Sunday, January 29, 2017

Tari Kawasaran - Minahasa, part 2



TARI  KABASARAN

Tari Kabasaran adalah tari perang rakyat Minahasa. Mengangkat atau memuliakan perang ke dalam karya estetika, memberikan gambaran tentang masyarakat itu sendiri. Berperang memang diluhurkan sebagai krida sangat mulia bagi masyarakat yang gagah berani serta kokoh membela kebenaran dan keadilan. 

“Dr. A. B. Meyer”, seorang peneliti sosio-budaya mayarakat Minahasa, dalam sebuah laporannya sampai menarik kesimpulan: Perang adalah bagian format kebudayaan minahasa lama. Menurut salah satu tokoh kebudayaan dari Minahasa,

“Jessy Wenas”, Tarian ini sebenarnya adalah tarian sakral. Tarian ini ditarikan secara turun temurun oleh generasi penari Kabasaran. Jika dalam upacara adat Minahasa, Kabasaran adalah prajurit adat yang memiliki otoritas penuh dalam jalannya sebuah adat, mereka dulunya bisa membunuh atau mengusir si jahat yang mengganggu upacara.

Dahulunya tarian ini hanya dikeluarkan saat perayaan upacara adat di Minahasa, namun sering dengan perkembangannya, tarian sakral inipun kini bisa ditonton publik untuk kegiatan pariwisata. Sampai saat ini Tarian Kabasaran merupakan salah satu Tarian Sakral di Sulawesi Utara, juga Tarian Sakral Masyarakat suku Minahasa. Tari Kabasaran sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Minahasa, mendapat tempat dalam acara- acara besar seperti perkawinan, penjemputan, dan pengawalan secara adat bagi petinggi pemerintah ataupun tokoh masyarakat.

KABASARAN MINAHASA (Wikipedia)

Tou Minahasa atau orang Minahasa dalam sejarahnya merupakan Waraney atau kesatria- kesatria perang di tanah Minahasa (dulunya disebut Malesung). Tarian Kabasaran merupakan pencerminan salah satu kebudayaan Minahasa dari masa lampau. Berperang untuk Tou Minahasa memang merupakan suatu yang diluhurkan sebagai manusia yang gagah berani, mempunyai semangat perjuangan, dan kebijaksanaan.

Pada awalnya Tarian Kabasaran bernama Sakalele dan berubah menjadi Cakalele. “Sakra” berlaga dan “Lele” berlari, berkejaran melompat- lompat. Kata Kabasaran sendiri berasal dari bahasa Minahasa yaitu “Kawasalan”, ini kemudian berkembang menjadi “Kabasaran” yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa.


Para penari dalam tarian Kabasaran semuanya adalah lelaki, atau disebut Waraney artinya Prajurit atau Kesatria. Pemimpin dalam Tarian adalah Tonaas Wangko artinya pemimpin besar pasukan perang dalm hal ini nerlaku sebagai pemimpin tarian. Pada dasarnya setiap pelaku tarian perang Kabasaran saat menari harus berwajah garang, tidak tersenyum, dan mata melotot. Hal ini menandakan kegarangan dari paskuan perang Kabasaran suku Minahasa di medan tempur. Pelaku tarian perang biasanya berjumpah minimal enam (6) Waraney dan satu(1) Tonaas Wangko. Selain itu ada para penabuh tambor.
Kostum tarian Kabasaran pada dasarnya, adlah tirai- tirai berwarna merah. Warnat merah dipilih karena melambangkan keberanian sedangkan kostum yang berbentuk tirai layaknya baju tempur perang pada jam dahulu. Penutup kepal, biasanya dihiasi dengan paruh burung yang menjulang keatas, dulunya paruh burung tersebut adalah paruh burungTaong dan burung Cendrawasih, disertai dengan buluh buluhnya, ini sebagai lambang kebesaran. Pada bagian depan kostum, biasanya terdapat beberapa tengkorak kepala, tengkorak- tengkorak tersebut melambangkan setiap waraney atau pasukan perang sudah pernah membunuh musuhnya di medan tempur dan kepala musuhnya dipergunakan sebagai tanda kehebatan. Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang. Warna dan motifnya kain tenun Minahasa seperti : Kokerah, Tinonton, Pasolongan dan Bentenan.

