internasional.

Mencatatkan atau memasukkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guinness World Records (GWR) segala bentuk seni budaya yang ada di Provinsi Sulawesi Utara, sudah menjadi kesepakatan diri seorang BJM atas kecintaannya terhadap tanah leluhur.
 Tou-Kawanua ini melakukannya bukan karena termotivasi untuk merebut sesuatu kekuasaaan yang namanya ”kadera”, atau cari muka?
Sungguh.., tidak demikian. Sekali lagi tidak seperti itu. Tidak seperti suara-suara yang pernah disemburkan ”kalangan tertentu” pada dirinya. Apalagi di tengah-tengah suhu politik PILGUB provinsi Sulawesi Utara 2010 semakin panas membara, karena persaingan yang (tampaknya) sudah mengarah pada situasi dan suasana tidak sehat. Mau bukti ? Lihat saja baliho-baliho yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan, ada yang memang sengaja di tusuk matanya, di mutilasi oleh tangan-tangan yang menaruh benci terhadap tokoh yang bersangkutan ?
“Saya hanya menjalankan amanat dari orang tua terutama dari ayah, untuk pulang kampung dan bangun daerah ini melalui seni dan budaya”. Begitu kata Komisaris Besar Polisi yang bergelar Doktor di bidang ilmu hukum dan kriminalitas, yang sampai detik inipun tampaknya tak bisa tidur lelap, pabila apa-apa yang telah melintas di dalam benaknya belum tertata rapih melalui sebuah rencana kerja yang matang, hingga menjadi sebuah agenda yang harus diwujudkan.
Dihadapan penulis, bukan hanya satu atau dua kali saja, Pak Benny membantah dengan tegas kalau aktifitas dan berbagai agenda kegiatan yang diprakarsainya selama ini, bertujuan untuk menaruh benih-benih agar supaya mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk maju mencalonkan diri sebagai orang nomor 1 atau nomor 2 di tanah yang disebut-sebut sebagai pintu gerbang Asia Pasifik.
”Niat saya luhur, tidak lain mengangkat citra seni budaya Sulawesi Utara baik di mata Nasional maupun dunia Internasional. Dan biarlah apa-apa yang telah, dan akan saya lakukan boleh menjadi sebuah catatan sejarah bagi generasi berikutnya, bahwa nilai-nilai seni dan budaya kita perlu digali, diangkat, dijaga atau dipelihara, dikembangkan dan dipublikasikan, agar supaya mata dunia akan tertuju di daerah kita sendiri”.” Kata Tuama Le’os berdarah Minahasa, sambil mengajak agar supaya mencitai produk seni budaya daerah kita sendiri.
Apa-apa yang sementara di kerjakan suami dari Iyarita Wiryawati Mawardi ini, sebenarnya sudah merupakan wujud nyata kerja kerasnya dalam usaha meningkatkan pembangunan di berbagai sektor. Bahwa dari segi ekonomi, sangat memungkinkan hasil karya seni budaya yang ada di Sulawesi Utara ini menjadi sebuah industri yang bisa dikelola seprofesional mungkin hingga bisa membantu meningkatkan pendapatan daerah. Disamping itu dapat pula memberdayakan berbagai kreatifitas dari warga masyarakat agar tercipta lapangan kerja baru.