Setiap penari dilengkapi dengan Santi [pedang perang] dan Kelung [perisai] untuk menangkis serangan musuh dan juga Sebagian penari memakai Wengko atau tombak. Keseluruhan kostum dalam tarian perang Kabasaran, setiap orang yang memakai akan merasa dan terlihat gagah layaknya seorang Waraney yang penuh dengan keberanian dan siap untuk bertempur. Tarian Kabasaran selalu di iringi dengan tambor, alat musik yang dipukul. Tambor dipergunakan untuk menambah semangat dari pasukan saat berperang atau saat melakukan tarian perang.




Dalam tarian perang Kabasaran mempunyai aba-aba dari Tonaas Wangko serta pekikan semangat yang diteriakan oleh seluruh Waraney dan Tonaas Wangko. Pada saat tarian perang Kabasaran baru akan dimulai, Tonaas Wangko akan memberi aba-aba:
Masaruan artinya berhadapan, wangunan kelung wo santi artinya angkat pedang dan perisai, 
= Makasampe artinya berdekatan, melompat kecil dua langkah kedepan dan saling mempertemukan perisai, sampai pada aba-aba ini penari perang Kabasaran terbagi dalam dua barisan yang berhadapan dan saling mengangkat pedang dan perisai. 
= Tumbalan Kelung artinya turunkan perisai, aba-aba ini biasanya disertai dengan Sumiki artinya menghormat, memberikan penghormatan kepada lawan, hal ini melambangkan kejantanan seorang Waraney
Adapun hormat yang diberikan kepada orang besar tetap memakai aba-aba Sumiki. Berikut aba- aba Rumenday artinya kembali pada posis semula. 
= Reta'an kelung wo santi artinya menaruh perisai dan pedang, biasanya aba-aba ini, pada bagian Waraney akan menari tanpa pedang dan perisai. 
= Timboyan kelung wo santi artinya mengambil perisai dan pedang.
Mareng tampa artinya pulang atau kembali ketempat semula. 

Semua aba-aba di atas diiringi dengan ketukan tambor dua kali. Tonaas Wangko akan mengeluarkan aba-aba cakalele untuk adanya tarian perang saling berhadap-hadappan, saat aba-aba tersebut diteriakan maka penari akan dengan garang menari mengunakan pedang dan perisai, seakan saling menyerang. 

maleyonda aba-aba ini akan mengisyaratkan para Waraney untuk melakukan tarian dengan tidak mengunakan pedang dan perisai. Pada setiap aba-aba tersebut selain diikuti dengan suara ketukan tambor dua kali, diikuti juga dengan teriakan dari para Waraney.

Saat sudah mulai menari Tonaas Wangko akan mengeluarkan teriakan I Yayat U Santi sebanyak tiga kali, artinya angkat pedang untuk perang, lalu akan dibalas oleh para waraney denga teriakan yang penuh semangat dan mengelegar. Teriakan itu akan menumbuhkan gejolak emosi dan rasa keberanian yang tinggi terhadap para waraney. Selain itu Waraney juga akan mengeluarkan teriakan-teriakan tuama, nyaku tuama, artinya saya laki-laki. Tetapi pengertian “Tuama” dalm bahasa Minahasa bukan hanya sekadar lakai-laki melainkan seorang laki-laki yang penuh dengan keberanian, kebijaksanaan, cerdas, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan pantang menyerah.



Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak yang terdiri dari:

1. Cakalele
Yang berasal dari kata saka yang artinya berlaga, dan lele artinya berkejaran melompat lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang, babak ini menunjukkan keganasan berperang mereka pada tamu agung, serta untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung, dimana mereka bisa membuat setan takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.

2. Kumoyak
Yang berasal dari kata koyak artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata koyak sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.

3. Lalaya an
Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang, dibabak ini para penari bisa berekspresi riang, dibanding dua babak sebelumnya yang mengaharuskan mereka berwajah garang tanpa senyum.



from: stanly ng.

Friday, May 8, 2015

Sejarah Klenteng Tertua “Ban Hin Kiong” di Manado

Posted by 

Klenteng-Ban-Hing-Kiong
Klenteng-Ban-Hing-Kiong
Manado, CYBERSULUTdaily.COM – Salah satu objek wisata di kota Manado yang memiliki daya magnetis, penuh nilai sejarah dan religi adalah klenteng Ban Hin Kiong, dibangun tahun 1819; merupakan klenteng tertua di kota Manado; terletak di kampung Cina.
Semula bangunan klenteng yang kini berusia 194 tahun sangat sederhana; terbuat dari kayu, berdinding papan dan dinding lainnya terbuat dari bambu. bangunannya pada tahun 1839 dilengkapi dengan rumah abu (Kong Tek Su).
Kata Klenteng bukan berasal dari bahasa Tionghoa, tetapi merupakan bunyi suatu instrumen sembahyang, yang berbentuk seperti lonceng genta, yang mengeluarkan bunyi “teng.” Dari bunyi “teng” inilah kata Klenteng (Temple) berasal.
Sedangkan Ban Hin Kiong berasal dari bahasa Tionghoa. Ban artinya banyak, Hin artinya berkat yang melimpah atau kelimpahan berkat, dan Kiong artinya istana. Jadi, Ban Hin Kiong artinya istana/rumah atau tempat ibadah yang kelimpahan banyak berkat.
Klenteng Ban Hin Kiong pada 14 Maret 1970 pernah dibakar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kemudian atas inisiatif Nyong Loho (Soei Swie Goan) sebagai ketua Klenteng dan sekaligus sebagai ketua penitia pembangunan membangunnya kembali.
Bangunan Klenteng Ban Hin Kiong telah beberapa kali mengalami renovasi, baik penambahan lantai yang semula hanya satu menjadi tiga maupun penambahan luas ruangan dan halaman.
Hampir berhadapan dengan Klenteng Ban Hin Kiong terdapat 2 (dua) Klenteng lainnya, yaitu Klenteng Kwan Kong dan Klenteng Altar Agung. Klenteng Kwan Kong berjarak sekitar 20 meter, sedangkan Klenteng Altar Agung berjarak sekitar 30 meter dan bangunannya lebih kecil dari Klenteng Ban Hin Kiong.
Setiap tahun pada bulan Februari, areal di sekitar 3 (tiga) Klenteng ini dipadati dan disesaki puluhan ribu manusia. Orang-orang tampak menyemut menyaksikan arak-arakan peserta pawai Cap Go Meh yang menampilkan berbagai atraksi memukau, yang ditampilkan setiap tahun dalam rangka hari raya Imlek.
Dapat dikunjungi setiap saat, namun waktu terbaik untuk mengunjungi klenteng yang terletak di jalan Donald Isaac Panjaitan ini adalah pada saat menjelang hari raya Imlek.
Pada saat pelaksanaan pawai Cap Go Meh, di kampung Cina terutama lokasi di sekitar 3 (tiga) Klenteng yang berdekatan berubah menjadi lautan manusia. Puluhan ribu orang datang untuk menyaksikan dari dekat prosesi Goan Siau atau Cap Go Meh, yang diikuti oleh seluruh Klenteng di kota Manado. Masing-masing Klenteng mengutus peserta festival untuk berparade di sepanjang kawasan kampung Cina. “Saya tertarik melihat atraksi Tang Sin,” kata seorang pengunjung.
Pada saat pelaksanaan festival Cap Go Meh, budaya-budaya di Minahasa juga ikut berpartisipasi. Di depan parade misalnya ditempatkan tari dan musik tradisional Minahasa seperti tari kabasaran, musik bambu, dan musik bia (kerang) ikut berbaur bersama parade etnis Cina yang tampil dengan ornamen dan pakaian khas. (***mkc)

Friday, December 27, 2013

KOLINTANG needs Recognize by UNESCO

Kolintang needs UNESCO recognition

Mon, February 25 2013 16:13 | 1425 Views


Photo document of the students Manado, North Sulawesi, played a musical instrument kolintang at the National Press Day (HPN), February 9, 2013.(ANTARA/Jessica Helena Wuysang)
 "We will propose kolintang to UNESCO..."
Related News
Jakarta (ANTARA News) - The traditional kolintang musical instrument from Minahasa district in North Sulawesi province needs to receive official recognition from UNESCO as an intangible cultural heritage like angklung from West Java.

Kolintang has been known all over Indonesia and was often brought in cultural missions to various countries in the world but it has not been as lucky as angklung which has been recognized as a world intangible heritage.

Therefore, the provincial government of North Sulawesi will propose that wooden musical instrument of kolintang to UNESCO for an official recognition.