Bagi dunia pendidikan, sudah sangat jelas ada pengaruhnya terhadap anak-anak sekolah yang diikutsertakan dalam festival musik kolintang dan maengket, apalagi sudah ada kelompok-kelompok seni yang sampai saat ini menjadi kelompok binaan. Bukankah hal ini punya nilai-nilai positif dalam rangka menanamkan kesadaran bagi generasi muda yang ada di Sulawesi Utara, agar bisa belajar dan mencintai hasil karya seni budaya yang telah diwariskan hingga saat ini? Bahkan dari hasil-hasil karya yang sudah ada selama ini, bisa menjadi sebuah inspirasi dalam melahirkan karya-karya baru.
Bagi penulis, kalau saja yang akan menjadi Gubernur, di daerah Nyiur Melambai ini adalah seorang tokoh yang benar-benar tau persis dan mencintai seni budayanya sendiri (seperti BJM), maka wajah Sulawesi Utara benar-benar akan menampakkan wajahnya sendiri. Tidak seperti di hotel-hotel berbintang yang ada sekarang ini, telah berdiri megah di Tanah Adat Minahasa Raya, tapi sayang sekali pintu gerbangnya, pilar-pilarnya, kamar-kamarnya dan segala sudut-sudutnya menyajikan ornamen-ornamen dan segala macam tetek-bengek asesoris patung-patung, totem-totem serta lukisan-lukisannya justru bernuansa Jawa dan Bali.
Mengakhiri tulisan ini, penulis sebagai pekerja seni di Tanah Adat Minahasa Raya sangat berbangga dan ikut mendukung, memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya pada Benny Josua Mamoto (BJM) atas segala kegiatan seni budaya yang diprakarsainya selama ini.
Beberapa kegiatan yang diantaranya Pelaksanaan Festival Seni Budaya Sulawesi utara di Watu Pinawetengan pada setiap tanggal 7 juli yang sudah menjadi agenda tetap, sangat diharapkan mendapatkan dukungan dan apresiasi positif dari berbagai pihak, dan biarlah kegiatan-kegiatan semacam ini akan menjadi sebuah momentum bagi kita sebagai orang-orang yang ada di provinsi Sulawesi Utara yang mungkin tinggal akan menjadi sebuah catatan sejarah lagi, karena kemungkinan besar akan terwujud sebuah pemekaran, dimana para politikus, dan para ”pejuang” akan berusaha sedapat mungkin menjadikan provinsi Nusa Utara, dan Minahasa Raya?
Dan sebagai TOU Minahasa yang sebenarnya diberkati karena memiliki kekayaan yang luar biasa, termasuk potensi seni budaya yang sangat tinggi nilainya, dimana kita sudah saatnya berkaca diri dan bersikap arif menatap ke depan sambil menjaga dan melestarikan karya-karya seni budaya yang sudah ada sejak dahulu kala. Bukan merusak dan memusnahkan sama seperti yang telah dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab terhadap Karya Relief Seniman Alexander Bastian Wetik dkk yang ada di Auditorium Bukit Inspirasi, dan perusakan Waruga-Waruga yang ada di Negeri Kakaskasen dan Lansot Tomohon dengan dalih pemugaran.
Sulawesi Utara pada umumnya, dan Minahasa Raya khususnya mesti berbangga atas hadirnya seorang BJM yang tiada henti-hentinya, bukan hanya sekedar memikirkan nasib seni budaya di daerah ini, tapi seutuhnya atas keikhlasan dan kepeduliannya yang luhur memberi dan mengabdikan diri bagi tanah ini, dan yang pasti kita juga akan menyaksikan lagi kegiatan-kegiatan spektakuler lainnya yang akan tercatat di dalam buku MURI atau Guiness World Record.