"We will propose kolintang to UNESCO to be recognized as an intangible cultural heritage from North Sulawesi," local culture and tourism office spokesman Suprianda Ruru said in Manado recently.

Before that musical instrument is proposed to UNESCO, several preliminary activities will be held to unite a perception about kolintang.

"Various workshops, seminars, and kolintang festival have been held in Minahasa district and elsewhere to recommend kolintang into a world cultural heritage," Suprianda said.

Meanwhile, jazz musician Dwiki Dharmawan said in Jakarta over the weekend that a number of Indonesian students would perform kolintang music at the Internationale Tourismus-Bourse (ITB) Berlin in Germany, on March 6-10, 2013.

"A group of 15 Junior High School (SPP) students will play the kolintang musical instrument during the event of ITB Berlin in Germany," jazz musician Dwiki Dharmawan said here on Saturday.

The ITB Berlin is the world`s largest tourism trade fair, and the companies represented at the fair include hotels, tourist boards, tour operators, system providers, airlines and car rental companies.

Dwiki said that kolintang has a chance to be listed by UNESCO as a cultural heritage because it remains a favorite music for many people, not only in Minahasa but also in other parts of Indonesia.

"Kolintang is a typical musical instrument from Minahasa, and it continues to be maintained by the local community," Dwiki said.

He noted that there were even a lot of seminars about that particular musical instrument, and therefore the performance at ITB Berlin would raise its prestige.

North Sulawesi Governor Sinyo Sarundajang has said it was a pride of the province that the traditional kolintang musical instrument could stand alongside other modern ones.

He noted that kolintang could be played together with a variety of other musical equipment.

"North Sulawesi will even try to blends kolintang, baimboo music and Maengket dance because it is unique in its nature," Sarundajang noted.

Therefore he expressed hope that the Association of National Kolintang Artists (Pinkan) would be able to create a variety of variants that have to do with kolintang.

Meanwhile, art and cultural based creative economy director general at the Tourism and Creative Economy Ministry, Ahman Syah said that amidst technological advances, kolintang remains alive and even has a place in the Pinkan organization.

"We hope the Association of National Kolintang Artists will play its active role in preserving and developing kolintang traditional music," Ahman Syah said when opening a national seminar on kolintang music in North Minahasa late in January 2013.

The seminar was organized by Pinkan in cooperation with Manado State University and North Sulawesi culture and tourism office in an effort to maintain and preserve the national culture and arts.

At the time he expressed hope that the seminar would encourage and advance the success of kulintang music among the people of Minahasa in particular and Indonesia in general.

Originated from Minahasa, North Sulawesi, kolintang musical instrument is made of light but solid local wood whose fiber construction appears in parallel lines.

That kind of music can produce a long sound which can reach high pitch note as well as low pitch note when struck.

In its early days, Kolintang originally consisted of only a series of wooden bars placed side by side in a row on the legs of the players who would sit on the floor with both legs stretched out in front of them.

Later on, the function of the legs was replaced either by two poles of banana trunk or by a rope which hung them up to a wooden plank.

Kolintang had a close relationship with the traditional belief of Minahasa natives which was usually played in ancestor worshiping rituals.

That traditional musical instrument was nearly left behind for about 100 years since Christianity came to Minahasa, but in World War II a blind musician, Nelwan Katuuk, reconstructed it accordingly to universal music scales.

The spread of Kulintang has expanded across different linguistic and ethnic groupings, and thus it is time for North Sulawesi to propose it to UNESCO with a hope to be declared as a world intangible heritage. (*)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2013

Thursday, October 3, 2013

Kota Bitung


Bitung - Kota Cakalang


Monumen Cakalang Bitung
Kota Bitung 
berjarak 45 kilometer dari Manado –terletak di Timur Laut Tanah Minahasa, dengan wilayah yang terdiri dari daratan –berada di kaki gunung Duasudara dan sebuah pulau yang bernama Lembeh. Memang, Bitung kota pelabuhan yang bersuhu panas. Namun demikian, beberapa kali kota ini menyabetAdipura atas kebersihan dan tata kota yang baik. Banyak penduduk Kota Bitung yang berasal dari suku Sangir, sehingga kebudayaan yang ada di Bitung tidak terlepas dari kebudayaan yang ada di wilayah Nusa Utara tersebut. Kota Bitung berada pada posisi geografis di antara: 1o23'23"-1o35'39" Lintang Utara dan 125o1'43"-125o18'13" Bujur Timur dengan luas wilayah daratan 304 km2. Kota Bitung disebut juga sebagai Kota Cakalang –ikan cakalang; tenggiri; tongkol dan ikan kembung merupakan keluarga dari ikan tuna atau Kota Tiga Dimensi –merupakan pusat industri, pusat pelabuhan dan juga kota wisata.
Batas wilayah Kota Bitung:
Sebelah Barat: dengan Kabupaten Minahasa Utara
Sebelah Timur: dengan Laut Maluku
Sebelah Utara: dengan Kabupaten Minahasa Utara
Sebelah Selatan: dengan Laut Maluku
Wilayah Kota Bitung terbagi dalam 8 kecamatan, yaitu: Kecamatan Aertembaga; Kecamatan Girian; Kecamatan Lembeh Selatan; Kecamatan Lembeh Utara; Kecamatan Madidir; Kecamatan Maesa; Kecamatan Matuari; dan Kecamatan Ranowulu.
Dari aspek topografis, sebagian besar daratan Kota Bitung berombak berbukit 45,06%, bergunung 32,73%, daratan landai 4,18% dan berombak 18,03%. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat, merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0-150 –sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan, industri, perdagangan dan jasa.
.Di bagian Utara keadaan topografi semakin bergelombang dan berbukit-bukit yang merupakan kawasan pertanian, perkebunan, hutan lindung, taman margasatwa dan cagar alam. Di bagian Selatan terdapat Pulau Lembeh yang keadaan tanahnya kasar ditutupi oleh tanaman kelapa, hortikultura dan palawija. Disamping itu, memiliki pesisir pantai yang indah sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.
Sebagian besar penduduk Kota Bitung berasal dari suku Minahasa dan suku Sangihe –terdapat juga komunitas etnis Tionghoa yang besar di Bitung. Para pendatang yang berasal dari suku Jawa dan suku Gorontalo juga banyak ditemui di Bitung, dimana sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pedagang.
Sebagian besar penduduk Kota Bitung memeluk agama Kristen Protestan, penduduk Kota Bitung yang berasal dari etnis Jawa dan Gorontalo memeluk agama Islam. Agama Katolik juga banyak dianut oleh penduduk Kota Bitung, sementara agama Konghucu dan Buddha banyak dianut oleh penduduk yang berasal dari etnis Tionghoa.
Miniatur Menara Eiffel di jantung Kota Bitung
Bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat Kota Bitung adalah bahasa Manado sebagai bahasa ibu dari sebagian besar penduduk Kota Bitung. Sementara itu, bahasa Sangihe digunakan oleh masyarakat suku Sangir yang ada di Kota Bitung.
Kebudayaan yang ada di Kota Bitung banyak dipengaruhi oleh budaya Sangihe dan Talaud –karena banyaknya penduduk yang berasal dari etnis Sangir. Contoh dari budaya Sangir dan Talaud yang ada di Bitung yaitu: Masamper –merupakan gabungan antara nyanyian dan sedikit tarian yang berisi tentang: nasihat, petuah, dan juga kata-kata pujian kepada Tuhan. Budaya Sangir lainnya yang bisa ditemui di Bitung yaitu: Tulude/Menulude. Tulude berasal dari kata Suhude yang berarti: Tolak. Maksud acara adat Menulude ialah memuji Duata/Ruata (Tuhan), serta mengucap syukur atas perlindungan-Nya.
Peta Kota Bitung, Sulawesi Utara
Perekonomian Kota Bitung di dominasi oleh sektor pertanian dan perkebunan. Namun dalam perkembangannya sektor industri ternyata berkembang cukup pesat dan mencapai nilai tertinggi –industri di Kota Bitung di dominasi oleh: industri perikanan, galangan kapal dan industri minyak kelapa. Bertumbuhnya sektor industri sangat membantu perekonomian dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk –terutama dengan terserapnya tenaga kerja, begitu pula dari sisi permodalan dimana peningkatan jumlah perusahaan diikuti pula dengan peningkatan nilai investasi.
Pada Tahun 2004 sektor angkutan/transportasi dan komunikasi memberikan kontribusi paling besar dalam perekonomian di Kota Bitung. Sebagai kota pelabuhan, sarana transportasi di Kota Bitung cukup memadai. Transportasi laut menghubungkan daerah daratan dengan Pulau Lembeh. Pelabuhan Bitung terdiri dari pelabuhan penumpang dan pelabuhan peti kemas. Pelabuhan Bitung merupakan satu-satunya pelabuhan di Sulawesi Utara yang disinggahi dan dilabuhi oleh kapal-kapal penumpang antar kota-kota besar di Indonesia. Sarana tranportasi darat yang ada di Kota Bitung adalah mikrolet –sebagai angkutan perkotaan dan bus –sebagai angkutan antarkota, seperti: bus trayek Bitung-Manado, Bitung-Tondano, Bitung-Gorontalo, Bitung-Tolitoli dan Bitung-Palu.Disamping itu juga, ada industri makanan; baja; serta industri menengah dan kecil.