Penulis;
Pekerja Seni dan Dosen di Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado di Tondano
Tinggal di Kelurahan Kakaskasen III Tomohon Utara.

Wednesday, June 5, 2013

Pemusik Musik Kolintang, di Jakarta



Group Kolintang Profesional, di Jakarta;

Cikal bakal keberadaan grup-grup musik kolintang yang ada di Jakarta, adalah hijrahnya para pemusik kolintang dari Minahasa atau didatangi oleh para  keluarga/teman ataupun pengusaha asal Kawanua di Jakarta untuk melakukan pertunjukan2 dikalangan masyarakat kawanua sebagai pelengkap warna kedaerahan dan kerinduan tanah Minahasa di Jakarta pada acara-acara khusus maupun hiburan tersendiri. Namun pada kenyataannya, peminat dan perkembangan musik kolintang ini banyak diminati oleh masyarakat pada umumnya. Seperti contohn; grup kolintang Kadoodan dan The Mawenang's sebagai pioneer Kolintang Profesional  menjadi motivasi tersendiri untuk lahirnya grup-grup baru lain selanjutnya. 

Penulis berusaha menelusuri dan menguruti secara seksama jejak-jejak para pemusik kolintang selama ini, seperti Albert Runtunuwu [Kado'odan], Frans Ratag [The Mawenang's], Berty Lumopa [Scropio], Berthy Rarun dan Boy Makalew [Tamporok], Eddy Runtuwene [Makalelon], Herry Kussoy [Likri], Jerry Masengi [The Ton's/Kawatuan], Willy Soputan [Likri], Jimmy Dumais, Donny Tuju dan Johan Lengkong [Sumonder] adalah para pemain yang hijrah langsung dari Manado/Minahasa ke Jakarta sebagai pemain musik kolintang yang hadir ditengah-tengah gurp kolintang yang pernah ada di Jakarta dengan urutan, sebagai berikut;

01. Kadoodan           
02. The Mawenang's
03. Scorpio
04. Tamporok
05. Makalelon
06. TareUman
07. Sumonder
08. (Kawatuan)  AKA JUNIOR Group
09. Likri Group
10. Toratan
11. Edelweiss
Kolintang JUNIOR Group


Ada sebelas kolompok/grup awal [1969-1979] musik kolintang menghiasi berbagai acara/kegiatan hiburan di Jakarta dalam lingkup masyarakat Kawanua di Jakarta. Berawal dari kelompok musik kolintang Kado'odan yang berhasil memasuki dunia rekaman dan sangat populer dengan lagu-lagu daerah Minahasa mengiringi artis-artis, seperti; Vivie Sumanti, Rosa Lesmana dan Franz Daromes. Kelompok lain yang tak kalah hebatnya adalah kelompok musik kolintang The Mawenang's sempat berkeliling benua Eropa, seperti; Inggris, Belanda, Jerman serta Belgia memperkenalkan jenis musik diatonis dari kayu terpilih ini. Kedua kelompok ini menjadi inspirasi bangkitnya para pemusik kolintang lainnya untuk ikut serta menyemarakan hiburan di setiap acara-acara Kawanua yang ada di Jakarta, seperti; Scorpio, Tamporok Tareuman, Makalelon, Sumonder, Likri, Junior, Toratan dan lain lainnya.


Ada sedikit catatan tersendiri tentang kiprah performance dari Kolintang Junior Group pertama kali ini adalah pertunjukkan lighting stage mereka layaknya group2 band show, mereka memadamkan lampu gedung dan menggunakan strobo blitz, lampu sorot dan smoke dry dalam panggung show mereka dan sering kali diundang special kolintang show di night-club2 Jakarta, seperti; Flamingo, LCC dan Taman Impian Jaya Ancol - Jakarta. 

Urutan berikutnya kelompok musik kolintang terbentuk akibat berpindahnya para pemusik untuk membentuk sendiri grup musik yang ada, sehingga hadirlah kelompok baru tapi ditambah muka2 baru menghiasi khasanah musik kolintang di Jakarta, seperti;


    Panthera Group

12. Satoro
13. Toulour
14. Minaesa
15. Sinar Harapan
16. Rupata
17. Panthera
18. Makantar
19. Harmony
20. Makapetor
21. Pinbers
22. Bapontar
23. Kawanua
24. Nuansa /Plus

Memasuki era tahun 80-an pertumbuhan dan penggemar musik kolintang semakin lama semakin bertambah marak, penulis beserta sebagian rekan pemusik kolintang membuat gagasan untuk membentuk wadah organisasi kepelatihan Musik Kolintang di Jakarta. Pada awalnya penulis bersama rekan2 yang sependapat mencoba menjelaskan kepada setiap pemain/pelatih  kolintang secara random akan ide, misi, tujuan agar terwujudnya wadah ini mengalami kesulitan dan hambatan, namun kita sepakat apapun yang terjadi ini harus dibentuk dan diwujudkan secepatnya. 