Asal Nama Bitung
Bitung diambil dari nama sebuah pohon –pohon Witung yang banyak tumbuh di daerah utara Jazirah Pulau Sulawesi. Penduduk yang pertama yang memberikan nama Bitung adalah Dotu Hermanus Sompotan (Nicodemus Sompotan) yang dalam bahasa daerah disebut dengan gelar Tundu'an atau pemimpin. Dotu Hermanus Sompotan tidak sendirian tetapi pada saat itu dia datang bersama dengan: Dotu Rotti; Dotu Wullur; Dotu Ganda; Dotu Katuuk; serta Dotu Lengkong –semuanya berasal dari Suku Minahasa, etnis Tonsea. Pengertian kata Dotu adalah orang yang dituakan atau juga bisa disebut sebagai gelar kepemimpinan pada saat itu, sama seperti penggunaan kata Datuk bagi orang-orang yang ada di Sumatera –Dotu sebenarnya hanya untuk bertugas untuk meregristrasi penduduk, dan mencatat hasil kebun milik pemerintah Belanda. Mereka dikenal dengan sebutan 6 Dotu Tumani Bitung, membuka serta menggarap daerah tersebut agar menjadi daerah yang layak untuk ditempati –timani/tumani adalah penjaga kebun/tanah yang dimiliki oleh pemerintah Belanda pada saat itu. Ke-6 Dotu Tumani Bitung tersebut berasal dari suku Minahasa, etnis Tonsea. Nicodemus Sompotan dan istrinya Sabina Lontoh yang datang ke tempat itu –disebut sebagai Dotu Tunggal Tumani Bitung, ini terjadi di tahun 1800an.
Daerah pantai yang baru ini ternyata banyak menarik minat orang untuk datang dan tinggal menetap sehingga lama kelamaan penduduk Bitung mulai bertambah. Sebelum menjadi kota, Bitung hanyalah sebuah desa yang dipimpin oleh Arklaus Sompotan (Elias Lontoh Sompotan, anak pertama Nicodemus Sompotan) sebagai Hukum Tua –Lurah pertama desa Bitung pada tahun 1921dan memimpin selama kurang lebih 25 tahun –pada saat itu, Desa Bitung termasuk dalam Kecamatan Kauditan.
Dari Sekitar tahun 1940-an, para pengusaha perikanan yang mengusahakan Laut Sulawesi tertarik dengan keberadaan Bitung dibandingkan Kema –wilayah Kabupaten Minahasa Utara sekarang yang dulunya merupakan pelabuhan perdagangan, karena menurut pandangan mereka Bitung lebih strategis dan bisa dijadikan pelabuhan pengganti Kema.
Seiring dengan perkembangan Bitung sebagai suatu kawasan yang strategis serta jumlah penduduk yang semakin bertambah dengan pesatnya maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1975 tanggal 10 April 1975, Bitung diresmikan sebagai Kota Administratif pertama di Indonesia.

Destinasi Wisata
1.      Pelabuhan Bitung
Pelabuhan Bitung merupakan pelabuhan alam terbesar di Sulawesi Utara yang menjadi tempat berlabuhnya berbagai jenis kapal –baik kapal penumpang; kapal kargo; maupun kapal nelayan, dan juga terdapat Dermaga khusus milik Angkatan Laut RI.
Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung terletak di perairan laut Selat lembeh berhadapan dengan Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik di sebelah utara pulau Sulawesi. Pengembangan Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung dicanangkan pada tanggal 18 juli 2001 oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid. Peletakan batu pertama pelaksanaan pembangunan oleh Walikota Bitung pada tanggal 16 September 2002 dengan membangunan fasilitas dermaga, gedung kantor pelabuhan, tempat pelelangan ikan, jalan, serta kios pesisir dengan lahan seluas 4,6 Ha. Ujicoba operasional pelabuhan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. DR. Rochmin Dahuri pada tanggal 10 September 2004 dan pada tanggal 10 Desember 2005 ditetapkan sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara Bitung melalui Surat Keputusan Menpan Nomor: B/2712/M.Pan/12/2005. Peningkatan status Pelabuhan Perikanan Nusantara Bitung menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung terjadi pada tanggal 6 Oktober 2008 melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.19/MEN/2008.
2.      Selat Lembeh
Selat Lembeh Bitung
Selat sepanjang 16 kilometer dengan lebar 1-2 kilometer ini memiliki 88 spot penyelaman yang tak kalah indah dibanding dengan Taman Nasional Laut Bunaken. Beraneka biota laut akan menyajikan pemandangan yang menarik –termasuk ribuan jenis ikan seperti Mimic Octopus yang hanya ada di Lembeh. Satwa laut unik seperti mimic octopus ini, bisa meniru belut ular. Juga dapat ditemui lion fish dan masih banyak lagi, menyelampun dilatari dengan pasir hitam yang berbinar dan terumbu karang yang menyatu seirama dengan kedalaman laut. Selain itu, Selat Lembeh dikenal sebagai 'muck-diving' terbaik di dunia. Perairan ini penuh dengan critter laut yang luar biasa, banyak di antaranya sangat ahli menyamar.

Taksi Perahu beratap rendah
3. Dermaga Ruko Pateten
Merupakan dermaga super sibuk untuktaksi perahu (kapal motor yang bisa disewa di Dermaga Ruko Pateten, berkapasitas sekitar 10-15 orang) menuju desa-desa yang ada di Pulau Lembeh dan juga tempat menambatkan perahu nelayan. Dermaga inilah akses menuju spot-spot penyelaman. Dermaga Ruko Pateten –yang terletak di bagian belakang kompleks Ruko Pateten adalah dermaga yang digunakan oleh para penumpang yang ingin mengunjungi tempat-tempat di sekitar Selat Lembeh, kota Bitung, Sulawesi Utara –baik untuk tujuan wisata maupun untuk tujuan lainnya.
4.      Taman Marga Satwa Tandurusa
Tam
Tarsius Tarsier Tandurusa Bitung
 an Marga Satwa Tandurusa berlokasi di Aertembaga Bitung, di taman ini dapat dijumpai primata terkecil di dunia, yakni: Tarsius –tarsius tarsiermerupakan monyet kecil dengan mata besar dan tidak pernah menutup yang hanya terdapat di Pulau Sulawesi.
 Taman Marga Satwa Tandurusa jaraknya sekitar 100 meter dari jalan utama, di tepian Selat Lembeh. Berbeda dengan jenis monyet yang lain, Tarsius adalah penganut monogami yang setia –dan konon jika yang satu meninggal, maka pasangannya tetap akan hidup sendiri sampai ia menyusul ke alam baka. Mata Tarsius yang besar dan tidak pernah menutup, namun bintik hitamnya akan membesar ketika malam tiba, membuatnya mampu melihat dengan jelas dalam kegelapan untuk mencari mangsanya, yang berupa serangga. Tarsius memang merupakan binatang malam, yang hanya aktif pada saat hari gelap.
Taman Marga Satwa Tandurusa, Bitung Sulut.
5.      Suaka Alam Gunung Batu Angus dan Gunung Tangkoko
Kawasan Suaka Alam Batu Angus berada di Kelurahan Makawidey Kecamatan Aertembaga, sementara Gunung Tangkoko berada di wilayah Kelurahan Batu Putih, Kecamatan Ranowulu. Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus adalah cagar alam di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Cagar alam seluas sekitar 8.745 hektare ini merupakan tempat perlindungan monyet hitam sulawesi dan Tarsius. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Batuputih dan Taman Wisata Alam Batuangus. Secara geografis, cagar alam ini berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Duasudara. Kawasan cagar alam ini dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara.
Tarsius, Bitung.
Kehidupan satwa liar di kawasan Tangkoko sudah diketahui secara luas dan dikunjungi oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1861. Di Tangkoko, Wallace mengumpulkan spesimen Babirusa dan Maleo yang waktu itu sangat mudah dijumpai. Ketika itu, pasir hitam di pantai Tangkoko merupakan tempat bersarang dan penetasan telur Maleo. Akibat eksploitasi oleh penduduk setempat, koloni Maleo di pantai Tangkoko tidak lagi ditemukan pada tahun 1915, dan hanya tersisa sejumlah kecil koloni di pedalaman. Kawasan Tangkoko pertama kali ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sebagai hutan lindung pada tahun 1919 berdasarkan GB 21/2/1919 stbl. 90, dan diperluas pada tahun 1978 dengan ditetapkannya Cagar Alam Duasudara (4.299 hektare) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 700/Kpts/Um/11/78. Pada 24 Desember 1981, Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1049/Kpts/Um/12/81 menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus. Surat keputusan yang sama menetapkan kawasan seluas 615 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Kelurahan Batuputih sebagai Taman Wisata Batuputih, dan kawasan seluas 635 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian sebagai Taman Wisata Alam Batuangus.
Monyet Hitam, Bitung Sulut.
Cagar Alam Tangkoko merupakan benteng terakhir bagi Populasi monyet endemik Sulawesi yang nama latinnya Macaca Nigra atau dikenal dengan Yaki Panta Merah (monyet jambul hitam).
 Yaki (macaca nigra) dikenal merupakan binatang penyebar biji yang baik –sebagai ‘petani’ dalam hutan, Yaki menjadi salah satu kunci ekologi dari suatu ekosistem. Yaki juga merupakan ‘flagship’ penting sebagai perwakilan dari keanekaragaman hayati daerah Sulawesi.