Penulis, Albert Runtunuwu, Frans Ratag, Donny Tuju, Jantje Pangkerego, Berthie Rarun, Benny Soputan melakukan pertemuan pertama kali di Kampus AMI-ASMI dengan dihadiri oleh Bapak Benny Tengker yang kemudian bersedia untuk sebagai Penasehat. Tepatnya tahun 1986, tercetuslah pembentukan wadah Oraganisasi, dengan nama IKATAN PELATIH MUSIK KOLITANG JAKARTA (IPMKJ). Sebagai Ketua saat itu terpilih saudara Benny Soputan, Wakil Ketua Berthie Rarun, Sekretaris Frans Ratag dan Wakil Sekretaris Charles Tumetel. Namun dalam perjalanan waktu saudara Leber [Albert Runtunuwu] tidak bisa bergabung karena alasan kesehatan dan kesibukannya sehari hari.


                                                    Para Pelatih Musik Kolintang Jakarta 

Seteleh


Thursday, May 23, 2013

Asal Usul Kota Manado

ASAL USUL Kota MANADO

(Dari Siau - Sangihe Talaud)

Memahami daerah Sulawesi Utara tak akan lepas dari keberadaan tiga wilayah dan budaya yang membentuk karakter masyarakatnya. Nasrun Sandiah, Antropolog dari Universitas Sam Ratulangi, memilah ketiga wilayah budaya tersebut ke dalam tiga suku bangsa yang mendiami Kepulauan Sangihe dan Talaud, Bolaang Mongondow, dan Minahasa.

Dari ketiga wilayah budaya tersebut, masyarakat di Kepulauan Sangihe dan Talaud dan Bolaang Mongondow mempunyai akar sejarah yang panjang dalam bentukan kerajaan. Catatan sejarah menunjukkan, sebelum tahun 1500 Kerajaan Tabukan, Bohontehu, Kendahe, Tahuna, Manganitu, Siau, dan Tagulandang, tumbuh di sepanjang Kepulauan Sangihe dan Talaud.

Sementara di wilayah Bolaang Mongondow, terdapat Kerajaan Bolaan Uki, Kaidipang, Bintauna, Suwawa, dan Bone. ”Kerajaan-kerajaan di Bolaang Mongondow umumnya penganut Islam dan kerajaan di Sangihe dan Talaud penganut Kristen atau Katolik,” kata Nasrun.

Karakter khas yang melekat di wilayah-wilayah kerajaan juga tampak di kedua wilayah budaya ini. Sifat paternalis maupun kepatuhan yang kuat terhadap pemimpin, misalnya, menjadi karakter masyarakat. ”Kalau pemimpin itu bilang apa, itu akan sampai ke bawah,” ungkap Nasrun. Kondisi demikian tak terhindarkan munculnya pengkultusan terhadap pemimpin sebagaimana di Bolaang Mongondow. ”Bupati masih dikultuskan sampai saat ini,” imbuh Nasrun.

Berbeda di wilayah kerajaan, berbeda pula karakter di wilayah yang tidak dijumpai kerajaan. Minahasa dalam sejarahnya tidak pernah mengenal sistem kerajaan.
Masyarakat di kawasan ini terhimpun dalam walak yang merupakan sebuah komunitas sosial masyarakat tradisional terdiri atas kumpulan beberapa permukiman. Dengan tidak adanya raja atau pemimpin yang harus dihormati dan dianuti masyarakat.

(Schouten dalam Leadership and Social Mobility in a South Asia Society: Minahasa 1677-1983, hubungan sosial masyarakat Minahasa umumnya didasarkan pada sikap kompetitif dan egaliter).


Cerita Mokodoludut dari orang Sangir yang ditulis oleh orang Amerika yang dipresentasikan di Universitas California oleh Kenneth, diterbitkan dalam tiga bahasa.

SEJARAH KERAJAAN BOWONTEHU.
Pada tahun 800-san Masehi di Cotabato pulau Mindanauw sekarang Filipina dahulu ada sebuah kerajaan suku bangsa negrito yang dipimpin oleh seorang Kulano(raja). Kerajaan ini diserang oleh suku bangsa Mongolia, akan tetapi seorang anak raja yang bernama Humansandulage beristeri Tendensehiwu berhasil meloloskan diri beserta para pengikutnya antara lain Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan yang memeliki papehe(ikat pinggang dengan ukuran satu jengkal), lenso (saputangan), dan paporong (ikat kepala). Dengan melemparkan ikat pinggang berukuran satu jengkal kelaut yang kemudian menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa mereka ke Selatan lalu tiba di daerah Molibagu. Ditempat ini mereka berkabung sambil menangis selama empat puluh hari empat puluh malam. kemudian mereka berikhar menjadi suku bangsa yang baru yaitu Suku Bangsa Sangihe. Setelah masa perkabungan berakhir mereka hidup menetap dihutan yang terletak di sebuah puncak bukit lalu mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Wowontehu/Bowontehu.

Bowontehu berasal dari bahasa Sangihe yaitu Bowong artinya atas dan Kehu artinya hutan. Jadi Bowontehu adalah kerajaan yang terletak diatas hutan. Humansadulage sebagai Kulano (Datu/Raja) dan Tendensehiwu sebagai Boki (Permaisuri). Humassadulage dan Tendensehiwu memperanakan Budulangi. Budulangi bersiteri Putri Ting yang berasal dari khayangan. Budulangi dan Putri Ting memiliki seorang anak perempuan yang bernama Toumatiti. Toumatiti hamil dari seorang Pangeran yang datang dalam mimpinya, Maka lahirlah seorang putra diberi nama Mokodoludud. Mokodoludud yang artinya Pangeran dari khayangan. Mokodoludud menikah dengan Bania yang keluar dari buluh tipis kuning ditemukan dihutan oleh pasangan suami istri yaitu Sanaria dan Amaria lalu dipelihara.

Pada Suatu ketika Tahun 1000-an Masehi terjadi pergolakan perang disana-sini sehingga Mokodoludud beserta para pengikut yang setia meninggalkan Molibagu lalu tiba di Pasang Bentenan di baling-baling yaitu tempat yang bernama Posolo berada disebelah timur Malesung atau Minahasa sekarang disebut pulau Lembe. Ditempat ini mereka tinggal tidak lama sebab diserang oleh Suku Mori, Laloda dan Mangindanouw. Mokodoludud dan rombongan mengungsi ke sebuah gunung dengan jalan mengintari (belitan) lalu tempat itu disebut Lokong. Baunia melahirkan seorang putra bagi Mokodoludud lalu diberi nama Lokonbanua. Kemudian Mokodoludud ingin mencari tempat seperti pasang bentenan lalu berangkat dan tiba di pulau Manarauw (Manado Tua). Kata Manarou berasal dari bahasa Sangir yaitu Mararau; Marau yang artinya Jauh.

Mokodoludud membangun kembali kerajaan Bowontehu dengan berpusat dipulau Manarouw dengan gelar Kulano. Di Manarouw ini Mokodoludud dan Baunia dikaruniai lagi anak yang bernama, Jayubangkai, Uringsangiang dan Sinangiang. Penduduk kerajaan ini berkembang bertambah banyak sehingga sebagian mendiami daerah bagian utara dataran pulau Sulawesi yaitu Gahenang/Mahenang nama kuno untuk Wenang berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu artinya api yang menyala/bercahaya/bersinar(suluh, obor, api unggun). Perpindahan dilakukan dengan menggunakan perahu (Bininta), melalui tempat yang bernama Tumumpa berasal dari bahasa Sangir yang artinya turun sambil melompat,kemudian menetap di Singkil berasal dari bahasa sangir Singkile artinya pindah/menyingkir. Mereka menyebar sampai ke Pondol bahasa Sangir disebut Pondole artinya di ujung. Wilayah kerajaan Manarouw. 