6.      Monumen Trikora Mandala Sakti
Monumen TMS dengan latar depan sayap Pesawat DC-3 Bitung
Monumen Trikora Mandala Sakti terletak di Batu Lubang –tepian Pulau Lembehmerupakan monumen sejarah Perang Dunia II. Terlihat dengan sangat jelas dari daratan Bitung seakan menyampaikan ucapan selamat datang di Pulau Lembeh –ini karena Selat Lembeh yang panjangnya 16 km dan memisahkan kota Bitung dengan Pulau Lembeh ini hanya selebar 1-2 km, dan jarak dari Pelabuhan Bitung ke Pulau Lembeh ini merupakan salah satu lokasi dengan jarak yang terpendek.
7.      Lokasi Perang Dunia II
Berupa lokasi karamnya kapal sewaktu Perang Dunia II –sangat tepat untuk penyelaman, berada di dua lokasi yakni: di bawah laut Kelurahan Mawali Lembeh Utara dan di bawah Laut depan Bimoli Kecamatan Madidir. Mawali merupakan salah satu desa yang memiliki reputasi internasional ketika menerima penghargaan dari WHO –atas rintisan secara swadaya program yang menjadi cikal-bakal Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) di Indonesia. Kelurahan ini juga merupakan salah satu tujuan wisata selam dengan beberapa cottage dan titik penyelaman seperti Mawali Wreck.
8.      Gunung Duasudara
Gunung kembar yang berada di Kecamatan Ranowulu (12 Km Dari Pusat Kota Bitung) ini sangat tepat bagi penyuka wisata alam tracking dan hiking. Gunung Duasudara (1.351 meter dpl)
9.      Airprang
Airprang berada di Kelurahan Makawidey, Aertembaga –merupakan sumber air bersih bagi penduduk di sekitar Pulau Lembeh dengan formasi 300 lebih anak tangga.
10.  Pantai-pantai yang indah dengan Pasir Putih
Terdapat beberapa pantai indah dengan pasir putihnya, di antaranya: Pantai Millenium, Pantai Batu Putih, Pantai Langi, Pantai Tanjung Merah, Pantai Pasir Panjang, Teluk Kasuari, Teluk Kungkungan dan Teluk Walenekoko.

Penulis:  Ai Riana, A.Ks.

Kota Tondano

Kota Tondano merupakan ibukota Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Kota Tondano meliputi empat dari 19 kecamatan yang ada di Kab...