(sesuai memori Robertus Patbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manado Tua, P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.)

 .***Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Penduduk Kerajaan Bowontehu/Manarouw adalah orang sangir (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit).


Pada suatu ketika kembali Mokodoludud memerintahkan rakyatnya membuat perahu(Bininta), setelah selesai pembuatannya maka diuji kemampuan untuk mengapung, mendayung serta berlayar dari perahu. Kapal tersebut memuat putra-putri raja yaitu Lokonbanua, Uringsangiang, Sinangiang beserta Batahalawo, Manganguwi, Bikibiki, Banea dan Tungkela. Raja Mokodoludud berpesan kepada anak-anaknya agar selama dalam pelayaran tidak boleh mengeluarkan sepatah katapun, akan tetapi Sinangiang lupa ketika melihat sebuah pulau lalu bertanya pulau apakah itu ?. Maka tiba-tiba badai mengamuk sehingga terdampar di pulau Tagulandang, Siau dan Sangir. Ditempat ini Uringsangiang dan Sinangiang menangis terus menerus sehingga tempat ini disebut Sangihe yang bersasal dari kata Sangi, Sangitang, Masangi, Mahunsangi artinya menangis. Mereka hidup dan menetap ditempat ini, Lokonbanua menikah dengan Sinangiang.

Pada tahun 1380 seorang pedagang arab bernama Sharif Makdon setelah mengunjungi ternate lalu tiba di Manarouw(Manado Tua) menyebarkan Agama Islam kemudian berangkat ke Mindanouw. Kemudian jalur ini diikuti oleh pelaut asal Portugis Pedro Alfonso pada tahun 1511, Pedro Alfonso menemukan Ternate, setelah itu armada dagang asal Portugis secara resmi mengirimkan Antonio de Abreu ke Maluku tahun 1512. Pada tahun itu juga Portugis mengirimkan tiga kapal layar ke Manarouw,(Pulau Manado Tua).

Lokon Banua II (lokon artinya nama yang diangkat kembali) adalah keturunan kesembilan dari Raja Mokodoludud Kulano(raja) Bowontehu. Berlayar dari Manarouw bersama dengan pengikutnya pergi ke pulau Siauw lalu mendirikan kerajaan Leken Banua II atau Karangetang pada tahun 1510. Lokongbanua II Keturunan ke 9 dari Raja Gumansalangi putra raja Tumondai dengan Boki Bitang Keramat kakak kandung pendiri Kiraha (Kedatuan ternate) dari Cotabato di Mindanauw Philipina Selatan Pendiri Kedatuan Tampung Lawo abad 12 serta cucu dari Datu Hinbawo I dari kerajaan Sulu beristrikan Sangiang nilighidé dan mempunyai anak perempuan, Umbongduata namanya. Umbongduata ini jadi salah satu isteri dari Datuk Pahawonsulugé, lalu mempunayai anak Lokongbanua II

Bangsa barat yang pertama-tama menemukan Manarouw ialah pelayar Portugis Simao d’Abreu pada tahun 1523.
Nama Manarow dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manarouw menjadi pintu gerbang transit kawasan timur Indonesia bagi kapal-kapal dagang bangsa asing, sehingga menjadi daya tarik bagi pedagang Cina.

Pada tahun 1563 Peter Diego de Magelhaes dari Portugis berangkat dari Ternate menuju Manarouw mengajarkan pokok-pokok iman Kristen. Lalu Raja Manarouw bersama rakyatnya 1500 orang dibaptis kesemuanya adalah orang Sangir. Baptisan dilakukan di muara sungai Tondano dan dihadiri oleh Raja Siauw bernama Possuma. Raja Possuma lalu memberi diri untuk dibaptis dengan nama Don Jeronimo (nama portugis) Kemudian Peter Diego de Magelhaes ke Kaidipan (pesisir utara Gorontalo) membaptis 2000 orang selama 8 hari.

Tahun 1570 Bulango dari kerajaan Bowontehu (pulau Manarouw) berlayar menuju Tagulandang. Bulango mempunyai seorang anak perempuan bernama Lohoraung mendirikan kerajaan Taghulandang atau Mandorokang di pulau itu bersama para pengikutnya. Bulango adalah saudara dari Lokongbanua II dimana keduanya adalah keturunan ke sembilan dari raja Mokodoludut dengan istrinya Baunia dari kerajaan Bowontehu.

Pada tahun 1585 Peter lain mengunjungi Manarouw ternyata iman Kristen telah lenyap kembali menjadi kafir. 1606 Spanyol merebut kembali Maluku Utara maka penyebaran agama Kristen kembali dilakukan di Ternate.

Pada tahun 1614 Spanyol memusatkan kekuatannya di Manarouw untuk menghadapi serbuan Belanda, dibangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang berhadapan dengan pulau Manado Tua

1619 Penduduk Manarouw sebagian besar telah beralih agama menjadi islam. Oleh karena itu Misi Injil mengalihkan penyebaran ke pegunungan yaitu orang-orang dari suku pedalaman yang disebut alifuru lalu tiba Tomohon dan Tondano. Namun misi ini gagal, karena kedatangan misionaris dihubungkan dengan hasil panen. Saat itu panen tidak berhasil sehingga dikatakan dewa telah murka, para misionaris di usir. Seperti dalam surat Pater Blas Palomino tanggal 8 Juni 1619. Sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622, dia menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para Missionaris asal Spanyol. Juga Walian Kali yang menghasut kepala Negeri Kali bernama Wongkar untuk menolak dan melarang para Missionaris Spanyol untuk masuk ke pedalaman Minahasa.

Pada tahun 1623 Kerajaan Bawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua) dipindakan ke Gahenang/Mahenang nama kuno Wenang berasal dari bahasa Sangir artinya api yang menyala atau bersinar (Suluh,obor), oleh karena dialek bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mereka mengucapkan Wenang demikian juga dengan Manarouw disebut Manado. Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow pada kurun waktu tahun 1644-1674. Penduduk kerajaan ini adalah orang sangihe (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit). Raja Loloda Daloda Mokoagow ini adalah anak dari Raja Tadohe. Sedangkan Tadohe sendiri adalah cucu dari Raja Siauw yang bernama Possuma dan cicit dari raja Tabukan(Rimpulaeng) Don Francesco Macaapo Juda I. Kerajaan Manarouw adalah sebagai kerajaan terjauh dari wilayah toritorial kerajaan Sangihe. Setelah Raja Laloda Daloda Mokoagow kemudian menjadi raja adalah Donangbala yang memiliki pedang sakti.

Suku Bantik bukan penduduk pertama yang mendiami Manarow menurut cerita Pada Tahun 1654 Salah satu kerajaan di Sangir yakni kerajaan Malingaheng Kendahe yang dipimpin oleh Raja Sahmensi Arang (Syam Syach Alam)mempunyai seorang anak bernama Putri Bulaeng Tanding. Kerajaan ini dengan wilayah bagian barat pulau sangihe hingga pulau Kaluwurang. Kerajaan ini tenggelam oleh karena peritiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit)mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing. Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe di dalam terkubur kursi emas dan makota raja konon katanya di jaga oleh ikan hiu. Dari peristiwa tersebut sebagian selamat termasuk seorang yang bernama Bantik. Kemudian mereka mengangkat Bantik sebagai pemimpin lalu berihkrar menjadi satu suku yang baru yaitu Suku Bantik, dengan catatan mereka tidak boleh hidup bersama dalam satu wilayah, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Maka diatur kelompok-kelopok berlayar dengan perahu menuju ke Mindanao,ke Beo, ke kema, ke Belang,ke Manaraw, Leok-Buol sedangkan Bantik sendiri pergi ke Mongondow. Jadi suku Bantik merupakan anak suku dari suku Sangir.

Dalam surat Pater Juan Yranzo yag ditulis di Manila tahun 1645 menyebutkan tentang pengusiran Spanyol dari tanah Minahasa pada tanggal 10 Agustus 1644. Pengusiran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Pater Lorenzo Garalda. Para Walian Minahasa menghasut masyarakat untuk membunuh semua Missionaris Spanyol. Rencana para walian bocor hingga para Missionaris Spanyol sempat mengungsi ke tepi pantai dan berperahu ke Siauw.

Tahun 1655 Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚’ dari kayu-kayu balok sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi. Dengan menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari Spanyol. Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Awal Tahun 1661 Kos dari Ternate berlayar menuju Manarouw disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol di Manarow. Tahun 1673 Belanda memapankan pengaruhnya di Manarouw dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari beton. Lalu Benteng ini diberi nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate. Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950).

Tahun 1675 Pendeta J. Montanus mendapati bahwa jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah. Tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing di Manado. Sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia. Kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik. (Prof.Dr.I.H.Enklaar.Sejarah gereja ringkas,81,1966)

Pada tahun 1677 Compeni mengadakan perjanjian dengan Raja Siau dengan persaratan kesepakatan bahwa Raja serta rakyat harus beralih agama dari Kristen Katolik menjadi Protestan. Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud.

Perserikatan Pekabaran Injil Belanda Van der Kamp mendirikan NZG Tahun 1797. Tahun 1817 Pendeta Josep Kam berkunjung ke Minahasa. Tahun 1819 Lenting berkunjung ke Minahasa.Pendeta Josep Kam dan Ds. Lenting mendapati orang Kristen tidak ada pelayanan lagi,lalu mereka melaporkan keadaan itu pada NZG di Belanda. Pada tahun 1822 atas laporan diatas maka NZG mengirim 2 orang berkebangsaan Swiss, L.Lamers di Kema ( meninggal 1824 di Kema ) W. Muller di Manado (meninggal 1827 di Manado) Mereka meninggal karena penyakit Typus.Dalam pelayanan, mereka mengalamai banyak hambatan dan tantangan terutama dari kalangan turunan Eropa.Tahun 1827 pelayanan manado diganti oleh Ds. G. J. Helendoorn. 4 tahun kemudian tahun 1831 dikirim lagi 2 Orang pelayan yaitu : Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwars. Tahun 1855, NZG mengutus S.D. van der Velde van Capellen dari Minahasa ke Sangihe dan membaptis 5033 orang.Ketika itu S.D. van der Velde van Capellen sedang bertugas di Tareran,Minahasa.

Menurut Catatan Robertus Padburgge,1867, kerajaan Manarouw hancur akibat perang berkepanjangan dengan kerajaan Bolaang. Perang ini menyebabkan penduduk berserak sebagian ke pulau Sangir, Likupang dan Bitung. Menurut penuturan tua-tua bahwa sebagian orang sangir meninggalkan Manarouw akibat kekurangan makanan karena diserang oleh gerombolan kera serta adanya wabah penyakit. Penduduk yang kuat pergi ke Sangir, Likupang dan Bitung sedangkan yang sakit-sakitan mereka tetap tinggal menetap di Manarouw. Kerajaan ini didalam buku Kakawin Negara Kerta Gama oleh Empu Prapanca tahun 1365 disebut sebagai Uda Makataraya. Wilayah kerajaan ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud setelah Belanda dengan VOC menguasai perdagangan wilayah ini dengan kontrak perjanjian yang ditanda tangani oleh raja-raja Siau (arsip Perpustakaan Sulut)dan pada tahun 1908-1912 Manado dan sekitarnya diserahkan oleh raja Siau XVIII bernama A.J. Mohede kepada Assisten Residen, serta pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tetapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

Kota Tondano

Kota Tondano merupakan ibukota Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Kota Tondano meliputi empat dari 19 kecamatan yang ada di Kab...